Ajarkan anak kita BERKUDA !!!

2 Komentar

Prolog
Menunggangi kuda agar dapat bergerak sesuai dengan keinginan penunggangnya memerlukan teknik khusus, tidak hanya sekedar menarik kekang dan menghentakkan kaki ke tubuh kuda, diperlukan proporsi yang tepat dalam memberikan stimulus kepada kuda, mengerti kondisi fisik dan “psikis” kuda. Selain itu, sebaiknya memahami perawatan kuda, dari makanan sampai kepada kebersihan kuda. Semua itu perlu dipelajari agar performance kuda dapat maksimal saat ditunggangi.

Ajarkan anak kita berkuda.
Mengapa? Karena dengan mengajarkan anak kita berkuda berarti kita tengah mengajarkan anak kita tentang keberanian (positif), team work, kepemimpinan, kesabaran, kepedulian, keterampilan, dan masih banyak lagi hal positif yang belum dieksplor oleh penulis perihal hikmah berkuda. Menurut saya saat ini (semoga dengan penambahan frekuensi berkuda bisa lebih menambah wawasan dan pengetahuan penulis), manfaat mengajarkan anak berkuda adalah sebagai berikut:

Pertama
Mengajarkan anak kita untuk berani. Tingkat keberanian tiap anak berbeda dalam menghadapi kuda, ada yang takut, biasa saja, dan ada yang sangat berani, serta ada juga yang antusias melihat namun takut menungganginya, nah anak saya hari minggu lalu termasuk dalam kategori terakhir, antusias tapi takut menunggangi. Pertama saya tawarkan untuk naik kuda Aa Zaky takut, tidak mau, namun dengan memberi pengertian dan meyakinkan dia bahwa everything is under control and gonna be OK, serta saya akan mengawal dia barulah Aa Zaky mau menunggangi kuda. Raut wajah takut masih terlihat di 20 detik pertama dia di atas kuda, saat sudah mulai jalan cukup jauh barulah Aa Zaky dapat menikmati, dan gerak tubuhnya sudah selaras dengan gerakan kuda, perlahan tapi pasti. Alhamdulillah akhirnya anakku berani juga.

Kedua
Mengajarkan anak kita tentang kerja tim (team work). Dalam berkuda ada dua pihak yang saling bekerja sama untuk sama-sama bergerak menuju suatu tempat, masing-masing pihak punya peran, saling mengisi, ada kompensasi yang mesti diberikan oleh masing-masing pihak kepada rekannya. Kerja tim, menyelaraskan gerak dengan pihak lain untuk mencapai tujuan. Pengertian dan saling mengisi. Dalam team work ada aturan yang harus ditaati jika keluar aturan bisa merugikan diri sendiri dan pihak lain, dalam berkuda ada aturan cara menunggangi yang jika tidak ditaati bisa membuat jatuh penunggang kuda.

Ketiga
Mengajarkan anak kita Kepemimpinan atau leadership. Dalam berkuda, sang penunggang adalah pemimpin yang pegang kendali, saat itu arah pergerakan dan kecepatan gerak kuda ada di bawah kendali penunggang kuda. Namun walaupun sang penunggang yang pegang kendali tetap saja tidak bisa semena-mena, salah bertindak bisa berakibat fatal, terjatuh dari kuda bahkan bisa terinjak oleh yang ditungganginya. Dengan berkuda kita mengajarkan anak kita untuk menjadi pemimpin yang tepat dalam bertindak, cerdas dan tanggap menghadapi situasi dan kondisi, pemimpin yang bijak tapi bukan yang sok bijak, peminpin yang pintar dan berani, bukan pemimpin yang sok pintar dan sok berani, pemimpin yang peduli dan tidak semena-mena kepada pihak yang berada di bawah kendalinya, bukan pemimpin yang sok peduli dan sok melindungi.

Keempat
Mengajarkan anak kita kesabaran. Adakalanya penunggang tidak nyaman dengan gerakan kuda, adakalanya kuda sulit untuk dikendalikan. Dalam kondisi ini, sang penunggang tidak bisa memaksakan kehendaknya, perlu kesabaran untuk tetap berjalan bersama kuda dalam mencapai tempat tujuan. Sadar atau tidak sesungguhnya kuda dapat merasakan emosi sang penunggangnya, jika sang penunggang tetap tenang sabar, si kuda akan cepat tenang, pun sebaliknya jika sang penunggang marah maka si kuda pun bisa marah dan ngambek.

Kelima
Mengajarkan keterampilan untuk dapat bergerak lebih efektif menuju tujuan. Dalam berkuda kita bekerja sama dengan kuda untuk mencapai tempat tujuan dalam waktu yang relatif lebih cepat, untuk mencapai tujuan lebih efektif maka diperlukan keterampilan dan sikap mental yang positif seperti yang tersebut pada point-point di atas

Keenam
……………
…………..

Ketujuh
…………..
………….

Dst

Pembaca punya pendapat lain? Silahkan tinggalkan komentar untuk menyempurnakan tulisan ini.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

arie prasetya
ayah zaky & zahra
https://beranibaca.wordpress.com

Iklan

Menyikapi cobaan dalam usaha

4 Komentar

Prolog
Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Setiap mahluk memiliki umur yang berbeda-beda, banyak hal yang mempengaruhi panjang-pendeknya umur seseorang.

Begitu pula halnya dengan sebuah usaha atau perusahaan, masing-masing memiliki rentang umur yang berbeda. Karena perusahaan itu terdiri dari kumpulan mahluk yang bernyawa dengan segala kompleksifitasnya.
Berapa banyak perusahaan yang lahir tiap harinya dan berapa banyak pula perusahaan yang mati, dari yang mati secara perlahan sampai dengan mati (bangkrut) secara mendadak seperti seseorang yang meninggal terkena serangan jantung.
Jika kita meyakini bahwa setiap mahluk pasti mengalami mati maka jangan harap usaha/perusahaan yang kita miliki bisa hidup terus dan imun dari bangkrut, tidak ada yang abadi. Namun dengan memiliki pandangan seperti itu bukan berarti kita lemah dalam mengelola usaha/perusahaan, justru dengan itu seorang pengusaha yang bijak akan semaksimal mungkin memajukan usahanya dan akan dengan ikhlas berbagi keuntungan besar yang ia dapat untuk kesejahteraan bersama, setiap personil yang terlibat dilihat sebagai aset berharga bukan hanya sekedar alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Karena pada titik tertentu, apapun usaha Anda, berapapun modal atau aset yang Anda miliki, seberapapun solidnya team kerja Anda, seberapapun canggih sistem yang Anda miliki, yakinlah suatu saat PASTI akan mengalami cobaan.
Selayaknya manusia yang memiliki 2 jenis cobaan; cobaan dengan kelebihan dan cobaan dengan kekurangan. Usaha ataupun perusahaanpun akan dicoba dengan kesulitan dan kekurangan serta akan dicoba dengan keuntungan yang berlimpah dan dengan aset yang besar. Sikap dalam menghadapi dua kondisi yang berbeda itu pun tentunya akan berbeda. Bagaimana sikap yang tepat dalam menghadapi ke dua jenis cobaan tersebut? Tentunya kita mesti kembali kepada ajaran mulia Sang Maha Pencipta.
Apapun jenis godaan yang di hadapi selayaknya rasa saling berbagi, saling menghargai, tidak tamak, tidak menimbun harta berlebihan untuk diri sendiri, adalah sikap minimal yang semestinya di miliki oleh tiap pengusaha, baik kecil maupun besar. Karena setiap yang bernyawa pasti akan mati, karena itu kualitas hidup sebelum mati semestinya menjadi prioritas dalam hidup dan menjalankan usaha.

*bersambung kapan-kapan*

Dedicated to ZAMCO…..
Wake up bro, keep believe !!!

arie prasetya
ayah zaky & zahra
https://beranibaca.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: