Titik Akhir Sebuah “Mimpi”

2 Komentar

Apa yang paling Anda impikan dalam hidup ini?

Apakah saat ini Anda tengah dalam proses mewujudkan mimpi?

Sudahkah Anda “mendiskusikan” mimpi-mimpi Anda dengan pasangan hidup, kerabat terdekat bahkan dengan diri Anda sendiri?

Sudahkah Anda menyesusaikan mimpi Anda dengan segenap yang ada pada diri Anda?

Yakinkah Anda jika mimpi Anda terwujud dapat membawa Anda pada kebahagiaan yang sebenarnya?

Yakinkah Anda bahwa mimpi-mimpi Anda akan bermanfaat secara nyata (materiil dan spirituil) terhadap Anda dan orang-orang yang Anda cintai dan lingkungan sekitar Anda?

Jika jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah positif (Ya / sudah), maka Anda wajib menularkan mimpi-mimpi Anda kepada saya. Namun jika jawaban dari pertanyaannya di atas masih banyak yang negatif (Tidak / belum) maka mari kita bersama-sama belajar dalam bermimpi.

Apa..!!!??? Belajar dalam bermimpi???

Iya !!! Dalam segala hal yang dapat meningkatkan kualitas hidup, kita sebaiknya belajar, bahkan dalam bermimpipun akan lebih baik jika kita belajar.

Mengapa ???. Karena “mimpi” sangat berpengaruh terhadap keseharian sikap dan kegiatan seseorang dalam hidupnya. Mimpi seperti apa yang baik untuk kita?. Menurut saya sih mimpi yang proporsional. Proporsional? Iya dong, mesti proporsional, kalau terlalu tinggi gimana bisa nyampe dan kalau terlalu rendah, malas amat sih jadi orang !!!. Proporsional? Iya… kita mesti menyesesuaikan dengan kemampuan maksimal yang bisa kita lakukan, sesuaikan dengan potensi maksimal yang ada pada kita dan ingat jangan “diada-adain”, seadanya saja. Jujur dalam menilai kemampuan dan potensi kita.

Aaaahhhh…. waktu kecil kan kita disuruh menggantungkan cita-cita setinggi langit!!!. Benar, tapi perlu juga diingat bahwa langit itu berlapis-lapis, ada tujuh lapis langit! Lapisan langit pertama saja sudah tinggi banget apalagi yang ke tujuh. Jika potensi dan kemampuan kita mampu menggantungkan mimpi sampai langit ke tujuh ya lakukan, namun jika hanya sampai langit pertama ya gak masalah, toh tetap langit, dari dulu sampe kapanpun yang namanya langit itu tinggiiiiiiiii bangeeeettt…

Ingat juga, selain langit ada juga bumi yang menurut sumber terpercaya mempunyai tujuh lapisan juga. Jangan sampai tertipu dengan “nilai sebenarnya” dari sebuah mimpi. Bisa jadi mimpi yang menurut kita tinggi menyentuh langit ternyata sebenarnya tidak tinggi bahkan sangat rendah terperosok sampai ke dasar bumi.

Mimpi seperti apa sih yang tinggi menyentuh langit? Mimpi yang menyentuh langit adalah mimpi yang dapat membawa kita terbang, terbebas dari ikatan gravitasi, mimpi yang membuat kita “ringan” hingga dapat terbang melayang menyentuh langit, mimpi yang tidak membebani kita. (Bukankah rasa bahagia sering digambarkan seperti terbang melayang oleh para sastrawan). Mimpi yang tinggi adalah mimpi yang akan membawa Anda pada kebahagiaan hakiki.

Kebahagiaan hakiki? Waahhh nyerah deh… kalau mengenai definisi kebahagiaan hakiki saya kebingungan sendiri menjawabnya, selain kemampuan yang terbatas wilayah ini lebih layak dibahas oleh alim ulama yang mumpuni, alim ulama yang tawadhu, dan yang sudah jelas bukti nyata keimanan dan keilmuannya. Kalau saya hanya menjelaskan sebatas yang saya tahu dan saya tidak “memaksa” Anda untuk sepaham dengan saya dalam hal ini. Saya ingin simple dalam hidup, karena itu pemikiran saya pun simple dalam hal ini. Menurut yang saya yakini tentang ini adalah berdasarkan sabda Rasulullah saww, yaitu “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”. Dan sabda Rasulullah saww yang berbunyi,”Yang paling baik di antara kamu adalah yang paling bertakwa”.

Dari penjelasan-penjelasan saya (yang kadang gak jelas) di atas saya menyimpulkan bahwa mimpi yang tinggi (menyentuh langit berapapun) adalah mimpi yang berorientasi pada kemaslahatan diri sendiri, keluarga, kerabat dekat, dan orang lain serta lingkungan sekitar kita yang diwarnai dengan nilai-nilai takwa. Semakin banyak orang yang tersentuh dengan kemaslahatan mimpi kita maka itu berarti mimpi kita semakin tinggi.

Jadi…. mimpi menjadi orang kaya raya, punya emas tiga gunung, uang udah gak bisa dihitung lagi karena banyaknya seperti “Paman Gober(Pamannya Donald Bebek)” boleh dong? Boleh banget, asal dalam memperoleh kekayaan tersebut dilakukan dengan sikap ihsan dan setelah kita memperolehnya kita mau berbagi dengan sesama.

Jadi…. mimpi menjadi orang tenar sampai dikenal oleh orang seplanet bumi bahkan seluruh galaksi bimasakti boleh dong? Boleh banget asal ketenaran kita adalah ketenaran dalam kebaikan dan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk bisa menjadi orang yang lebih baik dan lebih bertakwa.

Jadi… mimpi menjadi penguasa pun boleh dong? Boleh banget, asal proses kita menduduki kekuasaan dilakukan dengan tingkat kebijaksanaan yang mulia dan jika telah jadi penguasa kita dapat menggunakan kekuasaan kita untuk menghantarkan orang lain pada kualitas hidup (lahir dan batin) yang lebih baik.

Lalu… jika ternyata saat ini mimpi kita tidak seperti itu gimana dong?. Tenang aja… selagi masih ada waktu walaupun tinggal sedetik kita dapat melakukan langkah yang paling awal, yaitu niatkan diri untuk bermimpi yang tinggi. Selanjutnya buat perencanaan yang efektif dalam mewujudkannya. Libatkan orang-orang terdekat kita, tentunya komunikasikan terlebih dahulu dengan komunikasi yang arif dan bijaksana.

Kenapa sih repot-repot punya mimpi yang tinggi? Yeeeeee gimana sih…. memangnya gak tahu apa bahwa setiap yang hidup pasti akan menemui mati.

Ingat !!!. Titik akhir dari semua mimpi adalah mati. Dan setelah mati kita akan diminta pertanggungjawaban akan segala potensi yang ada pada kita, apakah segenap potensi tersebut telah dimanfaatkan secara maksimal di jalan yang Alloh ridhoi.

Jika saat ini kita tidak mempunyai mimpi yang tinggi….. maka bermimpilah….

Demikian mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

Teman …. Selamat bermimpi, ajak aku, libatkan aku dalam mimpi indahmu hingga nanti kita bertemu di akhir mimpi kita.

arie prasetya
ayah zaky & zahra

Iklan

Menyikapi Masalah

2 Komentar

Problem? No Problemo

“Sekali… dua kali… tiga kali… gua diemin lu masih gitu-gitu aja, gak berubah sama sekali, mau lu apa sih? Gimana sih lu jadi orang?”, kalimat ini biasanya terlontar dari orang-orang yang kesabarannya hampir atau bahkan telah habis dalam menghadapi orang yang telah mengecewakannya. Kerap terjadi hal seperti itu, kalau mau gampang dan tidak mau pusing. “Just take it or leave it”. Tetap pertahankan hubungan atau tinggalkan. Itu pilihan dangkal yang biasanya disertai dengan emosi yang masih bersarang di dalam hati. Jika hubungan akhirnya putus dikarenakan satu pihak atau lebih telah mengecewakan pihak lainnya maka semuanya berada pada posisi yang kalah. Mungkin saja itu pilihan yang tepat untuk sementara waktu. Tapi, bijakkah keputusan itu? Efektifkah keputusan itu untuk hasil atau maslahat jangka panjang?

Ada baiknya sebelum kita “menghakimi” orang lain yang telah mengecewakan kita ada proses analisa yang bertujuan untuk mengetahui kenapa orang tersebut telah mengecewakan kita. Jika ada kecewa kemungkinan terbesar adalah adanya masalah. Menurut teori, problem adalah (adanya) perbedaan antara das sollen (yang seharusnya) dan das sein (yang nyata). Jika kita kaji teori problem ini maka kemungkinan ada perbedaan persepsi tentang das solllen dan das sein di antara pihak yang “mengecewakan” dan pihak yang “dikecewakan”. Jika ini yang terjadi maka perlu pembicaraan panjang antara ke dua belah pihak agar mempunyai persepsi yang sama tentang das sollen dan das sein pada peristiwa “mengecewakan” yang terjadi.

Proses tersebut sebaiknya disertai dengan nil amarah, keinginan untuk memberikan yang terbaik dan tentunya sabar dan mau mendengar, bukan saja mendengar dengan telinga tapi dengan hati. Akan lebih baik lagi jika suasana direkayasa sedemikian rupa hingga masing-masing pihak merasa nyaman. Lucu juga jika diiiringi dengan musik atau secangkir kopi atau teh (minuman favorit masing-masing pihak, asal jangan minuman keras!!!). Jika sudah nyaman, baru deh dibicarakan semuanya, dan yang perlu diingat jauhkan bensin atau zat-zat mudah terbakar lainnya, khawatir akan terbakar jika terkena “panas”nya emosi yang mungkin timbul. (Hehehe gak lucu ya..?). Demikian. Kesimpulannya jangan melakukan “pembicaraan panas” di pom bensin. Kenapa? Ya sulitlah…. kan banyak kendaraan yang mau isi bahan bakar.

Nah sekarang mari kita kaji kemungkinan-kemungkinan penyebab sesuatu yang mengecewakan terjadi dan solusi bijaknya (Bijak menurut saya jika tidak sependapat dengan pembaca maafkan saya, dan harap maklum jika solusi yang dihadirkan kurang tepat).

Kemungkinan Pertama.

Kemungkinan pertama adalah adanya satu pihak atau lebih yang tidak amanah, walau masing-masing pihak mempunyai persepsi yang sama terhadap suatu permasalahan namun jika ada pihak yang tidak amanah maka akan ada pihak yang dikecewakan. Jika ini yang terjadi maka diperlukan proses penyadaran terhadap pihak yang tidak amanah dan kesabaran dari pihak yang dikecewakan. Pihak yang dikecewakan sebaiknya mau menganalisa atau setidaknya mendengar mengapa terjadi penyimpangan terhadap suatu amanah. Tentunya akan sangat lebih baik jika dilakukan tanpa amarah.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan orang tidak amanah. Mungkin ada situasi dan kondisi mendesak yang membuat seseorang tidak amanah. Mungkin keterbatasan kemampuan dan wawasan hingga orang tidak amanah. Mungkin di dalam hatinya sebenarnya tidak berniat untuk tidak amanah namun keadaan yang tidak kondusif membuat dia bersikap tidak amanah.

Mungkin……. Mungkin……… Mungkin…….

Pokoknya banyak deh kemungkinannya, karena itu pihak yang dikecewakan sebaiknya mendengar dengan hati dan menganalisanya dengan baik, setelah itu baru deh mengambil sikap, dan pihak yang tidak amanah pun sebaiknya jujur dalam mengungkapkan kondisi sebenarnya, dan ucapkan maaf sebagai janji untuk tidak mengulanginya lagi di waktu yang akan datang.

Sekali lagi, rekayasa suasana sebaiknya dilakukan agar hasilnya relatif lebih baik dan maksimal.

Kemungkinan Kedua

Masing-masing pihak merasa benar sehingga adu mulut terjadi dengan serunya, ke dua belah pihak telah mengecewakan dan dikecewakan bersamaan. Bahkan dalam “sinetron” hingga melibatkan mahluk lain seperti gelas, piring, asbak, kursi, meja yang beterbangan, lebih hebat lagi kalo di film kartun; mobil, kereta api, rumah bahkan apa saja bisa terbang. Jika ini yang terjadi (masing-masing pihak merasa benar) sepertinya selain perlu adanya “rekayasa suasana”, rehat sesaat, pihak yang bertikai perlu menghadirkan pihak ketiga yang dianggap lebih bijak untuk melerai mereka. Karena tanpa pihak ketiga “pertandingan” akan berjalan alot. Walau bisa saja masalah selesai namun akan terjadi adu debat yang luar biasa rame karena masing-masing pihak akan mengeluarkan argumentasi disertai referensi yang saling menguatkan. Walaah pkoknya rame deh.

Peran pihak ketiga ini bukan memutuskan siapa yang salah atau siapa yang benar, pihak ketiga hanya mengarahkan agar segenap pihak mampu menempatkan segala sesuatunya secara proporsional.

Kemungkinan Ketiga

Tidak ada pihak yang tidak amanah. Pihak yang dianggap telah mengecewakan tidak merasa bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang membuat pihak lain kecewa, bahkan ia merasa telah melakukan segalanya dengan maksimal. Namun demikian pihak lain merasa telah dikecewakan. Jika ini yang terjadi, kemungkinan penyebabnya adalah pihak yang merasa dikecewakan mempunyai standard nilai yang lebih tinggi terhadap suatu “urusan” dibandingkan dengan pihak yang dianggap telah mengecewakan.

Bisa juga pihak yang dianggap mengecewakan benar-benar “oneng” terhadap suatu urusan walaupun sebenarnya standard nilai pihak yang dikecewakan biasa-biasa aja, ya standard lah…. Dalam kasus ini kita bisa belajar atau amati dari “sinetron komedi” yang tengah marak di stasiun televisi tanah air. Jika ini yang terjadi sekali lagi perlu adanya proses pembelajaran dari pihak yang relatif lebih “pintar”. Jika pihak yang lebih pintar marah-marah maka secara otomatis ia menjadi orang yang tidak bijak bahkan bisa jadi “oneng” juga. Gak percaya? Liat aja Bajuri suaminya Oneng, Bajuri akan terlihat “oneng” jika dia tidak bisa ngadepin ke”oneng”an Si Oneng. Oya ada lagi, Sasya… sekretaris Pak Taka? Temen kerjanya Gusti dan Pak Hendra? No Comment…. sepertinya tidak akan pernah ada deh sosok Sasya dalam dunia nyata…. Sasya… Sasya…. Kok bisa sih kaya’ gitu ?

Di mana posisi kita jika ada suatu masalah?. Kita bisa saja ”berperan” sebagai pihak yang mengecewakan pada suatu waktu dan pada waktu yang lain menjadi pihak yang dikecewakan. Posisi-posisi tersebut mungkin pernah dan bahkan akan kita alami. Yang terpenting dalam setiap posisi yang kita alami, sikap bijak, sabar dan mau mendengar serta keinginan untuk menjadi yang lebih baik perlu dijadikan prioritas sikap dalam keseharian kita.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca dan jika ada kemungkinan-kemungkinan lain harap tulisan ini disempurnakan hingga kebijaksanaan tercipta di antara kita.

“a wisdom is a process. Keep believe my friends”

arie prasetya
ayah zaky & zahra

Surat untuk Reza

1 Komentar

Minggu tanggal 3 Oktober 2010 jam 19.00 s/d 21.00 semestinya saya dateng ke resepsi pernikahan REZA dan NITA. Namun kelelahan yang sangat membuat saya tidak bisa hadir karena sehari sebelumnya baru saja tiba dari bandung, kurang istirahat.

Kepada semua pembaca blog ini, saya minta untuk mendoakan teman saya dengan doa yang dicontohkan oleh Rasulullah sbb:

اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ.

“Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dalam kebaikan.”
(HR. Penyusun-penyusun kitab Sunan, kecuali An-Nasai dan lihat Shahih At-Tirmidzi 1/316)

Selamat ya bro….
Who’s next???
Suleeeee where are you … Reza udah tuh.. Lu kapan??

********************
@ pakuan exp 06.40
********************

arie prasetya
ayah zaky & zahra

Management Amarah

Tinggalkan komentar

Menjaga sikap untuk senantiasa tenang dan sabar dalam menghadapi keadaan eksternal yang tidak sesuai dengan ideal yang ada di benak kita bahkan mengecewakan hati kita adalah suatu hal yang relatif sangat sulit dilakukan. Tingkat kesabaran kita sangat dipengaruhi oleh kondisi mental, kadar iman dalam diri, wawasan dan level masalah yang tengah kita hadapi.

Terkadang kita mampu bersikap demikian tenang, sabar dan bijak dalam menghadapi masalah, di waktu lain sikap kita “meledak-ledak” dalam menghadapi masalah. Amarah? Bolehkah ia ada dalam diri kita? Jawabnya…… Boleh banget !!! Bahkan amarah sepertinya wajib ada dalam diri kita. Permasalahannya adalah bagaimana sikap kita tatkala amarah menyapa kita dengan sapaannya yang sangat khas, panas membakar hati dan otak kita.

“Argh… argh… gimana sih, kok kesalahan yang sama selalu aja terjadi, gak pernah berubah nih orang, selalu aja gampangin urusan”, demikian gumam geramku dalam hati tatkala berhadapan dengan seseorang yang beberapa kali bersikap tidak amanah. Hampir saja keluar kata-kata bernuansa amarah dari mulutku. Untungnya aku teringat akan sabda Rasulullah saww tentang cara yang paling efektif dalam menghadapi amarah yang tengah meraja dalam diri.

Sabda Rasulullah saww kurang lebihnya sebagai berikut,”Jika amarah datang, ubahlah posisi tubuh kamu, jika belum reda juga maka mandilah kamu, jika belum reda juga maka sholatlah”. Ku jalani tuntunan Rasulullah saww, dari posisi duduk aku berdiri, amarah masih meraja, lalu aku mandi, “dingin” sesaat, amarah masih bersemayam, lalu aku sholat. Alhamdulillah teredam sudah amarahku. Setelah itu kubuat secangkir kopi, tanpa kata yang terucap kulihat sikap salah tingkah dari orang yang hampir “meledakkan” amarahku. “Semoga saja salah tingkahnya dia adalah salah tingkah perenungan yang dapat mengubah sikapnya menuju ke arah yang lebih baik”, gumamku dalam hati. Akhirnya sembari minum kopi, kami berbicara….. Pelan, tenang, dan untungnya lagi suasana pas hujan jadi pemandangannya lumayan enak dilihat.

Ya Rasulullah salamun alaik

Ya Rasulullah, temani aku dalam setiap hari-hariku

Ya Rasulullah, semoga aku dapat bershalawat kepadamu dengan shalawat yang engkau berkenan dengannya.

Ya Alloh, tumbuhkan rasa cinta di dalam hatiku, cinta kepada-Mu, cinta kepada Rasulullah dan keluarganya yang mulia, hingga dengan cinta itu kujalani hari-hariku menuju hari bertemu dengan-Mu.“Teman, maafkan aku atas amarah yang pernah terucap”

Re-publish
@ ciputat . 2007

arie prasetya
ayah zaky & zahra

%d blogger menyukai ini: