Pada kondisi mental yang sangat “sehat” hati kita akan condong pada sesuatu yang mendamaikan secara substansial, hati kita akan condong pada nilai-nilai mulia, hati kita akan mencintai orang-orang suci, hati kita akan mengagumi orang-orang mulia yang kita teladani. Menurut “para ahli” bahwa hal tersebut adalah fitrah (kebutuhan dasar) manusia.

Dalam hidup, sadar atau tidak kita mempunyai idola (insipring people) yang telah mempengaruhi cara pandang kita terhadap hidup dan kehidupan. “Inspiring People” memang tidak selamanya orang-orang besar dalam sejarah. Yang jelas inspiring people setidaknya mempunyai jalan hidup, sikap, pemikiran ataupun kelebihan lainnya yang dianggap positif oleh orang yang mengaguminya.

Karena itu di masyarakat ada banyak ragam “idola” yang berkembang. Menurut analisa saya jika seseorang mengagumi orang-orang suci (mulia) dan menjadikannya panutan dalam hidup, sikap mereka akan relatif lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang mengagumi “tokoh-tokoh yang gak jelas”. Betapa besar peran “idola” dalam mempengaruhi karakter seseorang, karena itu saya mengingatkan diri saya sendiri untuk senantiasa “menyehatkan” kondisi mental dan hati hingga senantiasa condong pada karakter-karakter dan nilai-nilai mulia. Bagi seorang muslim, Rasulullah saww, beserta keluarganya yang mulia, serta sahabat-sahabat Rasulullah yang ikhlas dan mencintai Rasulullah dengan segenap jiwa raga mereka, serta para manusia-manusia mulia yang mengikuti jejaknya adalah sosok-sosok yang wajib menjadi inspirasi segenap muslim.

Bagaimana dengan sosok manusia lainnya? Boleh-boleh saja dijadikan inspirasi asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemuliaan. Demikian mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.