Letak damai…???

3 Komentar

Manusia,

Multi dimensi, kompleks, ada raga, jiwa, dan yang lainnya, entah apa lagi yang ada pada diri manusia. Karena itu pembahasan tentang manusia di kalangan filosof dan ahli psikologi senantiasa berkembang dan belum tuntas sampai dengan sekarang.

Arie,

Pernah suatu waktu “gila” karena hal tsb. “Mengembara” dalam belantara pemikiran tentang manusia dan hidup, kadang tersesat, menemukan jalan buntu tapi tak jarang pula menemukan cahaya dan jalan yang lumayan mulus.

Mengapa “mengembara”…???

Ah, simple aja…. Pengen damai dalam hidup. Penuhi dahaga jiwa akan arti hidup. Penuhi dahaga jiwa akan arti keberadaan manusia di dunia.

Ternyata…!!!!!

gak gampang, gak mudah. walau berbagai referensi telah dibaca, berbagai narasumber ditemui, tetap saja kegalauan hati dan jiwa kerap datang.

Ternyata….!!!

Setelah sekian lama “berjalan”, sekian peristiwa dialami, baru terjawab, baru tersadarkan… Semua ada di dalam hati, semua jawaban telah ada di dalamnya….

Hanya saja…..

Selama ini hati itu tertutup banyak dosa, dusta, iri, dengki, ketamakan, ingin dipuji dan sifat lainnya yang semestinya tidak bersemayam di hati…. Hingga jawaban kedamaian tak terdengar dari dalam hati.

Letak damai,

“Sesungguhnya kebahagiaan dan kedamaian itu ada di dalam hati”, ucap seorang mubaligh suatu hari. Ucapan itu sederhana dan dilontarkan dengan nada yang pelan dan sederhana tidak mengada-ada, tidak ada “rekayasa pengucapan kata”. Mubaligh sederhana, dengan ucapan sederhana telah mampu menembus hatiku yang kotor, “tercipta” air mata yang indah.,………..

Sejak itu,

Semua terasa indah… IYA…!!!! SEMUA…..!!!! Ada keindahan di setiap peristiwa…                           “trik”nya simple: ubah paradigma, coba melihat segala sesuatu dari berbagai macam sisi, cari berbagai macam alternatif sebelum memutuskan sesuatu, perbanyak Dzikir…..

Semoga saja rasa ini senantiasa dapat kunikmati.

Iklan

Paradigma positif

3 Komentar

Akan lebih baik jika kita mengutarakan pendapat didahului dengan kalimat, “Menurut pendapat saya saat ini, ……………..” Akan lebih baik jika kita menyertakan kata “saat ini”. Kenapa.??? Ya, karena pendapat kita bisa saja berubah sewaktu-waktu. Dengan bertambahnya usia, pengalaman, pengetahuan dan wawasan kita akan mengalami perubahan paradigma ; bisa positif ataupun negatif, bergantung pada seberapa jauh kita mampu senantiasa memperbaiki diri kita ke arah yang lebih baik.  Paradigma kita tentang hidup dan kehidupan akan sangat-sangat-sangat mewarnai pendapat kita tentang segala hal, bahkan dengan paradigma itu kita berjalan mengisi hari-hari kita di bumi.

Terkadang perubahan paradigma (positif) dapat terjadi karena peristiwa kecil atau tak terduga namun sarat makna. Atau juga karena peristiwa “besar” yang sangat membekas di hati.

Definisi paradigma positif menurut saya adalah paradigma yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama (dalam hal ini karena saya beragama islam maka yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama islam).

Se”positif” apakah paradigma kita…???? Kita gak akan pernah tahu akan hal itu, orang lainlah yang menilai. Dari mana menilainya…??? Ya, dari seberapa jauh kita mempunyai manfaat untuk orang lain. Mengapa itu tolak ukurnya..??? Ya, (menurut saya) Karena Rasulullah saw pernah bersabda (yang artinya kurang lebih sbb) ” sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain”. Lalu jika kita belum bermanfaat untuk orang lain apakah kita salah menjalani hidup ini..??? Ehhhmmm salah..??? I have no right to judge people…. Mungkin jawaban yang tepat adalah,”Kuatkan tekad untuk mau belajar lebih baik, selidiki paradigma Anda akan hidup dan kehidupan, cari referensi, temui narasumber yang mumpuni, jangan malu untuk mengubah paradigma Anda jika ternyata paradigma Anda kurang tepat dalam memandang hidup dan kehidupan”

Bagaimana dengan si Arie…??? Arie..??? Masih jauh dari paradigma positif yang ideal…. Lalu kenapa sok-sok an nulis kayak gini…. Ya, namanya juga belajar siapa tahu dengan nulis ini ada teman yang mau berbagi pemahaman dan pengalamannya. Amin.

Have a nice surf in the world of soul…!!!!

tentang teman….

1 Komentar

Teman,….

Orang lain yang kita kenal… Bentuk kosmik unik yang berada di luar diri kita. Gak mesti sejalan dengan kita, gak mesti selamanya menyenangkan diri kita, gak mesti selamanya mengerti akan diri kita, gak mesti selamanya sepaham dengan kita… Bahkan beda pendapat, berselisih paham, berkelahi sepertinya sesuatu yang akan kita alami dengan teman….

Teman,….

Kala frekuensi pertemuan dengannya begitu sering kemilau pribadinya kadang tak nampak di mata kita, kebijaksanaan dan kelebihan-kelebihan (positif) mereka kadang tak kita rasakan….

Teman,…

Kala kita merasa bahagia kadang tak hadir di samping kita, kadang terlupakan kala kita menemukan teman baru. Bahkan terkadang tak pernah terbersit untuk menghubungi mereka kembali.

Teman,

Kosmik unik sarat misteri, sama seperti kita (sama-sama manusia). Yang memiliki keunikan, kemisteriusan yang sama. Akhirnya….. masing-masing berjalan menjalani nasibnya sendiri-sendiri… temui berbagai keajaiban dunia tiap hari… Menjalani hari-hari yang gak pernah sama dengan hari sebelumnya dan gak tau pasti apa yg akan terjadi esok hari…

Maafkan aku,….

Teman, sekian lama waktu yang kulalui  baru kusadari kalian telah mempengaruhi diriku sampai ke dalam tulang…. Telah kalian berikan atmosfer positif dalam kosmik jiwaku. Pertemuanku dengan 39ers ternyata salah satu titik yang sangat berpengaruh dalam hidupku… Dengan kalian aku dewasa, dengan kalian aku sadar gak ada guna hidup sia-sia. Dengan kalian diamku adalah diam perenungan sarat makna. Dengan kalian aku tercelup dalam komunitas yang unik, plural, penuh warna dan sarat makna….

Teman,…

Saat ini ingin kuulang kembali tawa kita, “nakal” kita, “stress” kita bahkan beda pendapat kita….. Hingga ku dapat reguk kembali keluguan kita……. Sekarang…. Sekarang……. Sekarang……..

Come to me my friends, I’ll hold you till the end.

Jatuh Cinta Dan Cinta

13 Komentar

Jatuh cinta adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan suatu rasa unik yang ada pada hati, jiwa, dan pikiran seorang manusia. Rasa ketertarikan yang luar biasa terhadap suatu subjek atau objek tertentu. Biasannya rasa unik ini disertai dengan “kebahagiaan” yang indah untuk dinikmati, entah berapa lama “kebahagiaan” tersebut bersemayam di dalam hati, jiwa dan pikiran manusia yang tengah jatuh cinta. Lamanya kebahagiaan yang bersemayam dalam hati, jiwa dan pikiran seseorang yang tengah jatuh cinta sangat tergantung pada motivasi orang tersebut dalam mencintai sesuatu dan “respon balik” dari subjek atau objek yang dicintainya.

Mengapa istilahnya JATUH CINTA? Bukannya TERBANG cinta, NAIK cinta atau istilah lain yang menggambarkan rasa bahagia dan semangat? JATUH…??? Bukankah jatuh itu adalah suatu kondisi yang pada umumnya berkonotasi negatif? Jatuh berarti berubah posisi dari tempat yang relatif lebih tinggi ke tempat yang relatif lebih rendah melalui proses yang biasanya tidak direncanakan dan tidak diharapkan. Ehmmm………. mungkin orang yang pertama kali “mempopulerkan” istilah ini ngawur dan tidak ahli dalam bahasa atau sastra. Ngawur..??? tidak juga ya… Kalo ngawur kenapa istilah tersebut bisa bertahan lama, berarti orang-orang yang menggunakan istilah ini ngawur juga dong.

Penasaran dengan istilah jatuh cinta membuat saya berpikir semalaman. Dengan menempatkan istilah jatuh cinta sebagai istilah yang benar dan sedikit memaksakan dalam “membela” istilah ini agar menjadi istilah yang layak digunakan. Akhirnya saya merenungi apa saja sikap yang tercipta pada diri seseorang yang tengah jatuh cinta. Ehmm…… ternyata jika sedang jatuh cinta, seseorang rela tuh ninggalin “jadwal” aktifitas hobi mereka jika itu menyangkut kepentingan orang yang dicintainya padahal sebelumnya tidak ada yang bisa ganggu “jadwal” tersebut. Jika tengah jatuh cinta sebagian besar orang akan dengan rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi seseorang yang dicintainya. Hebatnya lagi orang yang tengah jatuh cinta terkadang dengan rela dan senang hati melayani keperluan orang yang dicintainya. Ternyata… egonya JATUH dan tidak ada lagi jika menyangkut kepentingan orang yang diCINTAInya. Demi orang yang dicintainya seseorang akan dengan rela menJATUHkan dirinya di atas sebuah granat atau bom yang akan meledak demi melindungi orang yang dicintainya. (Gak percaya? Lihat saja film-film perang).

Entah benar atau tidak gambaran yang saya berikan tentang sikap orang yang tengah jatuh cinta yang jelas saya ingin mengingatkan orang-orang yang dengan mudah berkata,”Aku sedang jatuh cinta”. Jangan bilang jatuh cinta jika kita belum bisa menjatuhkan ego kita demi orang yang kita cintai. Jangan bilang jatuh cinta jika kita belum siap menjatuhkan diri di atas granat yang akan meledak demi melindungi orang yang kita cintai. Jika sudah mampu bersikap seperti itu, maka kita layak berkata, “Aku jatuh cinta”.

Namun… namun… namun belum cukup sampai disitu. Jika kita sudah “terlanjur” jatuh cinta langkah selanjutnya adalah meneliti kembali motivasi kita dalam mencintai dan memperdalam lagi wawasan kita tentang arti kata cinta. Bahasan mengenai hal ini membuat saya “merinding” karena demikian ideal hingga terbersit dalam hati, “Mampukah saya mencintai orang lain?”. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena dengan sengaja saya mengambil referensi tentang bahasan ini dari tulisan M. Quraish Shihab mengenai Al Wadud (Yang Maha Mencintai – Yang Maha Dicintai) dalam bukunya yang berjudul Menyingkap tabir Ilahi. Berikut saya mengutip beberapa penggal tulisannya ;

Kata Al Wadud terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf wauw dan dal berganda, yang mengandung arti “cinta” dan “harapan”. Demikian Ibnu Faris dalam bukunya “Maqayis”. Pakar tafsir Al Biqa’iy dalam “Nazem Ad durar”-nya berpendapat lain. Menurutnya rangkaian huruf tersebut mengandung arti “kelapangan” dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. …………………………………

Seseorang yang meneladani Alloh dalam sifat Wadud dituntut untuk selalu mencintai mahluk dan mengharap buat mereka apa yang dia harapkan untuk dirinya, seandainya ia berada dalam posisi mereka, bahkan ia mendahulukan mereka atas kepentingan dirinya sendiri. Dengan demikian ia akan menjadi objek sekaligus subjek cinta. Ia akan dicintai serta mencintai atau dengan kata lain ia menjadi wadud dalam kemampuannya sebagai mahluk. …………………………………………..

Untuk lebih jelasnya baca sendiri aja ya bukunya. Di toko buku ternama banyak kok. Terlepas Anda sepaham atau tidak dengan penulisnya (M. Quraish Shihab) namun setidaknya jika tulisannya mampu “memperbaiki” kualitas diri kita, mengapa tidak?.

Demikian, semoga bermanfaat.

……………………………………………………………………………………………………………..

Cantikku, jika cintaku padamu adalah cinta buta, campakkan aku dengan kata-kata terketus yang bisa kau ucapkan.

Cantikku, jika cintaku padamu menjauhkan aku dari Alloh maka hinakan aku dengan hinaan yang paling hina yang bisa kau lontarkan.

Cantikku, jika cintaku padamu tidak bisa membawamu pada perbaikan kualitas diri maka tutuplah hatimu untukku serapat mungkin yang kau bisa.

Namun………….

Jika cintaku karena pengabdianku pada Alloh

Jika cintaku karena ingin membawamu pada kedekatan dengan Alloh

Jika cintaku karena ingin menjadikan dirimu sebagai bidadariku kelak di hari nanti

Jangan kau palingkan wajahmu,

Jangan kau tutup hatimu,

Jangan kau campakkan diriku

Karena walaupun kualitas cintaku belum sempurna namun kala dekatmu hasrat menyempurnakan rasa cinta senantiasa ada.

Cantikku ……..

Aku cinta padamu.

Dedicated to : my pretty swetty little angel.

Re-definisi Kosa Kata dan Istilah

7 Komentar

Sudahkah kita memahami pengertian atau makna dari setiap kata atau istilah yang kita ucapkan? Apakah pengertian atau pemahaman kita terhadap sebuah kata atau istilah sudah benar? Dari mana kita mengambil pengertian tersebut? Dari kamus bahasa atau pemahaman-pemahaman yang telah diberikan kepada kita melalui pendidikan formal maupun nonformal? Sejauh mana pemahaman kita terhadap suatu kata atau istilah telah mempengaruhi paradigma kita terhadap hidup dan kehidupan?.

Mari kita ambil satu contoh istilah yang telah populer di masyarakat, yaitu istilah kebutuhan pokok. Jika kita mendengar istilah kebutuhan pokok, apa yang terlintas dalam benak kita?. Bagaimana pemahaman kita terhadap istilah ini? Sebagian besar dari kita akan menjawab kebutuhan pokok adalah sandang, pangan, papan. Mengapa jawabannya seperti itu?. Seingat saya pengertian kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) saya dapat sewaktu SD atau SMP, kalau tidak salah dalam pelajaran ekonomi dan di beberapa mata pelajaran lainnya yang terkait.

Apa sih kebutuhan itu?. Menurut saya kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan seseorang atau kelompok untuk menunjang kehidupannya.

Apa sih pokok itu?. Pokok adalah wajib atau yang utama, wajib itu harus (ada), kalau tidak ada ya mesti diusahakan agar ada, demikian kurang lebih pengertiannya. (Karena saya tidak punya kamus besar bahasa Indonesia jadi maaf jika pengertiannya tidak dalam bahasa yang ilmiah).

Dari pengertian atau pemahaman tentang kebutuhan pokok yang kita dapat sewaktu SD atau SMP tersirat bahkan tersurat sangat bernuansa “jasadi” atau fisik atau material semata. Kebutuhan akan nilai-nilai mulia dalam hidup sama sekali tidak dikategorikan sebagai kebutuhan pokok. Pemahaman mengenai kebutuhan pokok pada sebagian orang demikian mendarah daging hingga mewarnai hidupnya kala dewasa. Mereka mengerahkan segenap kemampuan untuk memenuhi tiga kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan), walaupun mereka menjalankan ibadah kepada Tuhannya namun antara ibadah dan pemenuhan kebutuhan pokok adalah sesuatu yang terpisah tidak terintegrasi menjadi satu kesatuan yang utuh. Mungkin karena itu banyak tipe orang yang taat beribadah namun pola pikir atau pola kerjanya masih materialistis. Bahkan ada yang materialistis tulen, segala sesuatunya diukur berdasarkan kemapanan materi, karena mereka menganggap hal-hal tersebut adalah yang pokok, dimana keberadaannya harus ada.

Jika demikian, salahkah pemahaman kita selama ini tentang kebutuhan pokok? Jawabnya bukan salah namun kurang tepat. Menurut pendapat saya, semestinya kebutuhan pokok yang pertama adalah kebutuhan kita akan Tuhan, kebutuhan akan nilai-nilai mulia yang dapat menghantarkan kita pada pertemuan yang indah dengan Tuhan kita yang telah memberikan segenap fasilitas pemenuhan kebutuhan kita, yaitu Alloh Ta Ala. Menurut pendapat saya, jika kebutuhan mulia tersebut telah terpenuhi maka kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti sandang, pangan, papan dapat kita raih dengan kualitas yang baik, ingat kualitas yang baik adalah prioritas yang semestinya diutamakan. Bagaimana bisa seperti itu? Iya, dengan dekat kepada Alloh Ta Ala, dengan menyerap segenap nilai-nilai mulia maka diri kita akan menjadi manusia yang mampu bersikap bijak dalam setiap situasi, dengan kebijaksanaan diri maka segenap langkah akan bermakna dan menghasilkan sesuatu yang bernilai baik.

Ingatlah, diri kita bukan hanya sekedar fisik yang hidup secara biologis semata, ada jiwa di dalamnya yang perlu dipenuhi kebutuhannya. Ingatlah, tatkala fisik tak lagi mampu beraktifitas layaknya mahluk hidup, jiwa kita akan senantiasa menjalani proses menuju level selanjutnya dari siklus kehidupan. Karena itu, semestinya kebutuhan jiwa akan nilai-nilai mulia yang dapat membahagiakan dalam nuansa kedamaian senantiasa menjadi perhatian kita.

Pemahaman akan istilah kebutuhan pokok adalah salah satu dari sekian banyak istilah yang saya “gugat”. Saya berharap dari hari ke hari saya mendapatkan pemahaman-pemahaman yang dapat menghantarkan saya pada kebahagiaan yang sebenarnya hingga senyum dapat tercipta kala hari menghadap Ilahi datang pada diri ini.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

“Thanks to all of my books”.

%d blogger menyukai ini: