ordinary

Antara Bahagia & Sarana Bahagia

Bahagia adalah senang, gembira, yang tak kenal susah, berakhir dengan baik dan gambaran lainnya yang menyenangkan. Semua orang sama dalam hal sensai rasa bahagia yang ada dalam hati, pikiran dan jiwa. Namun dalam hal sarana atau hal-hal yang dapat membahagiakan tidak semua orang sama, bergantung pada faktor lingkungan, sosial, budaya, kondisi geografis dan keyakinan masing-masing individu serta paradigma seseorang tentang arti kebahagiaan.

Kita tidak dapat mengeneralisir sarana yang dapat membahagiakan untuk semua orang apalagi dalam hal sarana yang bersifat fisik. Terkadang manusia terjebak dalam hal ini, mereka mementingkan sarana bahagia dibandingkan rasa bahagia itu sendiri yang semestinya mereka raih, dan gawatnya lagi mereka kurang tepat dalam memahami sarana bahagia, hingga pada saat mengejar sarana bahagia sang bahagia malah terlupakan. Sarana menjadi tujuan hingga tujuan itu sendiri tidak tercapai.

Kalau kita mau mensterilkan hati dan pikiran kira dari hal-hal yang gak penting amat sebenarnya meraih kebahagiaan yang durasinya lama banget itu gak susah kok, hanya saja terkadang hati dan pikiran kita telah diisi oleh informasi mengenai standard kebahagiaan (secara fisik) yang telah di over generalisir oleh berbagai macam media, hingga kita lupa akan potensi aktual yang ada dalam diri kita, dimana potensi kita itulah sebenarnya yang semestinya kita maksimalkan guna meraih kebahagiaan. Sebagai contoh, di berbagai iklan produk kecantikan digambarkan bahwa wanita cantik (sempurna) itu berkulit putih, mulus, seksi dan gambaran fisik ideal lainnya. Digambarkan dengan kecantikan fisik tersebut seorang wanita akan lebih mudah meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Padahal belum tentu. Malah faktanya tidak semua bintang iklan kecantikan tersebut mempunyai kehidupan yang bahagia dalam kehidupan nyata mereka. Contoh lain, digambarkan rumah tangga yang ideal itu memiliki rumah mewah, kendaraan pribadi dan berbagai macam fasilitas dan asuransi yang menurut “pengiklan” untuk jaminan masa depan sebuah keluarga, seolah mereka sangat tahu akan arti masa depan yang sesungguhnya. Saya sering dengan sengaja mengunjungi keluarga-keluarga sederhana dengan pekerjaan yang sederhana dan pola hidup biasa-biasa aja namun tergambar jelas mereka merasakan kebahagiaan dalam keseharian mereka.

Penjelasan ini bukan berarti saya anti pati terhadap kemapanan ekonomi (fisik), kalau memang dengan “kemewahan” Anda merasa bahagia, ya… carilah kemewahan tersebut, namun jika tanpa kemewahan tersebut Anda dapat merasa bahagia, ya sudah jangan jangan paksa diri Anda untuk meraihnya. Nikmati kehidupan Anda, hiruplah udara kebahagiaan dalam keseharian Anda. Jangan sampai Anda menelantarkan kebahagiaan Anda untuk mengejar sesuatu yang belum tentu membawa Anda pada kebahagiaan.

Jangan anggap saya anti kemapanan, jangan anggap saya menghalangi Anda untuk meraih kemapanan dalam hidup. Jangan lantas Anda bermalas-malas karena sudah merasa cukup bahagia dengan kondisi Anda sekarang. Jangan Anda lantas tak mau mengerahkan segenap kemampuan untuk meraih kemapanan materiil maupun spirituil. Jangan….. jangan…. jangan lakukan itu !!! Tetaplah Anda mengejar keberlimpahan sarana bahagia secara fisik, bahasa vulgarnya carilah uang sebanyak-banyaknya, namun saya ingin Anda senantiasa dapat menikmati setiap proses dalam pencapaian kemapanan tersebut. Nikmati prosesnya, petik hasilnya. Bahagialah saat mencari dan mendapatkannya. Singkirkan anggapan bahwa Anda baru bisa atau akan bahagia jika memiliki ……………., karena hal tersebut belum tentu membahagiakan Anda tatkala Anda memilikinya.

Menurut pendapat saya saat ini, kebahagiaan maksimal akan kita raih jika kita mau dan mampu memaksimalkan potensi yang ada pada diri kita dan mampu mencapai titik maksimal aktualisasi kemampuan diri yang berguna (menghasilkan) untuk diri sendiri, keluarga, kerabat dekat dan lingkungan kita. Tak peduli seberapa besar nilai nominal uang yang Anda hasilkan dari proses maksimalisasi potensi diri tersebut, namun jika Anda telah merasa bahagia maka BERBAHAGIALAH ANDA, jangan tunda kebahagiaan Anda. Dalam konteks ini “bahasa agamanya” adalah kita harus QANA’AH dengan pengertian ; 1) Usaha maksimal yang halal, 2) Keberhasilan memiliki hasil usaha maksimal itu, 3) Dengan suka cita menyerahkan sebagian apa yang telah dihasilkan kepada sesama karena puas dengan apa yang telah diperoleh sebelumnya.

…………………………………………………………………………….

Suatu hari ngobrol dengan tukang asongan rokok yang biasanya berkeliaran di perempatan lampu merah. “Pak, punya anak berapa?”, tanyaku iseng sembari nungguin teman. “Anak saya tiga de’, yang pertama udah SMA”, jawab bapak itu sambil duduk disampingku, senyum sembari menyeka keringat. “Udah lama pak, jualan?”, tanyaku lagi. “Waaahhh udah lama de’, dari masih bujangan!”, jawabnya santai. “Kenapa gak buka warung aja pak di rumah, kan bapak jadi gak terlalu capek kaya’ gini”, nasehatku dengan sok tahunya. “Pengennya sih gitu de’, tapi susah nabung karena untung jualan rokok udah kepake buat kebutuhan sehari-hari, lagian gini aja udah lumayan cukuplah de’, buat ngebiayain sekolah anak-anak”, jawab bapak itu dengan tenang. “Emang kalo buka warung kecil-kecilan butuh modal berapa pak?”, tanyaku iseng. “Yaaa, buat bapak sih uang tiga juta udah cukup buat buka warung, waahhh kalo ada uang segitu mah saya udah seneng banget de’….. gak perlu capek ngasong lagi, udah cukuplah buka warung di rumah kontrakan dan bisa ngumpul ama anak istri sambil nunggu warung, kan istri saya bisa jualan gorengan juga. Emang kenapa de’?…. Ade’ mau kasih modal?.. hehehehehe”, jawab si bapak tukang asong sambil becanda. “Aahhh bapak bisa aja, gak pak, saya cuma nanya doang, iseng aja. Tapi bener pak, bapak bakalan seneng banget ya kalo dapat uang tiga juta buat buka warung?’, tanyaku lagi ngebales becandain si bapak itu. “Yaaa… iyalah, kalo udah punya warung sendiri mah bapak udah tenang, bisa ngumpul sama keluarga tiap waktu….. Tapi gini aja bapak juga seneng-seneng aja de’, yang penting halal”, jawabnya dengan tenang.

Dari seberang jalan aku lihat teman yang sedang kutunggu, “Pak saya jalan dulu ya… teman saya udah ada tuh di seberang jalan, oya pak beli rokok…………. sebungkus uang kembaliannya pegang aja”, kataku sambil memberikan uang sepuluh ribuan. “Ini de’rokoknya, kembaliannya permen sama korek api aja ya, kembaliannya jangan kasih ke saya nanti untung saya kebanyakan, hehehe…..”, jawab si bapak sembari bercanda. “Makasih pak”, jawabku singkat.

Demikian cerita ini, semoga ada hikmah yang bisa dipetik berkenaan dengan tema tulisan kali ini. Antara Bahagia & Sarana Bahagia.

Mohon maaf jika kurang berkenan dan tidak sependapat dengan pembaca.

Rumah atau Tempat Tinggal

“Alhamdulillah… akhirnya nyampe juga di rumah, uuhhh senangnya”, kalimat tersebut kadang terlontar jika kita begitu lelah dari bepergian atau pulang dari bekerja. Namun terkadang jika keadaan rumah sedang tidak “kondusif” , berlama-lama di kantor, mampir ke rumah teman atau ke masjid atau mampir ke tempat lain adalah alternatif-alternatif yang jadi pilihan sebagai tempat menghilangkan penat. Mana yang sering kita alami?. Masing-masing orang akan mempunyai jawaban yang berbeda bahkan ada juga yang tidak memperdulikannya.

Secara fisik, bangunan yang terdiri dari beberapa bagian dengan fungsi yang berbeda di mana sebuah keluarga atau kelompok menetap di dalamnya di sebut rumah, termasuk yang tidak ditempati oleh siapapun dikarenakan beberapa hal.

Setiap rumah memiliki “jiwa”. Jiwanya pun berbeda-beda tergantung siapa dan bagaimana “kualitas jiwa” penghuninya. Memang ada sebagian orang yang percaya faktor fisik rumah (temperatur, rancang bangunan, posisi, dll) sangat berpengaruh pada “jiwa” rumah. Namun saya berpendapat faktor manusianyalah yang paling menentukan keadaan “jiwa” dari sebuah rumah, memang faktor fisik rumah mempunyai pengaruh namun bukanlah faktor yang utama.

Menurut pendapat saya saat ini, idealnya sebuah rumah merupakan tempat tinggal. Antara rumah dan tempat tinggal menurut yang ada di kepala saya mempunyai makna yang sangat jauh berbeda. Rumah adalah fisik bangunan sedangkan tempat tinggal adalah tempat di mana kita dapat merasakan kedamaian bersama orang-orang yang kita cintai, tidak masalah bentuknya seperti apa, yang penting damai hadir dalam setiap kebersamaan.

Apa saja sih yang mampu mendamaikan kita?. Jawabannya sangat normatif : segala sesuatu yang dapat meningkatkan kualitas takwa dan “kemesraan” kita kepada Alloh As Salam.

Idealnya sih rumah bagus dengan design yang baik, sirkulasi udara menyejukkan, dan faktor-faktor kenyamanan fisik lainnya, terasa nyaman dan mampu menimbulkan kedamaian bagi yang menempatinya. Namun jika ada keterbatasan dalam bentuk fisik rumah sebaiknya gak jadi musingin kepala, berusaha saja semaksimal mungkin dalam memperbaiki kualitas diri penghuninya, jalin komunikasi yang baik antara penghuni rumah. Dengan demikian kedamaian senantiasa menyertai di setiap kebersamaan walau genteng rumah bocor sekalipun.

“Bayiti Jannati” adalah kalimat dalam bahasa Arab. Kalimat tersebut adalah sabda Rasulullah saww yang artinya “Rumahku Surgaku”. Singkat namun sarat akan makna. Jika rumah kita saat ini tak indah seperti istana namun jika kita mampu senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita, insya Alloh istana yang sesungguhnya telah tersedia untuk kita di hari nanti.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca. Tulisan ini sebenarnya merupakan harapan dan hasrat saya yang ingin memberikan nuansa kedamaian untuk orang-orang yang disayanginya di setiap kehadiran saya.

Amin.

“Home sweet home”

Tidak Hanya Satu Peran

Suatu hari kedatangan dua orang teman, biasalah ngobrol, ngopi, dengerin musik. Dua orang teman, salah satunya sudah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak. Tiba-tiba gak tahu kenapa teman saya (yang sudah menikah) mengajukan pertanyaan yang ia tulis di sobekan kertas kecil, bunyinya,”Bagaimana caranya agar cinta saat pacaran sama dengan cinta sesudah menikah?”. Membaca tulisan itu saya kaget aja, kok tiba-tiba nanya hal kaya’ gitu. “Nih lu baca tulisan ini!”, jawabku sambil memberikan sebuah tulisan yang pernah saya buat. Dia membacanya, lumayan serius, lalu dia berkata,”Bukan, bukan ini maksudnya”. “Ooooo ya udah kalo gitu”, jawabku singkat. Pembicaraan kembali pada hal-hal ringan, karena saat itu sedang nonton NBA All Star ya udah obrolan gak jauh dari bola basket. Sore hari tiba…. Mereka pulang.

Malam hari, lagi nyantai di kamar dengerin musik tanpa sengaja nemuin kertas kecil yang bertuliskan pertanyaan teman saya tadi siang. Kepikiran juga jadinya… Terlanjur, akhirnya mikir juga deh…….. Ehhmmm bagaimana ya caranya agar kadar rasa cinta senantiasa stabil bersemayam di dalam hati???

…………………………………………………………………………………..

Selain tuntunan yang bersifat normatif dan kesamaan visi & misi dalam menjalin hubungan, sepertinya seorang laki-laki mesti pandai berimprovisasi dalam menjaga kehangatan cinta agar senantiasa indah dan mendamaikan sebuah keluarga yang tengah dibangun. Tentunya improvisasi yang menghasilkan harmoni indah bersandar pada tuntunan keyakinan. Singkatnya improvisasi yang positif. Setiap orang mempunyai improvisasi yang berbeda-beda.

“I’ll be your daddy, your brother, your lover and your little boy” adalah salah satu judul lagu group musik rock favorit saya, MR BIG. Terlepas siapa dan bagaimana karakter personil MR BIG saya telah terinspirasi oleh judul lagunya untuk menjawab pertanyaan teman saya.

“Bagaimana caranya agar rasa cinta pada saat awal hubungan sama dengan rasa cinta setelah menikah”.

Menurut saya seorang lelaki sebaiknya mampu memerankan “peran” yang tepat dalam setiap situasi dan kondisi yang berbeda. Tidak bijak jika hanya satu pola sikap atau peran yang ia “mainkan”. Sikapnya pada pasangan yang ia cintai akan lebih baik jika disesuaikan dengan kondisi psikologis atau sikap sang istri.

Misalkan jika istri sedang datang ngambeknya, timbul sifat kekanak-kanakannya dan berbuat kesalahan maka sang suami lebih baik bersikap bijaksana layaknya seorang AYAH yang tengah menghadapi anak wanitanya yang perlu di”dewasa”kan, menasehatinya dengan “nuansa kebapakan” yang bijak, mengarahkan tanpa terkesan menggurui.

Jika sang istri sedang punya masalah dengan keluarga atau kerabat terdekatnya kenapa tidak suami berperan seperti seorang KAKAK atau ADIK tempat ia curhat dan meminta dukungan dalam menghadapi masalah, bersikap seperti kakak yang siap membantu dan mendukungnya.

Jika sang istri sedang timbul manjanya, timbul “narsis”nya (narsis positif lho) ya sudah jadilah seorang KEKASIH yang mampu memanjakannya dan memujinya, menyenangkan hatinya, melambungkan angannya hingga menyentuh awan.

Jika sang istri sedang timbul “wibawa”nya, lagi “jaim” pokoknya lagi “sok dewasa dan sok berkuasa” ya sudah suami tidak perlu merasa tersaingi, biarkan saja, kenapa gak suami bersikap seperti ANAK KECIL yang nakal, yang sedang ngeledekin ibunya, udah gitu nanti istri kan marah tuh…. Jika sudah marah ya sudah minta maaf deh kalau perlu pake “nangis bo’ongan”, minta maafnya jangan formal-formal banget, ya kaya’ anak kecil minta maaf, pake bahasa-bahasa lucu nantikan istri ketawa tuh… kalo udah ketawa selanjutnya terserah deh….

Maaf jika solusinya kurang tepat, maklum aja ini kan hanya salah satu alternatif bentuk improvisasi. Lagi pula yang namanya improvisasi beda-beda dikit bahkan beda sama sekali gak apa-apa yang penting tujuannya yaitu menciptakan harmoni indah. Intinya sih jangan memainkan peran yang itu itu aja, gak lucu kan kalau istri lagi ada masalah sikap kita seperti orang yang baru jatuh cinta, merayu, muji-muji dengan pujian “basi” yang gak bisa menyelesaikan masalah. Gak lucu juga jika istri membuat kesalahan kita biarkan, malah sikap kita seperti orang yang baru jatuh cinta dengan cinta buta, bukannya menasehati malah memuji dan bersikap mesra, jika peran itu yang dimainkan kapan istri dapat memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Demikian, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika tulisan ini tidak tepat guna dan pembaca tidak sependapat dengan saya. Maaf, maaf, maafkan aku teman, hanya sebatas ini yang bisa aku berikan untuk menjawab pertanyaanmu. Ajari aku agar dapat menjadi lelaki yang baik.

Dedicated to : my drumer at Alma.

Arti Sebuah Rasa Peduli

Bayangkan suatu hari Anda tengah merasa sendiri menghadapi sebuah masalah yang lumayan mengusik kedamaian hati Anda. Bayangkan pada saat itu tidak ada satu orang pun yang menanyakan keadaan Anda apalagi menawarkan solusi dari permasalahan yang tengah Anda hadapi. Tiba-tiba Anda menerima “sms” dari seorang teman lama yang tidak Anda duga sama sekali, isi “sms” tersebut menanyakan keadaan Anda dan memberikan informasi yang dapat menyelesaikan permasalahan Anda. Perasaan apa yang akan timbul dalam hati Anda? Haru? Senang? Atau malah kesal?. Jika kejadian tersebut terjadi pada saya kemungkinan besar saya akan merasakan keharuan dan kebahagiaan walaupun belum tentu informasi tersebut dapat menyelesaikan masalah namun kepedulian yang telah diberikan teman kepada kita setidaknya memberikan setitik rasa bahagia seolah tidak lagi sendiri dalam menghadapi masalah.

Betapa besar arti sebuah rasa peduli kepada seorang teman. Setidaknya hal tersebut menunjukkan bahwa diri kita masih tersimpan dalam hatinya. Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kita memiliki jadwal untuk menjaga tali silaturahmi walaupun hanya sekedar lewat “sms”, e-mail ataupun media komunikasi lainnya.

Sepertinya akan lebih baik jika kita mempunyai budget khusus untuk menjaga dan menjalin tali silaturahmi, menumbuhkan rasa peduli di antara kerabat. Dengan itu semua diharapkan dunia akan terasa lebih nyaman di singgahi, kedamaian dan kebersamaan setidaknya mampu berlama-lama bersemayam dalam hati.

Sungguh teman, rasa peduli kita kepada teman mempunyai arti yang besar, walau hanya sekedar “sms”…. ya walau hanya sekedar lewat “sms”…

Dedicated to : Neng Alya…… Nice touch sister !

Pinjem Kaca Matanya Dong…!!!

Terperanjat sesaat setelah seorang “teman baru” menanyakan sesuatu yang menurut dia merupakan suatu masalah sedangkan menurut diriku selama ini hal tersebut bukanlah suatu masalah. Penilaian kami berbeda pada suatu “tema” yang sama. Ternyata setelah ku”pinjam” cara pandang dia (melalui “diskusi kecil”) baru kusadari bahwa cara pandang dia relatif lebih baik dibandingkan dengan cara pandang yang selama ini ada pada diriku.

Luar biasa, aku seolah berdiri di tempat yang tinggi di mana aku mampu melihat sekelilingku dengan pandangan yang lebih luas, semua sisi dapat terlihat, walau samar namun setidaknya dapat terlihat dibandingkan dengan “posisi aku berdiri” sebelumnya yang berada di tempat rendah di mana aku tidak mampu melihat sisi lain karena terbentur tembok. Dengan cara pandang “teman baru”ku, aku berada di tempat yang lebih tinggi dari tembok-tembok yang selama ini menghalangi pandanganku, hingga aku mampu melihat yang ada di balik tembok-tembok tersebut bahkan lebih luas lagi jangkauan pandanganku.

Konsekuensi dari “meminjam kaca mata” teman, aku harus meninggalkan keegoisanku, lapang dada menerima kenyataan bahwa cara pandangku selama ini kurang tepat, berterima kasih pada teman yang telah mau “meminjamkan kaca mata”nya, mencoba jalani hari-hari dengan cara pandang yang lebih bijak adalah langkah-langkah yang sebaiknya kita lakukan secara bertahap demi perbaikan kualitas diri.

Teman, jika “kaca mata”mu mampu meluaskan pandanganku, jika “kaca mata”mu dapat meningkatkan kebijaksanaan diriku, jika “kaca mata”mu dapat menghantarkan aku pada pandangan yang mendamaikan dan memuliakan diriku.

Ijinkan aku berkata,”PINJEM KACA MATANYA DONG !!!”.

Durasi Rasa Bahagia & Kecewa

Adakah orang yang sepanjang hidupnya merasakan keadaan yang selalu sesuai dengan keinginannya dan merasakan kebahagiaan selama hidupnya?

Adakah orang yang sepanjang hidupnya senantiasa mengalami kekecewaan tanpa merasakan kebahagiaan walau hanya sesaat?

Saya berharap jawaban Anda dengan saya sama, yaitu tidak ada.

Setiap orang akan mengalami bahagia dan kecewa dalam hidupnya, dua rasa ini akan datang silih berganti dengan durasi dan kualitas yang sangat bervariasi. Perbedaannya terletak pada sikap masing-masing individu dalam menyikapi dua keadaan tersebut. Kualitas sikap tiap orang berbeda dalam menyikapi kedua keadaan tersebut dan hal ini sangat berpengaruh pada durasi rasa bahagia atau kecewa yang hadir dalam kehidupannya. Percaya atau tidak, penyikapan yang baik dan tepat terhadap ke dua rasa ini dapat memperpanjang durasi rasa bahagia dan mempersingkat durasi rasa kecewa, walaupun masing-masing rasa ini telah mempunyai “jatah durasi”nya masing-masing, bahkan dengan penyikapan yang sangat bijak, di tengah kecewa yang dialami, seseorang mampu merasakan suatu kebahagiaan yang unik.

Selain perbedaan dalam menyikapi rasa bahagia dan kecewa, faktor-faktor yang menghadirkan kebahagiaan atau kekecewaan pada tiap orang pun berbeda.

Semakin dewasa & bijak seseorang maka faktor-faktor penyebabnyapun semakin berkisar pada hal-hal yang bersifat substansial dan nilai-nilai yang mulia. Sebagai contoh, anak kecil akan bahagia jika segala keinginannya dituruti walaupun mereka tidak menyadari efek negatif dari keinginannya, dan mereka akan kecewa jika keinginannya tidak terpenuhi walaupun sebenarnya hal tersebut dilakukan untuk kebaikannya. Lain halnya dengan para bijak, kebahagiaan mereka berkenaan dengan hal-hal yang bersifat spiritual dan “futuristik”, hingga walaupun nampak tak membahagiakan namun hati mereka diselimuti dengan rasa bahagia yang tak terkira, mereka akan kecewa jika melihat dirinya dan segala sesuatu di luar dirinya tidak berjalan sesuai dengan ideal yang mereka yakini namun demikian sunggingan senyum akan senantiasa nampak di wajah mereka buah dari kesabaran hati mereka. Anak kecill dan orang bijak adalah dua contoh ekstrim yang berbeda jauh. Lalu, di mana posisi kita sekarang? Apakah kita mendekati sikap anak kecil atau sikap sang bijak?. Jika Anda tidak tahu posisi Anda saat ini, tanyakan kepada orang yang paling dekat dengan Anda dan yang Anda percaya, jika hal tersebut tidak dapat Anda lakukan bertanyalah kepada anak kecil tentang diri Anda, jika inipun tidak dapat Anda lakukan, datangilah tempat ibadah, perbanyaklah ibadah dan tingkatkan kemesraan Anda dengan Alloh Ta ‘ Ala. Jika Anda benar-benar tidak tahu posisi Anda saat ini kemungkinan besar Anda tidak tahu apa arti sebenarnya dari rasa bahagia dan kecewa.

Bagaimana dengan saya? Walaaah saya lebih parah lagi, selama ini saya gak tahu, sekarang aja baru belajar bahagia. Bayangin baru belajar bahagia !!! Tapi bukan berarti tidak bahagia, saya sering bahagia hanya saja kerap salah memilih bahagia. Karena salah milih maka durasinyapun gak pernah lama, bahagia sebentar, kecewa lama, bahagia lama – bingung lama – kecewanya tambah lama lagi. Pengennya sekarang bahagia lama, gak bingung, kecewa sebentar saja terus bahagia lagi.

…………………………………………*****……………………………………………

Mau tahu gak pendapat orang bijak berkenaan dengan tema yang tengah kita bicarakan, jika kita mampu menyerapnya dengan baik Insya Alloh kita dapat memperpanjang durasi kebahagiaan dan mempersingkat durasi kekecewaan atau setidaknya mampu menyikapi kekecewaan dengan hal-hal positif. Begini nih pendapat orang bijak yang saya kutip dari buku yang pernah saya baca.

“Pakar agama, termasuk agama islam, menyatakan bahwa apa yang dinamai keburukan sebenarnya “tidak ada” atau paling tidak hanya pada pandangan nalar manusia yang sering kali memandang secara parsial. Keburukan adalah akibat keterbatasan pandangan, ia sebenarnya tidak buruk, tetapi nalar manusia mengiranya demikian. Pandangan ini menekankan bahwa keburukan bersifat nisbi. Memenjarakan seorang penjahat adalah buruk dalam pandangan si penjahat, tetapi baik dalam pandangan masyarakat. Hujan baik bagi petani namun buruk bagi penatu yang ingin mengeringkan pakaian. Demikian seterusnya, sehingga jangan memandang kebijaksanaan Alloh secara mikro, kalaupun Anda tak mampu memandangnya secara makro maka yakinlah bahwa di balik setiap yang Anda duga keburukan atau kejahatan, pasti ada hikmahnya, ada kebaikan yang lebih besar yang akan diraih”. Demikian tulisan M. Quraish Shihab dalam bukunya Menyingkap Tabir Ilahi, Bab As Salam.

Selain penjelasan di atas, ada lagi nih wejangan dari Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam bukunya yang berjudul Hijrah Paripurna, pada Bab Kuci Kebahagiaan & Kesengsaraan. Berikut saya kutip tulisannya.

“Jika Alloh Ta‘Ala menguji salah seorang hamba-Nya dengan sedikit cobaan, jika hamba tersebut mengembalikan cobaan yang dihadapinya kepada Alloh Ta’Ala, mengirimkannya kepada-Nya maka itulah sinyal kebahagiaan dan ujian tersebut menghendaki kebaikan bagi dirinya. Ujian yang berat sekalipun kendati terkesan lama, pada suatu saat ia akan berakhir. Ketika ujian tersebut telah habis masa berlakunya, maka ia meninggalkan dirinya dengan dan dirinya telah mendapat imbalan yang paling berharga, yaitu pengembalian dirinya kepada Alloh Ta’Ala setelah ia jauh dari-Nya, ia didekatkan kepada pintu AllohTa’Ala setelah sebelumnya ia dipalingkan dari pintu tersebut dan setelah sebelumnya ia menghadap pada pintu-pintu mahluk-Nya.

Sebaliknya, jika ia tidak mengembalikan ujian tersebut kepada Alloh Ta’Ala, hatinya menjauhkan dirinya dari Alloh Ta’Ala, mengembalikannya pada mahluk hingga ia dari dzikir kepada Alloh, ia tidak bisa berdoa kepada-Nya, tidak duduk merendahkan diri di hadapan-Nya, tidak bertaubat kepada-Nya dan tidak inah kepada-Nya, maka itulah sinyal kesengsaraannya dan ujian tersebut menjadi keburukan bagi dirinya. Jika ujian telah meninggalkan dirinya, ia dikembalikan kepada dominasi wataknya, kekuasaan hawa nafsunya dan kepongahannya. Ujian bagi orang seperti itu adalah bencana dan sebuah kekurangan”. Demikian pendapat Ibnu Qayim Al Jauziyyah.

Saya juga punya puisi nih, yang saya tulis di saat dulu pernah punya masalah yang lumayan mengecewakan. Puisinya gak indah malah terkesan seperti gumaman orang yang tengah menghibur dirinya sendiri. Berikut ini puisi saya yang saya beri judul Malam Memang Gelap.

Malam Memang Gelap.

Malam memang gelap,

dari dulu sampe kapanpun

yang namanya malam itu gelap

Aku gak akan bisa mendatangkan terangnya matahari

hingga aku harus menunggu

Sang mentari menampakkan diri

Nah… itu yang namanya pagi…..

Lama memang nunggu pagi datang

tapi, memang itu yang bisa kulakukan

aahhh, selagi nunggu pagi datang

aku duduk sendiri, bersihin diri

agar ada sedikit terang di hati.

Yaaa, walau malam memang gelap

Tapi setidaknya aku tidak kalap

Karena ada sedikit terang di hati

Semua itu terjadi karena aku memang belum mati

Setelah kupikir, manusia itu harus punya arti

Jadi, gak sia-sia tatkala ketemu mati

Lagi pula buat apa hidup tanpa arti

Walau gelap malam kan selalu ada

Toh habis malam itu ada pagi

Jadi…… nikmatin aja sang malam dengan perbaikan diri.

……………………………………………………………………………….

Dari semua tulisan ini, saya ingin mengingatkan diri saya (dan Anda jika mau) untuk senantiasa meningkatkan rasa syukur kehadirat Alloh Ta’Ala tatkala bahagia dianugerahkan dan hadir dalam kehidupan kita hingga DURASI BAHAGIA dapat bertahan lama mendatangi kita. Dan tatkala kekecewaan hadir “menggelitik” kehidupan kita, hendaknya kita menyadari segala kekurangan dan kesalahan kita dan mau merenungi akan kualitas kedekatan kita kepada Alloh Ta’Ala, dengan harapan DURASI KECEWA dapat kita persingkat dan kita dapat meraih hikmah dari kecewa yang dialami. Demikian harapan saya, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika saya terkesan menggurui Anda.

Mohon maaf, terima kasih.

Anomali Nyaman

Menurut kamus bahasa, anomali mempunyai arti kelainan, keganjilan, keanehan, penyimpangan dari yang biasa. Sedangkan nyaman kurang lebihnya mempunyai arti ketenangan, menyenangkan, nyenyak dan arti-arti lain yang menggambarkan suasana yang menenteramkan.

Dalam konteks tulisan ini saya mengartikan anomali nyaman sebagai keanehan rasa nyaman. Mengapa saya merasa ada keanehan? Mungkin karena keterbatasan kontemplasi yang saya lakukan hingga pada suatu titik perenungan saya mendapatkan adanya keanehan. Berdasarkan pengamatan, perenungan dan pengalaman, saya tidak dapat menggeneralisir suatu situasi maupun kondisi eksternal yang bersifat fisik maupun non fisik yang dapat menghadirkan rasa nyaman pada diri manusia secara pasti. Saya dapati adanya kompleksitas dalam hal nyaman ini.

………………………………………………………………………………………

Jika Anda bepergian, manakah cara yang paling nyaman bagi Anda, apakah jalan kaki, naik sepeda, mengendarai sepeda motor, mengendarai angkutan umum / bis / kereta / kapal laut / pesawat terbang, atau kendaraan mewah? Apakah Anda dapat memastikan bahwa mengendarai kendaraan termewah adalah cara yang paling nyaman dalam mengadakan perjalanan?

Jika Anda lelah, manakah tempat yang paling nyaman untuk beristirahat, apakah di emperan toko, pinggir jalan, di pantai, di villa dekat pegunungan, di rumah sederhana yang sempit, di masjid atau di rumah mewah yang indah bagai istana? Apakah Anda dapat memastikan bahwa rumah mewah yang indah bagai istana adalah tempat yang paling nyaman untuk istirahat?

Jika Anda diberikan uang lebih, berapakah jumlah yang paling nyaman untuk Anda, apakah seribu rupiah, sejuta rupiah, semilyar rupiah ataukah satu trilyun rupiah? Apakah Anda dapat memastikan bahwa uang lebih senilai satu trilyun rupiah adalah jumlah uang lebih yang paling membuat Anda nyaman?

Jika Anda diberikan pilihan menentukan pasangan Anda, manakah yang paling memberikan rasa nyaman, apakah yang cantik / tampan, apakah yang biasa-biasa saja, apakah yang seksi, apakah yang kurus atau gemuk? Apakah Anda dapat memastikan bahwa yang paling cantik / tampan sekaligus seksi adalah pilihan yang paling membuat Anda merasa nyaman?

Jika Anda diberi kebebasan memilih jabatan dalam suatu pekerjaan manakah yang paling nyaman, apakah sebagai office boy, supervisor, manager, atau sebagai direktur bahkan komisaris? Apakah Anda dapat memastikan bahwa posisi komisaris adalah posisi yang paling membuat Anda merasa nyaman?.

Jawaban akan beragam, tidak semua orang mempunyai jawaban yang sama. Mengapa tidak ada situasi atau kondisi eksternal yang dapat digeneralisir dalam hal menghadirkan kenyamanan? Pernahkah Anda mencoba bereksperimen mengenai rasa nyaman ini?. Saya mengajak Anda bereksperimen dalam khayalan :

“Ajaklah seorang suku baduy yang tidak pernah mengendarai kendaraan selama hidupnya, mereka dan keyakinan mereka memang men”tabu”kan mengendarai kendaraan. Anggap saja mereka mau kita ajak mengendarai sebuah mobil termewah dengan segala kecanggihan teknologinya, apa yang akan terjadi? Nyamankah orang baduy tersebut di dalam kendaraan tersebut?. Menurut pendapat saya, kemungkinan terbesar yang terjadi adalah orang baduy itu akan bingung, kikuk, serba salah, ekspresinya menunjukkan suasana hati yang sangat tidak nyaman. Bandingkan tatkala mereka berjalan kaki bersama teman-teman mereka, sunggingan senyum, tawa dan ekspresi kebahagiaan senantiasa nampak di wajah dan bahasa tubuh mereka. Sekarang sebaliknya, ajaklah berjalan kaki di siang hari yang panas, seseorang yang terbiasa kemana-mana dengan kendaraan mewah. Apa yang akan terjadi? Orang itu akan kepanasana, kecape’an, dan merasakan “siksaan” yang hebat dalam perjalanan tersebut. Kedua contoh di atas adalah contoh ekstrim dan baru sebatas faktor-faktor fisik dari kenyamanan.

Selain contoh kasus di atas, ada lagi contoh kasus mengenai kenyamanan yang berkenaan dengan faktor internal dari diri seseorang. Sebagai contoh diri saya sendiri kerap bermasalah dengan rasa nyaman ini. Umumnya saya akan merasa nyaman berada di kamar saya, berteman secangkir kopi, dengerin musik sembari baca buku, sesekali keluar ngeliat tanaman di halaman rumah, namun tatkala ada sedikit “masalah”, situasi dan kondisi yang biasanya mampu menyamankan malah tidak bisa dinikmatin sama sekali.

Masih banyak lagi derivasi kasus nyaman ini, dan dari semua kasus yang saya amati dan renungi, saya benar-benar tidak dapat mengeneralisir suatu situasi & kondisi eksternal yang dapat menghasilkan kenyamanan secara pasti.

Dari kompleksitas kenyamanan, setidaknya saya mendapati kesamaan ekspresi, kesamaan rasa dan kesamaan warna dalam sikap pada setiap orang yang tengah merasakan kenyamanan dalam dirinya. Kenyamanan adalah suatu sensasi rasa yang menyenangkan, pada keadaan ini biasanya fisik (tubuh) seseorang akan rileks, ekspresi wajah tenang, hati dan jiwa tidak terbebani oleh sesuatu, bahasa tubuh orang yang nyaman demikian enak dilihat, tenang dan menenangkan. Rasa nyaman adalah hasil dari jiwa atau hati yang tenangg, rasa nyaman akan hadir dalam keseharian kita tatkala kita mampu menyikapi semua kejadian secara proporsional dengan sikap terbaik yang bisa kita berikan, seberapapun malam yang kita habiskan untuk merenungi rasa nyaman ini tetap saja kita akan kembali kepada hal-hal yang bersifat spiritual. Dan sepertinya kiat; IKHTIAR, DOA, TAWAKAL dan DZIKRULLAH dapat menghantarkan kita pada keadaan yang senantiasa menyamankan perjalanan hidup kita menuju hari di mana kita tak berhak lagi untuk hidup di dunia ini dengan akhir yang baik, Khusnul Khatimah. Amin.

Demikian, mohon maaf jika kurang berkenan dan tidak sependapat dengan pembaca.

Antara Bahagia & Sarana Bahagia

Bahagia adalah senang, gembira, yang tak kenal susah, berakhir dengan baik dan gambaran lainnya yang menyenangkan. Semua orang sama dalam hal sensai rasa bahagia yang ada dalam hati, pikiran dan jiwa. Namun dalam hal sarana atau hal-hal yang dapat membahagiakan tidak semua orang sama, bergantung pada faktor lingkungan, sosial, budaya, kondisi geografis dan keyakinan masing-masing individu serta paradigma seseorang tentang arti kebahagiaan.

Kita tidak dapat mengeneralisir sarana yang dapat membahagiakan untuk semua orang apalagi dalam hal sarana yang bersifat fisik. Terkadang manusia terjebak dalam hal ini, mereka mementingkan sarana bahagia dibandingkan rasa bahagia itu sendiri yang semestinya mereka raih, dan gawatnya lagi mereka kurang tepat dalam memahami sarana bahagia, hingga pada saat mengejar sarana bahagia sang bahagia malah terlupakan. Sarana menjadi tujuan hingga tujuan itu sendiri tidak tercapai.

Kalau kita mau mensterilkan hati dan pikiran kira dari hal-hal yang gak penting amat sebenarnya meraih kebahagiaan yang durasinya lama banget itu gak susah kok, hanya saja terkadang hati dan pikiran kita telah diisi oleh informasi mengenai standard kebahagiaan (secara fisik) yang telah di over generalisir oleh berbagai macam media, hingga kita lupa akan potensi aktual yang ada dalam diri kita, dimana potensi kita itulah sebenarnya yang semestinya kita maksimalkan guna meraih kebahagiaan. Sebagai contoh, di berbagai iklan produk kecantikan digambarkan bahwa wanita cantik (sempurna) itu berkulit putih, mulus, seksi dan gambaran fisik ideal lainnya. Digambarkan dengan kecantikan fisik tersebut seorang wanita akan lebih mudah meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Padahal belum tentu. Malah faktanya tidak semua bintang iklan kecantikan tersebut mempunyai kehidupan yang bahagia dalam kehidupan nyata mereka. Contoh lain, digambarkan rumah tangga yang ideal itu memiliki rumah mewah, kendaraan pribadi dan berbagai macam fasilitas dan asuransi yang menurut “pengiklan” untuk jaminan masa depan sebuah keluarga, seolah mereka sangat tahu akan arti masa depan yang sesungguhnya. Saya sering dengan sengaja mengunjungi keluarga-keluarga sederhana dengan pekerjaan yang sederhana dan pola hidup biasa-biasa aja namun tergambar jelas mereka merasakan kebahagiaan dalam keseharian mereka.

Penjelasan ini bukan berarti saya anti pati terhadap kemapanan ekonomi (fisik), kalau memang dengan “kemewahan” Anda merasa bahagia, ya… carilah kemewahan tersebut, namun jika tanpa kemewahan tersebut Anda dapat merasa bahagia, ya sudah jangan jangan paksa diri Anda untuk meraihnya. Nikmati kehidupan Anda, hiruplah udara kebahagiaan dalam keseharian Anda. Jangan sampai Anda menelantarkan kebahagiaan Anda untuk mengejar sesuatu yang belum tentu membawa Anda pada kebahagiaan.

Jangan anggap saya anti kemapanan, jangan anggap saya menghalangi Anda untuk meraih kemapanan dalam hidup. Jangan lantas Anda bermalas-malas karena sudah merasa cukup bahagia dengan kondisi Anda sekarang. Jangan Anda lantas tak mau mengerahkan segenap kemampuan untuk meraih kemapanan materiil maupun spirituil. Jangan….. jangan…. jangan lakukan itu !!! Tetaplah Anda mengejar keberlimpahan sarana bahagia secara fisik, bahasa vulgarnya carilah uang sebanyak-banyaknya, namun saya ingin Anda senantiasa dapat menikmati setiap proses dalam pencapaian kemapanan tersebut. Nikmati prosesnya, petik hasilnya. Bahagialah saat mencari dan mendapatkannya. Singkirkan anggapan bahwa Anda baru bisa atau akan bahagia jika memiliki ……………., karena hal tersebut belum tentu membahagiakan Anda tatkala Anda memilikinya.

Menurut pendapat saya saat ini, kebahagiaan maksimal akan kita raih jika kita mau dan mampu memaksimalkan potensi yang ada pada diri kita dan mampu mencapai titik maksimal aktualisasi kemampuan diri yang berguna (menghasilkan) untuk diri sendiri, keluarga, kerabat dekat dan lingkungan kita. Tak peduli seberapa besar nilai nominal uang yang Anda hasilkan dari proses maksimalisasi potensi diri tersebut, namun jika Anda telah merasa bahagia maka BERBAHAGIALAH ANDA, jangan tunda kebahagiaan Anda. Dalam konteks ini “bahasa agamanya” adalah kita harus QANA’AH dengan pengertian ; 1) Usaha maksimal yang halal, 2) Keberhasilan memiliki hasil usaha maksimal itu, 3) Dengan suka cita menyerahkan sebagian apa yang telah dihasilkan kepada sesama karena puas dengan apa yang telah diperoleh sebelumnya.

…………………………………………………………………………….

Suatu hari ngobrol dengan tukang asongan rokok yang biasanya berkeliaran di perempatan lampu merah. “Pak, punya anak berapa?”, tanyaku iseng sembari nungguin teman. “Anak saya tiga de’, yang pertama udah SMA”, jawab bapak itu sambil duduk disampingku, senyum sembari menyeka keringat. “Udah lama pak, jualan?”, tanyaku lagi. “Waaahhh udah lama de’, dari masih bujangan!”, jawabnya santai. “Kenapa gak buka warung aja pak di rumah, kan bapak jadi gak terlalu capek kaya’ gini”, nasehatku dengan sok tahunya. “Pengennya sih gitu de’, tapi susah nabung karena untung jualan rokok udah kepake buat kebutuhan sehari-hari, lagian gini aja udah lumayan cukuplah de’, buat ngebiayain sekolah anak-anak”, jawab bapak itu dengan tenang. “Emang kalo buka warung kecil-kecilan butuh modal berapa pak?”, tanyaku iseng. “Yaaa, buat bapak sih uang tiga juta udah cukup buat buka warung, waahhh kalo ada uang segitu mah saya udah seneng banget de’….. gak perlu capek ngasong lagi, udah cukuplah buka warung di rumah kontrakan dan bisa ngumpul ama anak istri sambil nunggu warung, kan istri saya bisa jualan gorengan juga. Emang kenapa de’?…. Ade’ mau kasih modal?.. hehehehehe”, jawab si bapak tukang asong sambil becanda. “Aahhh bapak bisa aja, gak pak, saya cuma nanya doang, iseng aja. Tapi bener pak, bapak bakalan seneng banget ya kalo dapat uang tiga juta buat buka warung?’, tanyaku lagi ngebales becandain si bapak itu. “Yaaa… iyalah, kalo udah punya warung sendiri mah bapak udah tenang, bisa ngumpul sama keluarga tiap waktu….. Tapi gini aja bapak juga seneng-seneng aja de’, yang penting halal”, jawabnya dengan tenang.

Dari seberang jalan aku lihat teman yang sedang kutunggu, “Pak saya jalan dulu ya… teman saya udah ada tuh di seberang jalan, oya pak beli rokok…………. sebungkus uang kembaliannya pegang aja”, kataku sambil memberikan uang sepuluh ribuan. “Ini de’rokoknya, kembaliannya permen sama korek api aja ya, kembaliannya jangan kasih ke saya nanti untung saya kebanyakan, hehehe…..”, jawab si bapak sembari bercanda. “Makasih pak”, jawabku singkat.

Demikian cerita ini, semoga ada hikmah yang bisa dipetik berkenaan dengan tema tulisan kali ini. Antara Bahagia & Sarana Bahagia.

Mohon maaf jika kurang berkenan dan tidak sependapat dengan pembaca.

RESPONSIBILITY

Responsibility adalah bahasa Inggris yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai tanggung jawab. Responsibility jika diurai adalah “response – ability”. Dalam bahasa Indonesia Response artinya adalah : jawaban, balasan ; tanggapan, reaksi. Sedangkan ability artinya adalah : kecakapan, bakat, kemampuan ; ketangkasan, kesanggupan. Dari uraian tersebut saya mengartikan responsibility sebagai kecakapan, bakat, kemampuan, ketangkasan dan kesanggupan individu / kelompok / benda dalam mengolah atau menyikapi sesuatu yang berasal dari faktor internal maupun eksternal yang ada guna membuahkan hasil maksimal yang positif.

Dalam situasi dan kondisi lingkungan / masyarakat yang “sehat” response–ability mempunyai kualitas dan kuantitas yang seimbang, proporsional, tepat dan harmonis, dan (atau) response–ability yang seimbang, proporsional, tepat dan harmonis kualitas dan kuantitasnya akan menghasilkan situasi dan kondisi lingkungan / masyarakat yang “sehat” atau ideal.

Sebaliknya dalam situasi dan kondisi lingkungan / masyarakat yang tidak sehat (chaos) response–ability mempunyai kualitas dan kuantitas yang tidak seimbang dan kurang tepat, dan (atau) response–ability yang tidak seimbang dan kurang tepat akan menghasilkan situasi dan kondisi lingkungan / masyarakat yang tidak sehat (chaos).

Berhubungan dengan response–ability saya mempunyai pertanyaan yang saya tujukan untuk diri saya sendiri (dan Anda jika berkenan) ;

· Jika Anda ditawarkan suatu posisi yang mengharapkan tingkat response tinggi (misalkan level 9 pada skala 1-10) sedangkan ability Anda hanya berada pada level 6, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan menolaknya, atau menerimanya begitu saja tanpa peduli akan tingkat ability Anda yang hanya berada pada level 6? Atau Anda menerimanya diiringi dengan tekad untuk meningkatkan ability Anda secara maksimal guna mencapai level ability yang dibutuhkan?.

· Jika Anda ditawarkan suatu posisi yang mengharapkan tingkat response rendah (misal level 5) sedangkan Anda merasa memiliki ability yang berlevel 9, apa keputusan Anda? Apakah Anda akan menolaknya atau menerimanya begitu saja dengan rendah hati tanpa memperdulikan tingkat ability Anda yang semestinya memperoleh posisi yang lebih tinggi? Atau apakah Anda akan menerimanya dengan hati yang kesal dan merasa orang yang menawarkan posisi tersebut tidak menghargai Anda sebagaimana mestinya?

Setiap tipe orang akan memiliki jawaban yang berbeda. Mana atau apa jawaban yang paling tepat?. Untuk mengukur ketepatan jawaban kita, sebaiknya kita merenungi sabda Rasulullah saww berikut ini, “Jika suatu pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggu saja saat kehancurannya”, demikian kurang lebih sabda Rasulullah saww.

Tak peduli seberapa besar tinggi posisi dan kemampuan Anda saat ini, peningkatan kualitas response dan kualitas (dan kuantitas) ability sebaiknya senantiasa dilakukan. Kenalilah ability Anda, maksimalkan guna menghadapi tantangan yang ada saat ini dan di hari kemudian. Jika saat ini lingkungan Anda adalah lingkungan yang “tidak sehat” jangan lantas Anda terhanyut dan mematikan potensi ability Anda, tenang saja, tetaplah tingkatkan repsonse-ability Anda, setidaknya Anda telah berbuat baik untuk jiwa Anda sendiri, syukur-syukur orang lain dapat menirunya.

Temukan ability Anda yang sesungguhnya, berjalanlah sesuai dengannya, nikmati kepuasan, keindahan hidup bersama ability yang Anda miliki. Saat ini saya meyakini bahwa kita akan mendapatkan prestasi hidup yang sesungguhnya jika kita mampu mengenali, mengembangkan, memaksimalkan kemampuan kita yang sesungguhnya dan mengaplikasinnya dalam kehidupan sehari-hari guna meraih kemaslahatan bagi diri kita, keluarga, kerabat dekat dan lingkungan sekitar kita. Semakin banyak kemaslahatan yang Anda hasilkan, semakin berkualitas response-ability Anda.

Jika Anda mempunyai peran seorang Ayah maka Anda memiliki responsibility sebagai ayah, tingkatkan ability Anda sebagai ayah hingga mampu memberikan response terbaik untuk keluarga Anda.

Jika Anda mempunyai peran sebagai seorang ibu maka Anda memiliki responsibility sebagai ibu, tingkatkan ability Anda sebagai seorang ibu sehingga mampu memberikan response terbaik untuk keluarga Anda.

Demikian seterusnya. Mohon maaf jika kurang berkenan dan tidak sependapat dengan pembaca.

1 Komentar (+add yours?)

  1. g_smart
    Des 23, 2011 @ 09:36:03

    Hidup ini jauh lebih penting dari pada semua masalah yang kita hadapi, di atas segala kesukaran, penderitaan dan kesedihan yang kita alami. Kita juga harus menyadari bahwa segalanya itu harus terjadi dan justru menjadikan hidup kita lebih indah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: