Masalah?

Met baca ya…………..

SAMA tapi BEDA

Cerita di bawah ini adalah fiktif !!!

Ba’da Ashar di sebuah masjid yang teduh terlihat seorang anak muda yang menggunakan kaos oblong warna hitam yang sudah tidak lagi berwarna hitam (mendekati abu-abu karena lusuh) dan bercelana jeans yang hampir robek pada bagian lututnya, ia tengah asyik merokok, wajahnya teduh dan masih basah oleh air wudhu. Sepertinya ia baru saja selesai sholat. Paras wajahnya enak dilihat, ada jenggot dan cambang yang sengaja dibiarkan tumbuh liar.

Di tengah keasyikannya menghisap rokok ia dihampiri oleh pemuda (sebaya dengan dia) yang berpenampilan sangat rapih, berkemeja, bercelana berbahan halus, yaaa seperti orang kantoran lah, jenggot pemuda “rapih” ini tidak selebat jenggot pemuda lusuh tadi.

Sesaat diam, pemuda “rapih” ini tiba-tiba berkata pada pemuda “lusuh”. “Maaf mas, kalo di masjid tidak boleh merokok!”, pemuda rapih menegur dengan intonasi medium (gak nyampe bentak-bentak sih). “Oh maaf mas tadi habis sholat mulut saya asem banget pengen ngerokok”, jawab pemuda lusuh sambil mematikan rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu pemuda rapih kembali menasehati,”Mas lain kali kalo sholat kita sebaiknya mengenakan pakaian yang rapih dan bersih, masa’ sih menghadap Alloh pake pakaian kaya’ gini. Bukannya nasehatin nih mas, merokok itu gak baik buat kesehatan dan makruh hukumnya bahkan ada yang berpendapat haram”. “Iya mas, terima kasih atas nasehatnya”, jawab pemuda lusuh dengan sopan. “Seperti saya nih mas dari dulu gak pernah ngerokok, lagian uangnya kan bisa ditabung daripada buat beli rokok”, tambahan nasehat keluar dari mulut pemuda rapih. Sang pemuda lusuh hanya senyum dan sesekali menjawab “Iya mas” mendengar nasehat dari pemuda rapih. Di mata pemuda rapih ini, pemuda lusuh yang ia nasehati adalah sosok pemuda yang tidak ideal sama sekali jauh dari ideal yang ada di benaknya.

Sesaat diam, mereka tetap duduk berdekatan, ekspresi pemuda lusuh tenang-tenang saja sedangkan ekspresi pemuda rapih masih bersemangat untuk menasehati bahkan terkesan menghakimi pemuda lusuh.

Hening sesaat……. “Ngomong-ngomong nama mas siapa?” Nama saya Inal mas”, si pemuda lusuh berkata memecah keheningan sembari menyodorkan tangan untuk bersalaman kepada pemuda rapih. “Oh… nama saya Bukhari, ayah saya menamakan saya dengan Bukhari karena beliau kagum dengan seorang ulama ahli hadits yang bernama Imam Bukhari. Ngomong-ngomong nama kamu kok gak umum ya…. Inal??? Artinya apa ya?”, pemuda rapih menjawab pertanyaan singkat pemuda lusuh dengan jawaban yang sangat panjang disertai pertanyaan. “Gak tahu mas Inal artinya apa?”, jawab pemuda lusuh santai. “Lagi pula Inal itu nama panggilan saya aja kok”, si pemuda lusuh menambahkan jawabannya.

Belum sempat Si Inal menyebutkan nama lengkapnya Si Bukhari ini kembali menasehati Inal,”Begini Nal, nama seseorang itu sangat penting artinya dalam hidup seseorang. Jadi kalo nama kita gak bagus dan gak punya makna kita boleh kok menggantinya dengan nama yang baik dan mempunyai makna. Kita jangan terjebak dengan istilah “barat” apa artinya sebuah nama…. Nama kita harus mencerminkan aqidah kita.!!!”. Si Inal mendengarkan dengan serius sesekali menganggukkan kepala. Raut wajah Bukhari pun serius, ia bergumam dalam hati, “Hebat juga nasehat gue. Si Inal aja dalam waktu singkat sudah mulai mendengarkan nasehat-nasehat gue. Memang Si Inal ini bener-bener “berantakan” banget orangnya”

Hening sesaat………. Tiba-tiba datang seorang pemuda rapih lain yang usianya nampak lebih tua dari mereka berdua. “Asalamualaikum, pakabar Nal, pakabar Bukhari”, pemuda dewasa ini mengucapkan salam, ternyata dia kenal dengan Inal dan Bukhari. “Wa’alaikum salam”, jawab Inal dan bukhari serempak. “Kabar saya baik Bang Zul, Bang Zul sendiri gimana? Semoga Alloh senantiasa memberikan kebaikan dan hikmah kepada Bang Zul”, jawab Si Inal sembari menanyakan dan berdoa untuk Bang Zul. Sementara Bukhari hanya menjawab dengan singkat pertanyaan Bang Zul, “Alhamdulillah saya baik baik aja Bang”.

“Waahhh berkah sekali hari ini, ternyata kamu teman Inal juga ya Bukhari?”, tanya Bang Zul kepada Bukhari. “Iya Bang, saya baru aja kenal sama Inal”, jawab Bukhari. “Syukur deh. Oh ya Bukhari boleh gak abang kasih saran?”, tanya Bang Zul. “Boleh banget”, jawab Bukhari. “Kamu mesti bersyukur bisa kenal dengan Inal, karena banyak pelajaran tentang kebulatan tekad dan prestasi dalam mengubah menuju yang lebih baik yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Si Inal ini”, kalimat tersebut diucapkan Bang Zul dengan pelan namun pasti. “Nal gak apa apa kan kalo Abang menceritakan sedikit tentang kamu kepada Bukhari?” Bang Zul meminta ijin kepada Inal. “Duuhhhh… gimana ya Bang… Saya jadi gak enak nih Bang”, jawab Inal sepertinya ragu-ragu.

“Begini Bukhari, dulu Si Inal ini bengaaaaaaaal banget, jarang ada di rumah, sering mengembara ke daerah-daerah yang jauh, suka minum miras dan ngisap ganja. Tapi walaupun gitu dia gak pernah sombong dan baik hati sama semua orang. Bang Zul kenal dia dari kecil. Alhamdulillah setelah dia beranjak dewasa dia berubah. Dia telah bertekad untuk menjadi anak yang shaleh, awalnya memang dia berat sekali meninggalkan kebiasaan buruknya namun dengan kebulatan tekad ia mampu melepaskan diri dari miras dan ganja. Sekarang Abang dan Inal tengah membangun proyek sosial untuk memberikan pendidikan keahlian seperti kursus komputer, bahasa asing, dan iqra bagi anak-anak yang kurang mampu. Sekarang dia lagi mengadakan penelitian sosial tentang anak-anak “tongkrongan”, jadi untuk lebih menyelami dan lebih diterima oleh anak-anak tongkrongan dia berpenampilan seperti ini. Ya gak terlalu sulit lah buat Si Inal, kan dulunya dia juga anak tongkrongan. …… Udahan dulu ya ceritanya, nanti Abang sambung lagi, Abang mau sholat dulu nih, tadi rada macet di jalan jadi gak bisa sholat tepat waktu deh”, Bang Zul menutup pembicaraannya sambil berjalan menuju tempat wudhu. “Oh ya Nal, Bukhari, kalian sudah sholat?” tanya Bang Zul. Si Inal hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Bang Zul. Bukhari tersentak kaget. “Be…be… belum Bang”, jawab Bukhari dengan gugup. “Ya sudah, ayo kita sholat berjamaah!”, ajak Bang Zul kepada Bukhari.

“Bang maaf saya gak bisa nunggu Abang, saya mau langsung jalan”, Si Inal berkata kepada Bang Zul.”Ya udah gak apa apa Nal”, jawab Bang Zul. “Oh ya Mas Bukhari, nama lengkap saya Zayn Al Abidin Duta Pratama Aryadara…. Asalamualaikum”, Si Inal memberi tahu nama lengkapnya kepada Bukhari karena tadi ia tidak diberi kesempatan untuk memberitahukannya sembari mengucapkan salam. “Wa’alaikum salam”, jawab Bang Zul dan Bukhari serempak. Si Inal melangkah dengan tenang keluar masjid sementara Bang Zul berwudhu, Si Bukhari masih terpana melihat Si Inal yang melangkah keluar masjid.

Demikian cerita fiktif ini saya akhiri. Nyambung gak sih dengan judulnya, SAMA tapi BEDA..???

Begini, maksud dari cerita ini sebenarnya mengungkapkan fenomena yang kerap terjadi. Satu orang yang SAMA mungkin mempunyai nilai yang BEDA, tergantung pada siapa yang menilainya dan sejauh mana pengenalan orang yang menilai terhadap orang yang dinilainya.

Menurut pendapat saya saat ini, ada baiknya sebelum kita menilai orang lain lebih baik kita mau mengenalnya lebih dulu secara mendalam. Tidak perlu waktu lama sih untuk mengenal orang lain secara mendalam, yang penting menurut saya adalah ketulusan dalam berkomunikasi, dengan komunikasi yang tulus Insya Alloh kita akan dapat mengenal orang dengan baik. Lebih banyak mendengar dari pada berbicara adalah salah satu kiat yang patut dipertimbangkan.

Demikian, mohon maaf jika kurang berkenan dan tidak sependapat dengan pembaca.

Dedicated to : “teman dewasaku”.

Thanks for all wise story that you ever gave to me.

Kehidupan Normal

Sering kali mendengar atau membaca kalimat “Kehidupan yang normal”. Apa yang terbayangkan jika mendengar kalimat tersebut ?. Sebagian dari kita akan membayangkan kehidupan yang “lurus” tanpa adanya masalah yang “njlimet” (bahasa Jawa yang artinya kurang lebih seperti istilah benang kusut). Terbayang “lurus”nya proses hidup ; lahir – ada orang tua yang mendampingi – sekolah – bermain – jadi dewasa – bekerja atau usaha – berkeluarga – punya anak, dan seterusnya tanpa mengalami banyak tangis dan nestapa. Walaupun ada masalah namun bukanlah masalah besar. Kehidupan normal sering diartikan hidup tanpa masalah berarti. Demikian (menurut penulis) yang ada di benak kebanyakan orang. Bahkan diri saya pun kerap “terjebak” dengan paradigma tersebut. Terkadang saya berkata, “Duuh gua lagi banyak masalah yang bikin kepala gua mau pecah, ingin rasanya ngejalanin hidup yang normal seperti orang lain”. Dengan berkata seperti itu saya telah menghakimi diri saya sendiri, tanpa saya sadari paradigma seperti itu membawa saya pada proses pelemahan mental dan merendahkan kadar kebijaksanaan diri.

Kadar kebijaksanaan…???

Maaf nih bukannya menggurui, sudah tahu belum arti bijaksana? Yang dimaksud bijaksana adalah ketepatan dalam memilih kemungkinan yang utama dari beberapa kemungkinan, juga mengharuskan penguasaan atau keahlian dalam melaksanakannya. Dari definisi bijaksana tersebut maka sangat wajar jika tingkat kebijkasanaan tiap orang berbeda-beda, bergantung pada seberapa banyak ia memiliki alternatif positif dan ketepatan dalam memilih alternatif yang paling efektif dalam hidupnya. Demikian kurang lebihnya.

Kembali ke pembicaraan “hidup normal”.

Menurut pendapat saya saat ini, yang namanya hidup normal tidak sama untuk semua orang. Saya mendefinisikan hidup normal sebagai kehidupan yang positif. Apapun yang kita alami; senang, susah, tawa, tangis dan berbagai macam perasaan lainnya jika kita mampu meningkatkan kualitas diri, mampu mengambil hikmah dari tiap kejadian yang kita alami maka kita telah menjalani kehidupan yang positif, kita telah hidup normal. Dengan definisi tersebut orang yang kehidupannya “normal” menurut pandangan orang banyak belum tentu menjalani hidup yang normal jika orang tersebut tidak mampu meningkatkan kualitas maupun kebijaksanaan dirinya. Dan orang yang nampak menjalani kehidupan “tidak normal” dalam pandangan umum (karena banyak mengalami “perubahan-perubahan iklim” yang ekstrim dalam hidupnya) belum tentu tidak menjalani kehidupan normal jika ia mampu memperbaiki kualitas dan kebijaksanaan dirinya.

Nah jika definisi POSITIF kehidupan normal tersebut kita sepakati maka mulai sekarang mari bersama-sama berkata, “Hidup saya normal”. Dengan pernyataan tersebut, dengan sikap jiwa yang positif kita menstimulus diri kita untuk senantiasa tenang dan siap dalam menghadapi berbagai macam “iklim kehidupan”. Dengan ketenangan dan kesiapan jiwa maka secara psikologis proses pencarian berbagai alternatif penyelesain masalah akan berjalan baik, semoga kita dapat tepat menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang ada. Jika sudah demikian maka kita akan senantiasa berproses untuk menjadi manusia yang bijaksana dan jika sudah jadi manusia yang bijaksana tidak perlu sesumbar, ”Woiii gue nih manusia bijaksana yang patut jadi panutan dan pimpinan kalian”. Karena menurut saya yang namanya manusia bijaksana itu tidak berbicara sekalipun orang lain sudah tahu. Lagi pula semakin kita bijak, semakin tenang dan “pendiam” diri kita.

Demikian. Jadi bagaimana..??? Sependapatkah Anda dengan saya?. Jika tidak sependapat yaaaa maafin saja, namanya juga manusia.

Problemo ? No Problemo

“Sekali… dua kali… tiga kali… gua diemin lu masih gitu-gitu aja, gak berubah sama sekali, mau lu apa sih? Gimana sih lu jadi orang?”, kalimat ini biasanya terlontar dari orang-orang yang kesabarannya hampir atau bahkan telah habis dalam menghadapi orang yang telah mengecewakannya. Kerap terjadi hal seperti itu, kalau mau gampang dan tidak mau pusing. “Just take it or leave it”. Tetap pertahankan hubungan atau tinggalkan. Itu pilihan dangkal yang biasanya disertai dengan emosi yang masih bersarang di dalam hati. Jika hubungan akhirnya putus dikarenakan satu pihak atau lebih telah mengecewakan pihak lainnya maka semuanya berada pada posisi yang kalah. Mungkin saja itu pilihan yang tepat untuk sementara waktu. Tapi, bijakkah keputusan itu? Efektifkah keputusan itu untuk hasil atau maslahat jangka panjang?

Ada baiknya sebelum kita “menghakimi” orang lain yang telah mengecewakan kita ada proses analisa yang bertujuan untuk mengetahui kenapa orang tersebut telah mengecewakan kita. Jika ada kecewa kemungkinan terbesar adalah adanya problem. Menurut teori, problem adalah (adanya) perbedaan antara das sollen (yang seharusnya) dan das sein (yang nyata). Jika kita kaji teori problem ini maka kemungkinan ada perbedaan persepsi tentang das solllen dan das sein di antara pihak yang “mengecewakan” dan pihak yang “dikecewakan”. Jika ini yang terjadi maka perlu pembicaraan panjang antara ke dua belah pihak agar mempunyai persepsi yang sama tentang das sollen dan das sein pada peristiwa “mengecewakan” yang terjadi.

Proses tersebut sebaiknya disertai dengan nil amarah, keinginan untuk memberikan yang terbaik dan tentunya sabar dan mau mendengar, bukan saja mendengar dengan telinga tapi dengan hati. Akan lebih baik lagi jika suasana direkayasa sedemikian rupa hingga masing-masing pihak merasa nyaman. Lucu juga jika diiiringi dengan musik atau secangkir kopi atau teh (minuman favorit masing-masing pihak, asal jangan minuman keras!!!). Jika sudah nyaman, baru deh dibicarakan semuanya, dan yang perlu diingat jauhkan bensin atau zat-zat mudah terbakar lainnya, khawatir akan terbakar jika terkena “panas”nya emosi yang mungkin timbul. (Hehehe gak lucu ya..?). Demikian. Kesimpulannya jangan melakukan “pembicaraan panas” di pom bensin. Kenapa? Ya sulitlah…. kan banyak kendaraan yang mau isi bahan bakar.

Nah sekarang mari kita kaji kemungkinan-kemungkinan penyebab sesuatu yang mengecewakan terjadi dan solusi bijaknya (Bijak menurut saya jika tidak sependapat dengan pembaca maafkan saya, dan harap maklum jika solusi yang dihadirkan kurang tepat).

Kemungkinan Pertama.

Kemungkinan pertama adalah adanya satu pihak atau lebih yang tidak amanah, walau masing-masing pihak mempunyai persepsi yang sama tentang das sollen & das sein namun jika ada pihak yang tidak amanah maka akan ada pihak yang dikecewakan. Jika ini yang terjadi maka diperlukan proses penyadaran terhadap pihak yang tidak amanah dan kesabaran dari pihak yang dikecewakan. Pihak yang dikecewakan sebaiknya mau menganalisa atau setidaknya mendengar mengapa terjadi penyimpangan terhadap suatu amanah. Tentunya akan sangat lebih baik jika dilakukan tanpa amarah.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan orang tidak amanah. Mungkin ada situasi dan kondisi mendesak yang membuat seseorang tidak amanah. Mungkin keterbatasan kemampuan dan wawasan hingga orang tidak amanah. Mungkin di dalam hatinya sebenarnya tidak berniat untuk tidak amanah namun keadaan yang tidak kondusif membuat dia bersikap tidak amanah.

Mungkin……. Mungkin……… Mungkin…….

Pokoknya banyak deh kemungkinannya, karena itu pihak yang dikecewakan sebaiknya mendengar dengan hati dan menganalisanya dengan baik, setelah itu baru deh mengambil sikap, dan pihak yang tidak amanah pun sebaiknya jujur dalam mengungkapkan kondisi sebenarnya, dan ucapkan maaf sebagai janji untuk tidak mengulanginya lagi di waktu yang akan datang.

Sekali lagi, rekayasa suasana sebaiknya dilakukan agar hasilnya relatif lebih baik dan maksimal.

Kemungkinan Kedua

Masing-masing pihak merasa benar sehingga adu mulut terjadi dengan serunya, ke dua belah pihak telah mengecewakan dan dikecewakan bersamaan. Bahkan dalam “sinetron” hingga melibatkan mahluk lain seperti gelas, piring, asbak, kursi, meja yang beterbangan, lebih hebat lagi kalo di film kartun; mobil, kereta api, rumah bahkan apa saja bisa terbang. Jika ini yang terjadi (masing-masing pihak merasa benar) sepertinya selain perlu adanya “rekayasa suasana”, rehat sesaat, pihak yang bertikai perlu menghadirkan pihak ketiga yang dianggap lebih bijak untuk melerai mereka. Karena tanpa pihak ketiga “pertandingan” akan berjalan alot. Walau bisa saja masalah selesai namun akan terjadi adu debat yang luar biasa rame karena masing-masing pihak akan mengeluarkan argumentasi disertai referensi yang saling menguatkan. Walaah pkoknya rame deh.

Peran pihak ketiga ini bukan memutuskan siapa yang salah atau siapa yang benar, pihak ketiga hanya mengarahkan agar segenap pihak mampu menempatkan segala sesuatunya secara proporsional.

Kemungkinan Ketiga

Tidak ada pihak yang tidak amanah. Pihak yang dianggap telah mengecewakan tidak merasa bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang membuat pihak lain kecewa, bahkan ia merasa telah melakukan segalanya dengan maksimal. Namun demikian pihak lain merasa telah dikecewakan. Jika ini yang terjadi, kemungkinan penyebabnya adalah pihak yang merasa dikecewakan mempunyai standard nilai yang lebih tinggi terhadap suatu “urusan” dibandingkan dengan pihak yang dianggap telah mengecewakan.

Bisa juga pihak yang dianggap mengecewakan benar-benar “oneng” terhadap suatu urusan walaupun sebenarnya standard nilai pihak yang dikecewakan biasa-biasa aja, ya standard lah…. Dalam kasus ini kita bisa belajar atau amati dari “sinetron komedi” yang tengah marak di stasiun televisi tanah air. Jika ini yang terjadi sekali lagi perlu adanya proses pembelajaran dari pihak yang relatif lebih “pintar”. Jika pihak yang lebih pintar marah-marah maka secara otomatis ia menjadi orang yang tidak bijak bahkan bisa jadi “oneng” juga. Gak percaya? Liat aja Bajuri suaminya Oneng, Bajuri akan terlihat “oneng” jika dia tidak bisa ngadepin ke”oneng”an Si Oneng. Oya ada lagi, Sasya… sekretaris Pak Taka? Temen kerjanya Gusti dan Pak Hendra? No Comment…. sepertinya tidak akan pernah ada deh sosok Sasya dalam dunia nyata…. Sasya… Sasya…. Kok bisa sih kaya’ gitu ?

Di mana posisi kita jika ada suatu masalah?. Kita bisa saja ”berperan” sebagai pihak yang mengecewakan pada suatu waktu dan pada waktu yang lain menjadi pihak yang dikecewakan. Posisi-posisi tersebut mungkin pernah dan bahkan akan kita alami. Yang terpenting dalam setiap posisi yang kita alami, sikap bijak, sabar dan mau mendengar serta keinginan untuk menjadi yang lebih baik perlu dijadikan prioritas sikap dalam keseharian kita.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca dan jika ada kemungkinan-kemungkinan lain harap tulisan ini disempurnakan hingga kebijaksanaan tercipta di antara kita.

“a wisdom is a process. Keep believe my friends”

Management Amarah

Menjaga sikap untuk senantiasa tenang dan sabar dalam menghadapi keadaan eksternal yang tidak sesuai dengan ideal yang ada di benak kita bahkan mengecewakan hati kita adalah suatu hal yang relatif sangat sulit dilakukan. Tingkat kesabaran kita sangat dipengaruhi oleh kondisi mental, kadar iman dalam diri, wawasan dan level masalah yang tengah kita hadapi.

Terkadang kita mampu bersikap demikian tenang, sabar dan bijak dalam menghadapi masalah, di waktu lain sikap kita “meledak-ledak” dalam menghadapi masalah. Amarah? Bolehkah ia ada dalam diri kita? Jawabnya…… Boleh banget !!! Bahkan amarah sepertinya wajib ada dalam diri kita. Permasalahannya adalah bagaimana sikap kita tatkala amarah menyapa kita dengan sapaannya yang sangat khas, panas membakar hati dan otak kita.

“Argh… argh… gimana sih, kok kesalahan yang sama selalu aja terjadi, gak pernah berubah nih orang, selalu aja gampangin urusan”, demikian gumam geramku dalam hati tatkala berhadapan dengan seseorang yang beberapa kali bersikap tidak amanah. Hampir saja keluar kata-kata bernuansa amarah dari mulutku. Untungnya aku teringat akan sabda Rasulullah saww tentang cara yang paling efektif dalam menghadapi amarah yang tengah meraja dalam diri.

Sabda Rasulullah saww kurang lebihnya sebagai berikut,”Jika amarah datang, ubahlah posisi tubuh kamu, jika belum reda juga maka mandilah kamu, jika belum reda juga maka sholatlah”. Ku jalani tuntunan Rasulullah saww, dari posisi duduk aku berdiri, amarah masih meraja, lalu aku mandi, “dingin” sesaat, amarah masih bersemayam, lalu aku sholat. Alhamdulillah teredam sudah amarahku. Setelah itu kubuat secangkir kopi, tanpa kata yang terucap kulihat sikap salah tingkah dari orang yang hampir “meledakkan” amarahku. “Semoga saja salah tingkahnya dia adalah salah tingkah perenungan yang dapat mengubah sikapnya menuju ke arah yang lebih baik”, gumamku dalam hati. Akhirnya sembari minum kopi, kami berbicara….. Pelan, tenang, dan untungnya lagi suasana pas hujan jadi pemandangannya lumayan enak dilihat.

Ya Rasulullah salamun alaik

Ya Rasulullah, temani aku dalam setiap hari-hariku

Ya Rasulullah, semoga aku dapat bershalawat kepadamu dengan shalawat yang engkau berkenan dengannya.

Ya Alloh, tumbuhkan rasa cinta di dalam hatiku, cinta kepada-Mu, cinta kepada Rasulullah dan keluarganya yang mulia, hingga dengan cinta itu kujalani hari-hariku menuju hari bertemu dengan-Mu.“Teman, maafkan aku atas amarah yang pernah terucap”

Suka Dan Tidak Suka

“Waahhh sulit deh ngadepin orang yang sudah benar-benar gak suka sama kita, sebaik apapun yang kita lakukan tetap aja gak baik di mata dia”, demikian kalimat yang kerap terlontar dari beberapa orang yang merasa telah tidak disukai oleh pihak lain. Dengan kata lain pihak yang merasa tidak disukai menilai pihak yang tidak suka pada dirinya telah bertindak subjektif tidak objektif. Terkesan bahwa pihak yang “tidak objektif” telah bertindak salah dan pihak yang tidak disukai sebagai pihak yang benar dan telah di“aniaya” oleh pihak yang tidak objektif. Biasanya juga kita akan “menghibur” teman kita yang merasa tidak disukai dengan kalimat,”Sabar aja, nanti juga dia kena batunya”. Jika kesan tersebut yang timbul, benarkah kesan tersebut?. Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Tergantung pada kualitas diri masing-masing pihak yang “bertikai” dan standard (tolak ukur) yang digunakan oleh masing-masing pihak.

Dalam tiap interaksi antara dua pihak atau lebih terkadang rasa suka atau tidak suka kerap hadir mewarnai suatu hubungan. Rasa suka ini bisa mengenai apa saja, entah pada suatu subjek, objek, “urusan”, bahkan sesuatu yang ada pada diri pihak-pihak yang berinteraksi, bisa mengenai urusan-urusan yang “sepele” ataupun urusan-urusan besar.

Menurut pendapat saya saat ini, sikap suka atau tidak suka terhadap sesuatu tidak bisa dipungkiri bernuansa subjektif. Ada sebagian orang “dewasa” yang berusaha bahkan merasa dirinya telah objektif namun tetap saja sangat sulit sekali bahkan hampir tidak mungkin menjadi orang yang benar-benar 100% objektif dalam menilai sesuatu.

Sikap suka atau tidak suka bersifat sangat relatif, sikap-sikap ini sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, diantaranya faktor keyakinan, faktor ke”dewasa”an, faktor geografis, lingkungan sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan wawasan serta faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi pembentukan karakter maupun paradigma seseorang terhadap segala sesuatu yang berada di dalam dan di luar dirinya.

Karena demikian relatifnya “nilai” suka atau tidak suka ini maka sepertinya kita memerlukan standard (tolak ukur) yang valid dan tepat guna sebelum mengambil sikap suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Tanpa adanya standard ini rasanya kita akan hidup didunia yang kurang nyaman untuk didiami.

Pertanyaannya sekarang adalah, apa dasar kita selama ini dalam menyukai atau tidak menyukai sesuatu? Jika sudah memiliki standard, apakah standard yang kita gunakan sudah tepat?

Apakah dalam menilai sesuatu atau seseorang kita sudah terbebas dari egoisme pribadi?. Kalau saya sih saat ini belum benar-benar menguasai standard yang tepat, saya tengah dalam proses mempelajari standard yang saya yakini dan tengah menghilangkan sifat egois dalam diri. Sebisa mungkin tidak menilai sesuatu sebelum menganalisanya dengan data-data yang lengkap. Standard yang tengah saya pelajari tentunya sesuai dengan keyakinan saya, yaitu Al Quran dan sunah Rasulullah saw beserta keluarganya yang mulia. Menurut saya, standard tersebut adalah standard terbaik yang pernah ada di muka bumi, hanya saja terkadang saya “sok” mencari literatur yang dianggap “modern”.

Sependapat dengan saya? Maaf dalam hal yang satu ini saya tidak meminta maaf kepada pembaca jika pembaca tidak sependapat dengan saya.

Demikian, semoga bermanfaat.

“Nobody is perfect in our millenium”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: