Nyaman

Kehidupan Normal

Sering kali mendengar atau membaca kalimat “Kehidupan yang normal”. Apa yang terbayangkan jika mendengar kalimat tersebut ?. Sebagian dari kita akan membayangkan kehidupan yang “lurus” tanpa adanya masalah yang “njlimet” (bahasa Jawa yang artinya kurang lebih seperti istilah benang kusut). Terbayang “lurus”nya proses hidup ; lahir – ada orang tua yang mendampingi – sekolah – bermain – jadi dewasa – bekerja atau usaha – berkeluarga – punya anak, dan seterusnya tanpa mengalami banyak tangis dan nestapa. Walaupun ada masalah namun bukanlah masalah besar. Kehidupan normal sering diartikan hidup tanpa masalah berarti. Demikian (menurut penulis) yang ada di benak kebanyakan orang. Bahkan diri saya pun kerap “terjebak” dengan paradigma tersebut. Terkadang saya berkata, “Duuh gua lagi banyak masalah yang bikin kepala gua mau pecah, ingin rasanya ngejalanin hidup yang normal seperti orang lain”. Dengan berkata seperti itu saya telah menghakimi diri saya sendiri, tanpa saya sadari paradigma seperti itu membawa saya pada proses pelemahan mental dan merendahkan kadar kebijaksanaan diri.

Kadar kebijaksanaan…???

Maaf nih bukannya menggurui, sudah tahu belum arti bijaksana? Yang dimaksud bijaksana adalah ketepatan dalam memilih kemungkinan yang utama dari beberapa kemungkinan, juga mengharuskan penguasaan atau keahlian dalam melaksanakannya. Dari definisi bijaksana tersebut maka sangat wajar jika tingkat kebijkasanaan tiap orang berbeda-beda, bergantung pada seberapa banyak ia memiliki alternatif positif dan ketepatan dalam memilih alternatif yang paling efektif dalam hidupnya. Demikian kurang lebihnya.

Kembali ke pembicaraan “hidup normal”.

Menurut pendapat saya saat ini, yang namanya hidup normal tidak sama untuk semua orang. Saya mendefinisikan hidup normal sebagai kehidupan yang positif. Apapun yang kita alami; senang, susah, tawa, tangis dan berbagai macam perasaan lainnya jika kita mampu meningkatkan kualitas diri, mampu mengambil hikmah dari tiap kejadian yang kita alami maka kita telah menjalani kehidupan yang positif, kita telah hidup normal. Dengan definisi tersebut orang yang kehidupannya “normal” menurut pandangan orang banyak belum tentu menjalani hidup yang normal jika orang tersebut tidak mampu meningkatkan kualitas maupun kebijaksanaan dirinya. Dan orang yang nampak menjalani kehidupan “tidak normal” dalam pandangan umum (karena banyak mengalami “perubahan-perubahan iklim” yang ekstrim dalam hidupnya) belum tentu tidak menjalani kehidupan normal jika ia mampu memperbaiki kualitas dan kebijaksanaan dirinya.

Nah jika definisi POSITIF kehidupan normal tersebut kita sepakati maka mulai sekarang mari bersama-sama berkata, “Hidup saya normal”. Dengan pernyataan tersebut, dengan sikap jiwa yang positif kita menstimulus diri kita untuk senantiasa tenang dan siap dalam menghadapi berbagai macam “iklim kehidupan”. Dengan ketenangan dan kesiapan jiwa maka secara psikologis proses pencarian berbagai alternatif penyelesain masalah akan berjalan baik, semoga kita dapat tepat menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang ada. Jika sudah demikian maka kita akan senantiasa berproses untuk menjadi manusia yang bijaksana dan jika sudah jadi manusia yang bijaksana tidak perlu sesumbar, ”Woiii gue nih manusia bijaksana yang patut jadi panutan dan pimpinan kalian”. Karena menurut saya yang namanya manusia bijaksana itu tidak berbicara sekalipun orang lain sudah tahu. Lagi pula semakin kita bijak, semakin tenang dan “pendiam” diri kita.

Demikian. Jadi bagaimana..??? Sependapatkah Anda dengan saya?. Jika tidak sependapat yaaaa maafin saja, namanya juga manusia.

Langkah Berani

Pernahkah kita mengambil keputusan “ekstrim” yang tidak sejalan dengan orang-orang disekitar kita, keputusan yang tidak sesuai dengan harapan dan pemikiran orang lain pada umumnya ?. Jika pernah, apakah keputusan “ekstrim” kita itu telah kita sadari seluruh konsekuensinya? Apakah kita sudah mengantisipasi berbagai macam kemungkinan yang mungkin terjadi? Apakah kita sudah “menguasai” sepenuhnya keputusan “ekstrim” kita itu?. Jika jawabnya belum, lebih baik lakukan kajian ulang terhadap keputusan ekstrim kita. Jika jawabnya sudah, maka selamat Anda telah memasuki tahap awal menuju kesuksesan pribadi (setidaknya sukses menurut standard Anda sendiri).

Teman, kalimat-kalimat dalam paragraf di atas adalah “gumaman” hati saya yang saat ini tengah menghibur diri saya sendiri yang tengah mengambil keputusan ekstrim. Dulu sering kali saya mengambil “Si Ekstrim” ini, namun selalu saja patah di tengah jalan karena ketidakbijaksanaan saya dalam menjalaninya dan untuk kesekian kalinya saya mengambil “Si Ekstrim” ini dalam hidup.

Teman, doakan saya.

Keputusan Ekstrim : langkah berani untuk memulai dari awal sesuatu yang positif berdasarkan pada pertimbangan kebermanfaatan maksimal yang dihasilkan dari pengenalan terhadap kemampuan dan kebijaksanaan diri sendiri serta sikap istiqomah dalam menjalaninya.

BRONGGES

Brongges adalah istilah dari nenek saya yang menggambarkan suatu kondisi di mana seseorang tidak memiliki uang sama sekali. Istilah tersebut selalu terucap dari nenek saya jika beliau melihat gelagat saya (kala masih sekolah) yang mau minta uang kepada beliau karena kehabisan uang jatah dari orang tua. Karena istilah tersebut terdengar lucu di telinga saya maka’nya saya sering tertawa jika mendengar nenek saya mengucapkan kata “Brongges” di hadapan saya yang tengah kehabisan duit dan ingin meminta kepada beliau. Namun demikian beliau tidak pernah marah dan tetap memberikan saya uang secukupnya.

Peristiwa itu sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun yang lalu namun masih saja terbayang dengan sangat jelas. Setelah sekian lama berlalu nenek telah tiada. Suatu saat saya mengalami “pailit’ kehabisan “duit”, bener-bener kepepet deh, banyak pengeluaran yang wajib namun pendapatan sedikit sekali “tidak cukup”. Dalam keadaan seperti itu, datang seorang teman ngajak jalan, saya berkata kepada dia,”Wah sori gua gak bisa….. Gua lagi BRONGGES !!!”. Teman saya heran dan bertanya, “Brongges..??? Apaan tuh.???”. Saya tertawa senang melihat teman saya kebingungan.

Lalu saya ceritakan “sejarah” kata Brongges dan diapun tertawa ngakak. Semenjak itu, istilah tersebut jadi ngetrend di kalangan teman-teman dekat saya di rumah.

Luar biasa ya nenek saya… walaupun sekarang beliau telah tiada namun beliau tetap dapat menghibur di kala saya pailit kehabisan duit.

Jadi…??? Brongges..??? No Problemo. Tetap yakinkan diri bahwa rejeki itu senantiasa “ngikutin” kebutuhan kita asal jangan membutuhkan sesuatu yang sebenarnya kita tidak butuh. Bahasa kerennya….. Proporsional dalam menyikapi keinginan. Skala prioritas dalam “belanja” pemenuhan kebutuhan sebaiknya dilakukan dengan bijak, bukan karena rasa ingin memiliki.

Demikian, mohon maaf jika terkesan menggurui. Saya hanya ingin berbagi cerita.

Stagnantasi Kreativitas

Sewaktu masih sekolah atau kuliah berkumpul dengan teman-teman yang mempunyai visi dan misi yang sama biasanya terlahir satu bahkan beberapa ide kreatif, dan biasanya ide yang lahir secara spontan mempunyai tingkat orisinalitas yang tinggi. Namun tatkala masing-masing memasuki dunia kerja atau usaha, dan frekuensi pertemuan semakin berkurang, ide kreatif jarang muncul bahkan tidak muncul sama sekali. Masing-masing orang telah sibuk dengan kegiatan atau rutinitas masing-masing, dan yang paling mengenaskan pada sebagian besar orang “idealisme masa muda” hilang entah kemana ditelan oleh rutinitas sehari-hari. Hari-hari dalam hidup sepertinya sudah tertata secara permanen, bagi yang bekerja ; bangun pagi – kerja – pulang – istirahat – tidur dan seterusnya, demikian kurang lebih siklusnya. Kalaupun libur, biasanya diisi dengan istirahat di rumah atau jika waktu benar-benar senggang dan ada uang lebih pergi ke Mal atau rekreasi bersama keluarga. “Idealisme masa muda” benar-benar hilang kalaupun masih ada, optimisme untuk mewujudkannya hanya ada pada level 3 (skala 1-10).

Mengapa bisa terjadi ??? Entahlah.???

Saat inipun saya mengalami hal seperti itu. Sepertinya butuh keberanian ekstra untuk menyelaraskan “idealisme masa muda” dengan rutinitas “wajib” kita sehari-hari. Idealnya sih dua kubu tersebut dapat berjalan beriringan. Namun kalau ternyata sangat bertentangan dan tidak bisa diselaraskan maka kita akan dihadapkan pada dua pilihan. Hidup dengan rutinitas (yang pada sebagian orang) permanen dan itu-itu saja atau hidup dalam mewujudkan “idealisme masa muda” yang penuh tantangan dan warna.

Mana yang lebih baik..???

Jawaban untuk pertanyaan ini berbeda-beda bagi tiap orang, tergantung pada skala prioritas dalam hidup masing-masing individu. Dalam hal ini tidak ada keputusan yang salah atau benar, yang ada adalah sejauh mana keputusan kita dapat menghasilkan manfaat yang maksimal bagi diri kita, orang terdekat kita dan lingkungan sekitar.

Sungguh betapa bahagia seseorang yang mampu hidup dalam mewujudkan “idealisme masa muda” dan dapat memberikan hasil yang maksimal dan perubahan positif dalam prosesnya. Namun sungguh merugi orang yang hidup dalam mewujudkan “idealisme masa muda” yang negatif, idealisme yang tidak mampu mengantarkan diri pada perbaikan kualitas diri yang positif. Dan lebih rugi lagi seseorang yang sebenarnya mempunyai potensi besar yang dapat memberikan kontribusi positif yang berlimpah bagi dirinya, keluarga, kerabat dekat dan lingkungannya namun enggan bahkan takut untuk mengembangkan potensinya.

Maaf, tulisan ini hanya ingin mengingatkan agar saya dan pembaca tidak “membunuh” potensi kita dalam melahirkan ide-ide kreatif yang positif. Lahirkan dan wujudkan ide kreatif kita, syukur-syukur jika dapat menghasilkan sesuatu yang lebih untuk keluarga.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

Dedicated to :

1. my bands ; Al Farabi, Alma, Bizinks. Where are you guys..???

2. Generasi Bumi Foundation.I miss our spirit…..!!!

Titik Akhir Sebuah “Mimpi”

Apa yang paling Anda impikan dalam hidup ini?

Apakah saat ini Anda tengah dalam proses mewujudkan mimpi?

Sudahkah Anda “mendiskusikan” mimpi-mimpi Anda dengan pasangan hidup, kerabat terdekat bahkan dengan diri Anda sendiri?

Sudahkah Anda menyesusaikan mimpi Anda dengan segenap yang ada pada diri Anda?

Yakinkah Anda jika mimpi Anda terwujud dapat membawa Anda pada kebahagiaan yang sebenarnya?

Yakinkah Anda bahwa mimpi-mimpi Anda akan bermanfaat secara nyata (materiil dan spirituil) terhadap Anda dan orang-orang yang Anda cintai dan lingkungan sekitar Anda?

Jika jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah positif (Ya / sudah), maka Anda wajib menularkan mimpi-mimpi Anda kepada saya. Namun jika jawaban dari pertanyaannya di atas masih banyak yang negatif (Tidak / belum) maka mari kita bersama-sama belajar dalam bermimpi.

Apa..!!!??? Belajar dalam bermimpi???

Iya !!! Dalam segala hal yang dapat meningkatkan kualitas hidup, kita sebaiknya belajar, bahkan dalam bermimpipun akan lebih baik jika kita belajar.

Mengapa ???. Karena “mimpi” sangat berpengaruh terhadap keseharian sikap dan kegiatan seseorang dalam hidupnya. Mimpi seperti apa yang baik untuk kita?. Menurut saya sih mimpi yang proporsional. Proporsional? Iya dong, mesti proporsional, kalau terlalu tinggi gimana bisa nyampe dan kalau terlalu rendah, malas amat sih jadi orang !!!. Proporsional? Iya… kita mesti menyesesuaikan dengan kemampuan maksimal yang bisa kita lakukan, sesuaikan dengan potensi maksimal yang ada pada kita dan ingat jangan “diada-adain”, seadanya saja. Jujur dalam menilai kemampuan dan potensi kita.

Aaaahhhh…. waktu kecil kan kita disuruh menggantungkan cita-cita setinggi langit!!!. Benar, tapi perlu juga diingat bahwa langit itu berlapis-lapis, ada tujuh lapis langit! Lapisan langit pertama saja sudah tinggi banget apalagi yang ke tujuh. Jika potensi dan kemampuan kita mampu menggantungkan mimpi sampai langit ke tujuh ya lakukan, namun jika hanya sampai langit pertama ya gak masalah, toh tetap langit, dari dulu sampe kapanpun yang namanya langit itu tinggiiiiiiiii bangeeeettt…

Ingat juga, selain langit ada juga bumi yang menurut sumber terpercaya mempunyai tujuh lapisan juga. Jangan sampai tertipu dengan “nilai sebenarnya” dari sebuah mimpi. Bisa jadi mimpi yang menurut kita tinggi menyentuh langit ternyata sebenarnya tidak tinggi bahkan sangat rendah terperosok sampai ke dasar bumi.

Mimpi seperti apa sih yang tinggi menyentuh langit? Mimpi yang menyentuh langit adalah mimpi yang dapat membawa kita terbang, terbebas dari ikatan gravitasi, mimpi yang membuat kita “ringan” hingga dapat terbang melayang menyentuh langit, mimpi yang tidak membebani kita. (Bukankah rasa bahagia sering digambarkan seperti terbang melayang oleh para sastrawan). Mimpi yang tinggi adalah mimpi yang akan membawa Anda pada kebahagiaan hakiki.

Kebahagiaan hakiki? Waahhh nyerah deh… kalau mengenai definisi kebahagiaan hakiki saya kebingungan sendiri menjawabnya, selain kemampuan yang terbatas wilayah ini lebih layak dibahas oleh alim ulama yang mumpuni, alim ulama yang tawadhu, dan yang sudah jelas bukti nyata keimanan dan keilmuannya. Kalau saya hanya menjelaskan sebatas yang saya tahu dan saya tidak “memaksa” Anda untuk sepaham dengan saya dalam hal ini. Saya ingin simple dalam hidup, karena itu pemikiran saya pun simple dalam hal ini. Menurut yang saya yakini tentang ini adalah berdasarkan sabda Rasulullah saww, yaitu “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”. Dan sabda Rasulullah saww yang berbunyi,”Yang paling baik di antara kamu adalah yang paling bertakwa”.

Dari penjelasan-penjelasan saya (yang kadang gak jelas) di atas saya menyimpulkan bahwa mimpi yang tinggi (menyentuh langit berapapun) adalah mimpi yang berorientasi pada kemaslahatan diri sendiri, keluarga, kerabat dekat, dan orang lain serta lingkungan sekitar kita yang diwarnai dengan nilai-nilai takwa. Semakin banyak orang yang tersentuh dengan kemaslahatan mimpi kita maka itu berarti mimpi kita semakin tinggi.

Jadi…. mimpi menjadi orang kaya raya, punya emas tiga gunung, uang udah gak bisa dihitung lagi karena banyaknya seperti “Paman Gober(Pamannya Donald Bebek)” boleh dong? Boleh banget, asal dalam memperoleh kekayaan tersebut dilakukan dengan sikap ihsan dan setelah kita memperolehnya kita mau berbagi dengan sesama.

Jadi…. mimpi menjadi orang tenar sampai dikenal oleh orang seplanet bumi bahkan seluruh galaksi bimasakti boleh dong? Boleh banget asal ketenaran kita adalah ketenaran dalam kebaikan dan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk bisa menjadi orang yang lebih baik dan lebih bertakwa.

Jadi… mimpi menjadi penguasa pun boleh dong? Boleh banget, asal proses kita menduduki kekuasaan dilakukan dengan tingkat kebijaksanaan yang mulia dan jika telah jadi penguasa kita dapat menggunakan kekuasaan kita untuk menghantarkan orang lain pada kualitas hidup (lahir dan batin) yang lebih baik.

Lalu… jika ternyata saat ini mimpi kita tidak seperti itu gimana dong?. Tenang aja… selagi masih ada waktu walaupun tinggal sedetik kita dapat melakukan langkah yang paling awal, yaitu niatkan diri untuk bermimpi yang tinggi. Selanjutnya buat perencanaan yang efektif dalam mewujudkannya. Libatkan orang-orang terdekat kita, tentunya komunikasikan terlebih dahulu dengan komunikasi yang arif dan bijaksana.

Kenapa sih repot-repot punya mimpi yang tinggi? Yeeeeee gimana sih…. memangnya gak tahu apa bahwa setiap yang hidup pasti akan menemui mati.

Ingat !!!. Titik akhir dari semua mimpi adalah mati.

Jika saat ini kita tidak mempunyai mimpi yang tinggi….. maka bermimpilah….

Demikian mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

Teman …. Selamat bermimpi, ajak aku, libatkan aku dalam mimpi indahmu hingga nanti kita bertemu di akhir mimpi kita.

Re-definisi Kosa Kata dan Istilah

Sudahkah kita memahami pengertian atau makna dari setiap kata atau istilah yang kita ucapkan? Apakah pengertian atau pemahaman kita terhadap sebuah kata atau istilah sudah benar? Dari mana kita mengambil pengertian tersebut? Dari kamus bahasa atau pemahaman-pemahaman yang telah diberikan kepada kita melalui pendidikan formal maupun nonformal? Sejauh mana pemahaman kita terhadap suatu kata atau istilah telah mempengaruhi paradigma kita terhadap hidup dan kehidupan?.

Mari kita ambil satu contoh istilah yang telah populer di masyarakat, yaitu istilah kebutuhan pokok. Jika kita mendengar istilah kebutuhan pokok, apa yang terlintas dalam benak kita?. Bagaimana pemahaman kita terhadap istilah ini? Sebagian besar dari kita akan menjawab kebutuhan pokok adalah sandang, pangan, papan. Mengapa jawabannya seperti itu?. Seingat saya pengertian kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) saya dapat sewaktu SD atau SMP, kalau tidak salah dalam pelajaran ekonomi dan di beberapa mata pelajaran lainnya yang terkait.

Apa sih kebutuhan itu?. Menurut saya kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan seseorang atau kelompok untuk menunjang kehidupannya.

Apa sih pokok itu?. Pokok adalah wajib atau yang utama, wajib itu harus (ada), kalau tidak ada ya mesti diusahakan agar ada, demikian kurang lebih pengertiannya. (Karena saya tidak punya kamus besar bahasa Indonesia jadi maaf jika pengertiannya tidak dalam bahasa yang ilmiah).

Dari pengertian atau pemahaman tentang kebutuhan pokok yang kita dapat sewaktu SD atau SMP tersirat bahkan tersurat sangat bernuansa “jasadi” atau fisik atau material semata. Kebutuhan akan nilai-nilai mulia dalam hidup sama sekali tidak dikategorikan sebagai kebutuhan pokok. Pemahaman mengenai kebutuhan pokok pada sebagian orang demikian mendarah daging hingga mewarnai hidupnya kala dewasa. Mereka mengerahkan segenap kemampuan untuk memenuhi tiga kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan), walaupun mereka menjalankan ibadah kepada Tuhannya namun antara ibadah dan pemenuhan kebutuhan pokok adalah sesuatu yang terpisah tidak terintegrasi menjadi satu kesatuan yang utuh. Mungkin karena itu banyak tipe orang yang taat beribadah namun pola pikir atau pola kerjanya masih materialistis. Bahkan ada yang materialistis tulen, segala sesuatunya diukur berdasarkan kemapanan materi, karena mereka menganggap hal-hal tersebut adalah yang pokok, dimana keberadaannya harus ada.

Jika demikian, salahkah pemahaman kita selama ini tentang kebutuhan pokok? Jawabnya bukan salah namun kurang tepat. Menurut pendapat saya, semestinya kebutuhan pokok yang pertama adalah kebutuhan kita akan Tuhan, kebutuhan akan nilai-nilai mulia yang dapat menghantarkan kita pada pertemuan yang indah dengan Tuhan kita yang telah memberikan segenap fasilitas pemenuhan kebutuhan kita, yaitu Alloh Ta Ala. Menurut pendapat saya, jika kebutuhan mulia tersebut telah terpenuhi maka kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti sandang, pangan, papan dapat kita raih dengan kualitas yang baik, ingat kualitas yang baik adalah prioritas yang semestinya diutamakan. Bagaimana bisa seperti itu? Iya, dengan dekat kepada Alloh Ta Ala, dengan menyerap segenap nilai-nilai mulia maka diri kita akan menjadi manusia yang mampu bersikap bijak dalam setiap situasi, dengan kebijaksanaan diri maka segenap langkah akan bermakna dan menghasilkan sesuatu yang bernilai baik.

Ingatlah, diri kita bukan hanya sekedar fisik yang hidup secara biologis semata, ada jiwa di dalamnya yang perlu dipenuhi kebutuhannya. Ingatlah, tatkala fisik tak lagi mampu beraktifitas layaknya mahluk hidup, jiwa kita akan senantiasa menjalani proses menuju level selanjutnya dari siklus kehidupan. Karena itu, semestinya kebutuhan jiwa akan nilai-nilai mulia yang dapat membahagiakan dalam nuansa kedamaian senantiasa menjadi perhatian kita.

Pemahaman akan istilah kebutuhan pokok adalah salah satu dari sekian banyak istilah yang saya “gugat”. Saya berharap dari hari ke hari saya mendapatkan pemahaman-pemahaman yang dapat menghantarkan saya pada kebahagiaan yang sebenarnya hingga senyum dapat tercipta kala hari menghadap Ilahi datang pada diri ini.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

“Thanks to all of my books”.

Push To The Limit versus Ojo Ngoyo

Push to the limit, suatu istilah dalam bahasa Inggris yang sering digunakan untuk memotivasi seseorang atau kelompok agar mampu mengerahkan segenap daya upaya dalam mencapai target yang telah disepakati. Istilah ini kerap hadir dalam rapat atau pertemuan dengan rekan kerja di perusahaan atau organisasi.

Ojo ngoyo adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti “jangan memaksakan diri”. Istilah ini biasanya dilontarkan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda. Bukan untuk mematahkan semangat (walau terkadang itu yang terjadi) namun untuk mengingatkan agar bersikap proporsional dalam mencapai tujuan. Istilah ini kerap hadir dari mbah (bahasa Jawa artinya Nenek) dan ibuku tercinta jika mereka melihat diriku sudah mulai sering tidur larut karena mengerjakan sesuatu yang aku senangi.

Push to the limit & Ojo ngoyo dua istilah yang sangat berbeda. Berbeda dari segi apapun, dari tempat asalnya, artinya dan tujuan dari istilah tersebut, semua berbeda.

Push to the limit & Ojo ngoyo dua istilah berbeda yang kudapati di tempat yang berbeda pula.

Istilah mana yang lebih baik? Jawabnya tergantung pada situasi dan kondisi serta siapa yang mengatakan dan motivasi orang yang mengatakannya.

Kedua istilah tersebut jika diucapkan pada waktu dan tempat yang tidak tepat maka hasilnya menurut saya akan berantakan atau minimal akan merusak suasana.

Bayangkan jika dalam suatu pertandingan sepakbola sang pelatih berbicara pada teamnya seperti ini,”Sudahlah kalian ojo ngoyo!”. Apa yang akan terjadi?. Team mungkin aja menang mungkin kalah, namun kemungkinan terbesarnya team kaget, mental atau semangat biasa-biasa aja, jika team lawan memiliki kemampuan yang sama dengan semangat tinggi kemungkinan “team ojo ngoyo” akan kalah.

Bayangkan jika saya sudah terkantuk-kantuk, mata sudah “lima watt”, badan lemes, bener-bener butuh istirahat namun ibuku tercinta ngomong kaya’ gini,”Ayo Rie, push to the limit!”. Apa yang akan terjadi?. Kemungkinan besar yang terjadi adalah besoknya aku masuk rumah sakit, hasil gak maksimal dan bingung kenapa ibuku memberikan motivasi dengan bahasa inggris.

Kesimpulannya..??? Ya sudah seperti itu. Sepertinya perumpamaan di atas sudah jelas banget kan. Ya gak..?!

…………………………………………………………..

“Sepertinya asik nih memadukan sesuatu yang benar-benar berbeda, hasilnya bisa unik nih!”, gumamku kalo lagi iseng. “Nah, sepertinya bakalan asik juga nih memadukan “Push to the limit dan Ojo ngoyo”, siapa tahu jadi bahasa baru (English – Jawa), bisa jadi bahasa LishWa, atau EngJa atau EngWa…. ehhmmm lucu juga.. Tapi..??? gak tucu ah… gak keren sama sekali”, gumamku dalam hati.

Mau tahu yang kerennya? Yang keren itu kalau kita merasa keren, dan saya merasa keren di kala saya mampu mendinginkan isi kepala, menjaga suasana hati tetap damai dan tenang pada saat mengerahkan segenap kemampuan saya dalam mencapai sesuatu yang positif. Bahasa singkatnya adalah saya merasa keren di kala “Ojo ngoyo” pada saat “Push to the limit”.

Bahasa saya berantakan ya? Ngebingungin ya? Sama dong…. saya juga bingung dengan bahasa saya sendiri. Ya sudah lah…. yang penting keep Ojo ngoyo when you push your self to the limit.

“See you at the vertical limit my friends”

Be Your Self ?

Jadilah dirimu sendiri.

Saya ingin jadi diri saya sendiri.

Kalimat-kalimat ini bisa benar bisa juga salah tergantung pada kondisi atau kualitas diri seseorang pada saat mengatakan kalimat tersebut.

Memangnya diri kita sendiri seperti apa sih?

Memangnya kita sudah benar-benar mengenal diri kita?.

Kajian tentang pertanyaan ini saja sudah sangat “rumit” untuk dijelaskan, apalagi menjawabnya dengan jawaban yang tepat. Diperlukan seseorang yang benar-benar “ahli” untuk menjelaskannya secara tuntas. Dalam hal ini saya “menyerah”, saya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskannya secara tuntas dan tepat. Jika demikian “rumit”nya pengenalan terhadap diri kita mengapa ada sebagian orang yang begitu lugas mengatakan “Saya ingin jadi diri saya sendiri” atau “Jadilah dirimu sendiri” seolah orang tersebut sudah benar-benar mengenal dirinya yang sesungguhnya dan mengenal orang lain dengan sangat baik.

Terkadang kalimat-kalimat tersebut digunakan untuk menjustifikasi ketidakmampuan seseorang dalam memperbaiki dirinya berdasarkan standard ideal yang sesuai dengan keyakinannya. Terkadang kalimat tersebut terlontar dengan nuansa egoisme yang demikian kental. “Inilah saya, saya tidak perduli dengan komentar orang lain, saya ingin jadi diri saya sendiri!”, demikian kurang lebih kalimat yang terlontar tatkala seseorang tengah di”serang” kepribadiannya. Kalimat “Jadilah dirimu sendiri” bahkan hampir menjadi kalimat wajib di kalangan beberapa kelompok orang untuk memotivasi orang lain agar dapat menonjolkan “keunikan” masing-masing individu.

Ijinkan saya bertanya sedikit kepada orang yang telah berani mengatakan, “Saya ingin jadi diri saya sendiri!”.

Benarkah dirimu yang sekarang ini adalah “dirimu” sendiri? Tidak terpengaruh oleh karakter seseorang yang gak jelas kualitasnya?

Benarkah “dirimu” saat ini telah membawamu pada kedamaian hati?

Benarkah “dirimu” saat ini telah berjalan sesuai dengan standard yang dapat membawamu pada kebahagiaan abadi?

Benarkah “dirimu” saat ini telah sesuai dengan bisikan hati nuranimu?

Benarkah keberadaan “dirimu” saat ini telah memberikan kontribusi positif kepada kerabat dekat dan lingkungan di mana kamu tinggal?

Benarkah keberadaan dirimu tidak mengganggu keberadaan orang lain?

Menurut pendapat saya saat ini, lebih baik kita mempelajari sejarah manusia-manusia mulia yang sudah jelas kontribusinya bagi masyarakat bahkan bagi peradaban manusia.

Ada kalimat yang pernah terucap dari orang bijak, “Kenalilah dirimu maka kau akan mengenal Tuhanmu” Jika kau mengenal dirimu maka kau akan lebih dekat dengan Tuhanmu. Inilah indikator yang paling tepat – menurut saya – dalam hal menjadi diri sendiri.

Jadilah dirimu sendiri, inilah saya, saya ingin jadi diri saya sendiri dan ungkapan lainnya yang sejenis adalah ungkapan yang benar jika yang mengucapkannya dapat menjadi semakin dekat dan “mesra” dengan Tuhannya. Benar jika keadaan dirinya tengah berproses menuju ideal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Tuhannya. Salah jika ungkapan tersebut terucap dari seseorang yang tidak merasakan damai dalam hatinya, salah jika terucap dari seseorang yang tidak semakin dekat dengan Tuhannya bahkan tidak berproses untuk menjadi ideal seorang manusia sesuai dengan yang Tuhan kehendaki.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

Ya Alloh, ampuni aku atas ketidakmampuanku dalam mengenal diriku.

Ya Alloh, ampuni aku atas ketidakmampuanku mengenal keagunganMu,

Ya Alloh, ampuni aku atas ketidakmampuanku dalam mengendalikan segenap potensi yang telah Engkau anugerahkan ke arah yang Engkau ridhoi.

Forbiden Things !!!

Pernahkah kita menginginkan sesuatu yang mungkin bisa didapatkan dengan relatif mudah namun berdasarkan kaidah normatif yang kita yakini kita dilarang untuk meraihnya?. Sesuatu itu bisa berupa apa saja dan bisa berada di mana saja. Jika kita dihadapkan dengan kondisi tersebut apa yang akan kita lakukan? Apakah kita lebih mementingkan keinginan kita atau kaidah normatif yang kita yakini?. Atau mungkin kita mencoba menjustifikasi keinginan kita dengan melakukan “modifikasi” terhadap kaidah normatif sesuai dengan keinginan kita?.

Apapun profesi kita, dimanapun kita berada kemungkinan menghadapi situasi tersebut senantiasa ada. Semakin tinggi posisi yang kita duduki kondisi tersebut relatif semakin sering kita temui bahkan walaupun kita tidak menginginkannya, kita ditawarkan untuk memilikinya bahkan dalam waktu tertentu diberikan dengan cuma-cuma. Meminjam istilah yang sudah populer ; semakin tinggi pohon semakin kencang anginnya.

Idealnya sih kita mampu menepis keinginan kita dan lebih mementingkan tuntunan kaidah normatif yang kita yakini. Tidak selamanya kondisi keimanan kita stabil, tidak selamanya kita mampu berjalan di atas batu licin di tengah sungai berarus deras.

Sekali, dua kali terpeleset oke lah….. tapi kalau terpeleset terus nanti jatuh ke arus sungai yang deras, basah kuyup lupa naik ke daratan, iya kalau kepala tidak terbentur batu sungai, kalau terbentur bisa gegar otak, lupa ingatan sudah begitu tidak bisa berenang pula akhirnya mati tenggelam..

Ironisnya ada sebagian kecil kelompok manusia yang sengaja mencari sungai yang banyak air dan berarus deras, yang “basah” dan setelah mendapatkannya keenakan berlama-lama main di air layaknya anak kecil yang senang main air tanpa tahu resikonya, kedinginan, masuk angin, sakit flu lalu setelah itu ngerepotin orang tuanya deh…. nangis-nangis, disuruh minum obat gak mau, di bawa ke dokter takut dan sifat kekanak-kanakan lainnya. Sisi buruk dalam diri saya berkata,”Gimana dong menghindarinya?. Kita memang berada di sungai berarus deras dengan batu-batu licin yang bertebaran di mana-mana. Kita tidak bisa menghindar dari itu semua. Ya apa boleh buat memang sudah begitu kondisinya. Mau diapain lagi?. Nyebur aja sekalian, toh gak selamanya kita di sungai ini terus, ada waktunya kok kita naik ke daratan yang kering. Mumpung lagi di sungai kita cari air dan ikan yang banyak nanti kalau kita ke daratan lagi kan gak usah repot-repot cari air dan ikan, persediaan sudah banyak.” Ehhmmm gitu ya?! Tapi yakin air sungai bisa diminum dan baik buat kesehatan kita?. Yakin gak hanyut dengan derasnya arus sungai? I’m not sure about that !!!(wah gaya ya pake bahasa inggris segala).

Menurut pendapat saya, solusinya bukan nyebur ke sungai, solusi terbaiknya adalah gunakan alas kaki yang anti slip, cari yang berkualitas baik jadi walaupun berjalan di atas batu licin kita tidak terpeleset. Memangnya ada alas kaki yang seperti itu? Yeee ada dong… maka’nya gaul dong!. Sekarang itu sudah banyak alas kaki yang anti slip, anak-anak yang hobi naik gunung kemungkinan besar tahu. Selain alas kaki anti slip kita juga sebaiknya melatih keseimbangan tubuh maupun mental kita, jadi tidak mudah jatuh. Jika sudah begitu tidak ada alasan lagi kita menjatuhkan diri ke sungai, jangan cari-cari alasan untuk jatuh ke sungai, jangan menjustifikasi kesalahan kita.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca dan mohon maaf jika perumpamaan yang saya ketengahkan tidak tepat, saya hanya ingin kita sama-sama mampu melewati derasnya arus sungai dan licinnya bebatuan sungai dengan baik tanpa harus terpeleset dan jatuh.

Teman, selamat melewati batu-batu licin di tengah derasnya arus sungai. Jika Anda memiliki alas kaki anti slip yang berkualitas tinggi jangan lupa pinjamkan ke saya.

Terima kasih…. Good luck.

Dedicated to : “my river” . Thanks for the lesson.

2 Komentar (+add yours?)

  1. Gatot Sugianto
    Jan 23, 2015 @ 19:26:33

    Itu semua tanpa dasar ketawaan dengan Allah swt…..tidak artinya.

    Balas

    • arie prasetya
      Feb 17, 2015 @ 09:36:51

      setuju pak. niatnya untuk dekat pada Alloh. terima kasih pendapatnya

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: