BBTC 2.0 Personal Version. Capture 1.

2 Komentar

BBTC 2.0 Personal Version
Be Brave To Changed 2.0 Personal Version. Capture 1

Prolog
Perubahan diri menjadi pribadi yang lebih baik (sesuai dengan standard kebenaran) memerlukan proses, cepat atau lambat bergantung pada kuatnya niat, lurusnya niat (mencari ridho Sang Khalik) dan intensitas ibadah seseorang, selain itu keberanian diri untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik sangat diperlukan, bahkan keberanian diri untuk berubah merupakan faktor penting dalam meniti perubahan.
Mengapa keberanian diperlukan dalam proses perubahan? Karena tiap perubahan senantiasa akan menghadapi cobaan dalam perjalanannya, cobaan tersebut bisa kecil bisa juga besar, cobaan bisa datang dari diri sendiri (internal) maupun dari luar diri (eksternal : orang lain dan lingkungan).

Capture 1. Berani mengakui kesalahan

Berani mengakui kesalahan adalah salah satu langkah awal menuju perubahan.
Mengakui kesalahan kita kepada Sang Khalik, Alloh Subhana Wa Ta’ala. (bertaubat)
Mengakui kesalahan kita kepada mahluk-mahluk Alloh. (Minta maaf)
Dengan keberanian mengakui kesalahan maka paradigma kita yang salah akan terkoreksi, sedikit demi sedikit mengarah pada paradigma yang baik, dengan mengakui kesalahan berarti hati dan pikiran kita tengah me”refresh” data base kebenaran yang sesungguhnya telah tertanam di dalam hati, suara hati yang menyimpan kebenaran tengah dibersihkan melalui proses taubat tersebut.

Bagaimana menurut pembaca? Silahkan memberi masukan untuk “software BBTC 2.0 Personal Version Capture 1” ini…… Dan menurut pembaca apa capture 2 nya?..
Terima kasih sudah mau membaca dan berbagi pendapat.

*bersambung*

arie prasetya
ayah zaky & zahra
https://beranibaca.wordpress.com

Iklan

Miris-ku

Tinggalkan komentar

Media massa mempunyai tanggung jawab moral yang tinggi terhadap masyarakat dan kepada Tuhan. Setiap informasi yang disampaikan akan diminta pertanggungjawabannya.
Televisi salah satu media penyebaran informasi yang sangat efektif pada masa sekarang, karena itu siapapun yang terlibat dalam pertelevisian terutama jajaran pimpinan mempunyai tanggung jawab moral yang tinggi kepada masyarakat dan kepada Tuhan.
Momentum ramadhan kali ini semestinya dapat digunakan untuk memaksimalkan pengabdian televisi kepada masyarakat dan kepada Tuhan, memang porsi siaran yang islami bertambah namun sangat miris melihat acara televisi pada saat jelang buka puasa dan sahur didominasi oleh lawakan lawakan yang kadang tidak mempunyai nilai moral positif.
Maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.
**** bersambung ****

Posted with WordPress for BlackBerry.

Lebaran

1 Komentar

Lebaran,

Sebuah istilah yang sangat populer di Indonesia, sebutan lain dari kata Hari “Perayaan” Idul Fitri, dalam kalender Hijriah bertanggal 1 Syawal.

Entah siapa yang pertama kali mempopulerkannya. Saya pernah mendengar dari seorang sesepuh betawi bahwa lebaran dipopulerkan oleh orang betawi. Begini ceritanya, dahulu kala setelah sholat Id segenap warga bersilaturahmi satu sama lain, maaf-maafan (saling memaafkan beneran lho, bukan bo’ongan) sembari berkata “lebaran (lebih lebar / pengucapannya seperti pada kata panjang x LEBAR) ya buka pintu maafnya buat gue”. Berulang-ulang kata “LEBARAN” buka pintu maafnya diucapkan oleh setiap warga hingga lama kelamaan kata “LEBARAN” menjadi populer seperti saat ini, tapi pengucapannya sudah berbeda . Saat ini pengucapan kata LE-baran (LE-nya lebih tebal), kalo dulu pengucapannya seperti pengucapan pada panjang x LEBAR x tinggi. Demikian…..

Istilah, sejauh suatu istilah dapat mewakili makna yang ingin disampaikan maka istilah tersebut lama-kelamaan akan dapat diterima oleh masyarakat dengan baik, hanya saja makna istilah tersebut semestinya senantiasa di ingatkan bagi para pengguna istilah tersebut.

Jika kita menggunakan kata Lebaran, akan lebih baik jika kita pun mampu memahaminya, hendaknya kita mampu untuk membuka lebih LEBAR pintu maaf bagi sesama, namun sejauh mana seseorang mampu membuka pintu maaf bergantung pada kualitas iman dan kebijaksanaan dirinya.

Kadang proses membuka pintu maaf tidak mudah pada sebagian orang dengan kasus tertentu, demikian yang kerap terjadi dengan diri saya. Sulit rasanya membuka pintu maaf untuk seseorang yang telah benar” mengecewakan diri, kadang hanya sebatas istighfar saja yang terucap belum mampu membuka pintu maaf yang seLEBAR-LEBARnya untuk orang tertentu. Karena itu, kita diberi kesempatan beberapa kali oleh Alloh untuk menjalani Ramadhan hingga dari waktu ke waktu kita dapat memperbaiki diri melalui proses yang berkesinambungan.

Ramadhan telah lewat, dosa masih menumpuk, bahkan membuka pintu maaf pun belum maksimal.

Ya Alloh, ampuni aku yang belum mampu maksimal membuka pintu maaf untuk orang yang telah mengecewakan hamba.

Ya Alloh, ampuni aku yang belum mampu berlapang dada kala kesempitan kau amanatkan padaku.

Ya Alloh, ampuni aku yang tidak mampu memanfaatkan Ramadhan secara maksimal untuk mendekatkan diriku pada-MU.

Ya Alloh, ampuni aku…. ampuni aku…. ampuni aku..

Anugerahkan hamba kesempatan untuk memperbaiki diri hamba,

Anugerahkan hamba kemudahan dalam memperbaiki diri menuju keridhoan-MU.

Ya Alloh, santuni hamba dengan kelembutan-Mu

Amin….

Ya Robb Al Amin.

rumah ..?? tempat tinggal..?????

1 Komentar

“Alhamdulillah… akhirnya nyampe juga di rumah, uuhhh senangnya”, kalimat tersebut kadang terlontar jika kita begitu lelah dari bepergian atau pulang dari bekerja. Namun terkadang jika keadaan rumah sedang tidak “kondusif” , berlama-lama di kantor, mampir ke rumah teman atau ke masjid atau mampir ke tempat lain adalah alternatif-alternatif yang jadi pilihan sebagai tempat menghilangkan penat. Mana yang sering kita alami?. Masing-masing orang akan mempunyai jawaban yang berbeda bahkan ada juga yang tidak memperdulikannya.

Secara fisik, bangunan yang terdiri dari beberapa bagian dengan fungsi yang berbeda di mana sebuah keluarga atau kelompok menetap di dalamnya di sebut rumah, termasuk yang tidak ditempati oleh siapapun dikarenakan beberapa hal.

Setiap rumah memiliki “jiwa”. Jiwanya pun berbeda-beda tergantung siapa dan bagaimana “kualitas jiwa” penghuninya. Memang ada sebagian orang yang percaya faktor fisik rumah (temperatur, rancang bangunan, posisi, dll) sangat berpengaruh pada “jiwa” rumah. Namun saya berpendapat faktor manusianyalah yang paling menentukan keadaan “jiwa” dari sebuah rumah, memang faktor fisik rumah mempunyai pengaruh namun bukanlah faktor yang utama.

Menurut pendapat saya saat ini, idealnya sebuah rumah merupakan tempat tinggal. Antara rumah dan tempat tinggal menurut yang ada di kepala saya mempunyai makna yang sangat jauh berbeda. Rumah adalah fisik bangunan sedangkan tempat tinggal adalah tempat di mana kita dapat merasakan kedamaian bersama orang-orang yang kita cintai, tidak masalah bentuknya seperti apa, yang penting damai hadir dalam setiap kebersamaan.

Apa saja sih yang mampu mendamaikan kita?. Jawabannya sangat normatif : segala sesuatu yang dapat meningkatkan kualitas takwa dan “kemesraan” kita kepada Alloh As Salam. 

Idealnya sih rumah bagus dengan design yang baik, sirkulasi udara menyejukkan, dan faktor-faktor kenyamanan fisik lainnya, terasa nyaman dan mampu menimbulkan kedamaian bagi yang menempatinya. Namun jika ada keterbatasan dalam bentuk fisik rumah sebaiknya gak jadi musingin kepala, berusaha saja semaksimal mungkin dalam memperbaiki kualitas diri penghuninya, jalin komunikasi yang baik antara penghuni rumah. Dengan demikian kedamaian senantiasa menyertai di setiap kebersamaan walau genteng rumah bocor sekalipun.

“Bayiti Jannati” adalah kalimat dalam bahasa Arab. Kalimat tersebut adalah sabda Rasulullah saww yang artinya “Rumahku Surgaku”. Singkat namun sarat akan makna. Jika rumah kita saat ini tak indah seperti istana namun jika kita mampu senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita, insya Alloh istana yang sesungguhnya telah tersedia untuk kita di hari nanti.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca. Tulisan ini sebenarnya merupakan harapan dan hasrat saya yang ingin memberikan nuansa kedamaian untuk orang-orang yang disayanginya di setiap kehadiran saya.

Amin.

 

“Home sweet home”

 

%d blogger menyukai ini: