ABCD0003Sengaja ku copy paste tulisanku yang pernah kumuat di halaman CINTA, tulisan ini untuk menegaskan besarnya cintaku padamu istriku, yang senantiasa lembut menyentuhku kala aku sakit, yang senantiasa galak saat aku gak mau dengar nasehatmu tentang pola hidup sehat (jangan merokok & jangan begadang). Mama nie, istriku yang cantik, yang aku cintai begitu sangat, terima kasih, doakan aku hingga jadi suami yang senantiasa mampu mengimami keluarga kecil kita menuju ridho Alloh swt. Amin, I love you my trully angel.

Jatuh Cinta Dan Cinta

Jatuh cinta adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan suatu rasa unik yang ada pada hati, jiwa, dan pikiran seorang manusia. Rasa ketertarikan yang luar biasa terhadap suatu subjek atau objek tertentu. Biasannya rasa unik ini disertai dengan “kebahagiaan” yang indah untuk dinikmati, entah berapa lama “kebahagiaan” tersebut bersemayam di dalam hati, jiwa dan pikiran manusia yang tengah jatuh cinta. Lamanya kebahagiaan yang bersemayam dalam hati, jiwa dan pikiran seseorang yang tengah jatuh cinta sangat tergantung pada motivasi orang tersebut dalam mencintai sesuatu dan “respon balik” dari subjek atau objek yang dicintainya.

Mengapa istilahnya JATUH CINTA? Bukannya TERBANG cinta, NAIK cinta atau istilah lain yang menggambarkan rasa bahagia dan semangat? JATUH…??? Bukankah jatuh itu adalah suatu kondisi yang pada umumnya berkonotasi negatif? Jatuh berarti berubah posisi dari tempat yang relatif lebih tinggi ke tempat yang relatif lebih rendah melalui proses yang biasanya tidak direncanakan dan tidak diharapkan.

Ehmmm………. mungkin orang yang pertama kali “mempopulerkan” istilah ini ngawur dan tidak ahli dalam bahasa atau sastra.

Ngawur..??? tidak juga ya… Kalo ngawur kenapa istilah tersebut bisa bertahan lama, berarti orang-orang yang menggunakan istilah ini ngawur juga dong.

Penasaran dengan istilah jatuh cinta membuat saya berpikir semalaman. Dengan menempatkan istilah jatuh cinta sebagai istilah yang benar dan sedikit memaksakan dalam “membela” istilah ini agar menjadi istilah yang layak digunakan. Akhirnya saya merenungi apa saja sikap yang tercipta pada diri seseorang yang tengah jatuh cinta.

Ehmm…… ternyata jika sedang jatuh cinta, seseorang rela tuh ninggalin “jadwal” aktifitas hobi mereka jika itu menyangkut kepentingan orang yang dicintainya padahal sebelumnya tidak ada yang bisa ganggu “jadwal” tersebut. Jika tengah jatuh cinta sebagian besar orang akan dengan rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi seseorang yang dicintainya. Hebatnya lagi orang yang tengah jatuh cinta terkadang dengan rela dan senang hati melayani keperluan orang yang dicintainya. Ternyata… egonya JATUH dan tidak ada lagi jika menyangkut kepentingan orang yang diCINTAInya. Demi orang yang dicintainya seseorang akan dengan rela menJATUHkan dirinya di atas sebuah granat atau bom yang akan meledak demi melindungi orang yang dicintainya. (Gak percaya? Lihat saja film-film perang).

Entah benar atau tidak gambaran yang saya berikan tentang sikap orang yang tengah jatuh cinta yang jelas saya ingin mengingatkan orang-orang yang dengan mudah berkata,”Aku sedang jatuh cinta”.

Jangan bilang jatuh cinta jika kita belum bisa menjatuhkan ego kita demi orang yang kita cintai. Jangan bilang jatuh cinta jika kita belum siap menjatuhkan diri di atas granat yang akan meledak demi melindungi orang yang kita cintai. Jika sudah mampu bersikap seperti itu, maka kita layak berkata, “Aku jatuh cinta”.

Namun… namun… namun belum cukup sampai disitu. Jika kita sudah “terlanjur” jatuh cinta langkah selanjutnya adalah meneliti kembali motivasi kita dalam mencintai dan memperdalam lagi wawasan kita tentang arti kata cinta.

Bahasan mengenai hal ini membuat saya “merinding” karena demikian ideal hingga terbersit dalam hati, “Mampukah saya mencintai orang lain?”. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena dengan sengaja saya mengambil referensi tentang bahasan ini dari tulisan M. Quraish Shihab mengenai Al Wadud (Yang Maha Mencintai – Yang Maha Dicintai) dalam bukunya yang berjudul Menyingkap tabir Ilahi. Berikut saya mengutip beberapa penggal tulisannya ;

Kata Al Wadud terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf wauw dan dal berganda, yang mengandung arti “cinta” dan “harapan”. Demikian Ibnu Faris dalam bukunya “Maqayis”. Pakar tafsir Al Biqa’iy dalam “Nazem Ad durar”-nya berpendapat lain. Menurutnya rangkaian huruf tersebut mengandung arti “kelapangan” dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk.

…………………………………

Seseorang yang meneladani Alloh dalam sifat Wadud dituntut untuk selalu mencintai mahluk dan mengharap buat mereka apa yang dia harapkan untuk dirinya, seandainya ia berada dalam posisi mereka, bahkan ia mendahulukan mereka atas kepentingan dirinya sendiri. Dengan demikian ia akan menjadi objek sekaligus subjek cinta. Ia akan dicintai serta mencintai atau dengan kata lain ia menjadi wadud dalam kemampuannya sebagai mahluk..

…………………………..

Untuk lebih jelasnya baca sendiri aja ya bukunya. Di toko buku ternama banyak kok. Terlepas Anda sepaham atau tidak dengan penulisnya (M. Quraish Shihab) namun setidaknya jika tulisannya mampu “memperbaiki” kualitas diri kita, mengapa tidak?.

Demikian, semoga bermanfaat.

………………………………………………………………………………………..

Cantikku, jika cintaku padamu adalah cinta buta, campakkan aku dengan kata-kata terketus yang bisa kau ucapkan.

Cantikku, jika cintaku padamu menjauhkan aku dari Alloh maka hinakan aku dengan hinaan yang paling hina yang bisa kau lontarkan.

Cantikku, jika cintaku padamu tidak bisa membawamu pada perbaikan kualitas diri maka tutuplah hatimu untukku serapat mungkin yang kau bisa.

Namun………….

Jika cintaku karena pengabdianku pada Alloh

Jika cintaku karena ingin membawamu pada kedekatan dengan Alloh

Jika cintaku karena ingin menjadikan dirimu sebagai bidadariku kelak di hari nanti

Jangan kau palingkan wajahmu,

Jangan kau tutup hatimu,

Jangan kau campakkan diriku

Karena walaupun kualitas cintaku belum sempurna namun kala dekatmu hasrat menyempurnakan rasa cinta senantiasa ada.

Cantikku ……..

Aku cinta padamu.

Dedicated to : my pretty sweety little angel. Heni Nuraeni.