Menjaga sikap untuk senantiasa tenang dan sabar dalam menghadapi keadaan eksternal yang tidak sesuai dengan ideal yang ada di benak kita bahkan mengecewakan hati kita adalah suatu hal yang relatif sangat sulit dilakukan. Tingkat kesabaran kita sangat dipengaruhi oleh kondisi mental, kadar iman dalam diri, wawasan dan level masalah yang tengah kita hadapi.

Terkadang kita mampu bersikap demikian tenang, sabar dan bijak dalam menghadapi masalah, di waktu lain sikap kita “meledak-ledak” dalam menghadapi masalah. Amarah? Bolehkah ia ada dalam diri kita? Jawabnya…… Boleh banget !!! Bahkan amarah sepertinya wajib ada dalam diri kita. Permasalahannya adalah bagaimana sikap kita tatkala amarah menyapa kita dengan sapaannya yang sangat khas, panas membakar hati dan otak kita.

“Argh… argh… gimana sih, kok kesalahan yang sama selalu aja terjadi, gak pernah berubah nih orang, selalu aja gampangin urusan”, demikian gumam geramku dalam hati tatkala berhadapan dengan seseorang yang beberapa kali bersikap tidak amanah. Hampir saja keluar kata-kata bernuansa amarah dari mulutku. Untungnya aku teringat akan sabda Rasulullah saww tentang cara yang paling efektif dalam menghadapi amarah yang tengah meraja dalam diri.

Sabda Rasulullah saww kurang lebihnya sebagai berikut,”Jika amarah datang, ubahlah posisi tubuh kamu, jika belum reda juga maka mandilah kamu, jika belum reda juga maka sholatlah”. Ku jalani tuntunan Rasulullah saww, dari posisi duduk aku berdiri, amarah masih meraja, lalu aku mandi, “dingin” sesaat, amarah masih bersemayam, lalu aku sholat. Alhamdulillah teredam sudah amarahku. Setelah itu kubuat secangkir kopi, tanpa kata yang terucap kulihat sikap salah tingkah dari orang yang hampir “meledakkan” amarahku. “Semoga saja salah tingkahnya dia adalah salah tingkah perenungan yang dapat mengubah sikapnya menuju ke arah yang lebih baik”, gumamku dalam hati. Akhirnya sembari minum kopi, kami berbicara….. Pelan, tenang, dan untungnya lagi suasana pas hujan jadi pemandangannya lumayan enak dilihat.

Ya Rasulullah salamun alaik

Ya Rasulullah, temani aku dalam setiap hari-hariku

Ya Rasulullah, semoga aku dapat bershalawat kepadamu dengan shalawat yang engkau berkenan dengannya.

Ya Alloh, tumbuhkan rasa cinta di dalam hatiku, cinta kepada-Mu, cinta kepada Rasulullah dan keluarganya yang mulia, hingga dengan cinta itu kujalani hari-hariku menuju hari bertemu dengan-Mu.“Teman, maafkan aku atas amarah yang pernah terucap”

Re-publish
@ ciputat . 2007

arie prasetya
ayah zaky & zahra