Prolog
Menunggangi kuda agar dapat bergerak sesuai dengan keinginan penunggangnya memerlukan teknik khusus, tidak hanya sekedar menarik kekang dan menghentakkan kaki ke tubuh kuda, diperlukan proporsi yang tepat dalam memberikan stimulus kepada kuda, mengerti kondisi fisik dan “psikis” kuda. Selain itu, sebaiknya memahami perawatan kuda, dari makanan sampai kepada kebersihan kuda. Semua itu perlu dipelajari agar performance kuda dapat maksimal saat ditunggangi.

Ajarkan anak kita berkuda.
Mengapa? Karena dengan mengajarkan anak kita berkuda berarti kita tengah mengajarkan anak kita tentang keberanian (positif), team work, kepemimpinan, kesabaran, kepedulian, keterampilan, dan masih banyak lagi hal positif yang belum dieksplor oleh penulis perihal hikmah berkuda. Menurut saya saat ini (semoga dengan penambahan frekuensi berkuda bisa lebih menambah wawasan dan pengetahuan penulis), manfaat mengajarkan anak berkuda adalah sebagai berikut:

Pertama
Mengajarkan anak kita untuk berani. Tingkat keberanian tiap anak berbeda dalam menghadapi kuda, ada yang takut, biasa saja, dan ada yang sangat berani, serta ada juga yang antusias melihat namun takut menungganginya, nah anak saya hari minggu lalu termasuk dalam kategori terakhir, antusias tapi takut menunggangi. Pertama saya tawarkan untuk naik kuda Aa Zaky takut, tidak mau, namun dengan memberi pengertian dan meyakinkan dia bahwa everything is under control and gonna be OK, serta saya akan mengawal dia barulah Aa Zaky mau menunggangi kuda. Raut wajah takut masih terlihat di 20 detik pertama dia di atas kuda, saat sudah mulai jalan cukup jauh barulah Aa Zaky dapat menikmati, dan gerak tubuhnya sudah selaras dengan gerakan kuda, perlahan tapi pasti. Alhamdulillah akhirnya anakku berani juga.

Kedua
Mengajarkan anak kita tentang kerja tim (team work). Dalam berkuda ada dua pihak yang saling bekerja sama untuk sama-sama bergerak menuju suatu tempat, masing-masing pihak punya peran, saling mengisi, ada kompensasi yang mesti diberikan oleh masing-masing pihak kepada rekannya. Kerja tim, menyelaraskan gerak dengan pihak lain untuk mencapai tujuan. Pengertian dan saling mengisi. Dalam team work ada aturan yang harus ditaati jika keluar aturan bisa merugikan diri sendiri dan pihak lain, dalam berkuda ada aturan cara menunggangi yang jika tidak ditaati bisa membuat jatuh penunggang kuda.

Ketiga
Mengajarkan anak kita Kepemimpinan atau leadership. Dalam berkuda, sang penunggang adalah pemimpin yang pegang kendali, saat itu arah pergerakan dan kecepatan gerak kuda ada di bawah kendali penunggang kuda. Namun walaupun sang penunggang yang pegang kendali tetap saja tidak bisa semena-mena, salah bertindak bisa berakibat fatal, terjatuh dari kuda bahkan bisa terinjak oleh yang ditungganginya. Dengan berkuda kita mengajarkan anak kita untuk menjadi pemimpin yang tepat dalam bertindak, cerdas dan tanggap menghadapi situasi dan kondisi, pemimpin yang bijak tapi bukan yang sok bijak, peminpin yang pintar dan berani, bukan pemimpin yang sok pintar dan sok berani, pemimpin yang peduli dan tidak semena-mena kepada pihak yang berada di bawah kendalinya, bukan pemimpin yang sok peduli dan sok melindungi.

Keempat
Mengajarkan anak kita kesabaran. Adakalanya penunggang tidak nyaman dengan gerakan kuda, adakalanya kuda sulit untuk dikendalikan. Dalam kondisi ini, sang penunggang tidak bisa memaksakan kehendaknya, perlu kesabaran untuk tetap berjalan bersama kuda dalam mencapai tempat tujuan. Sadar atau tidak sesungguhnya kuda dapat merasakan emosi sang penunggangnya, jika sang penunggang tetap tenang sabar, si kuda akan cepat tenang, pun sebaliknya jika sang penunggang marah maka si kuda pun bisa marah dan ngambek.

Kelima
Mengajarkan keterampilan untuk dapat bergerak lebih efektif menuju tujuan. Dalam berkuda kita bekerja sama dengan kuda untuk mencapai tempat tujuan dalam waktu yang relatif lebih cepat, untuk mencapai tujuan lebih efektif maka diperlukan keterampilan dan sikap mental yang positif seperti yang tersebut pada point-point di atas

Keenam
……………
…………..

Ketujuh
…………..
………….

Dst

Pembaca punya pendapat lain? Silahkan tinggalkan komentar untuk menyempurnakan tulisan ini.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

arie prasetya
ayah zaky & zahra
https://beranibaca.wordpress.com