“Alhamdulillah… akhirnya nyampe juga di rumah, uuhhh senangnya”, kalimat tersebut kadang terlontar jika kita begitu lelah dari bepergian atau pulang dari bekerja. Namun terkadang jika keadaan rumah sedang tidak “kondusif” , berlama-lama di kantor, mampir ke rumah teman atau ke masjid atau mampir ke tempat lain adalah alternatif-alternatif yang jadi pilihan sebagai tempat menghilangkan penat. Mana yang sering kita alami?. Masing-masing orang akan mempunyai jawaban yang berbeda bahkan ada juga yang tidak memperdulikannya.

Secara fisik, bangunan yang terdiri dari beberapa bagian dengan fungsi yang berbeda di mana sebuah keluarga atau kelompok menetap di dalamnya di sebut rumah, termasuk yang tidak ditempati oleh siapapun dikarenakan beberapa hal.

Setiap rumah memiliki “jiwa”. Jiwanya pun berbeda-beda tergantung siapa dan bagaimana “kualitas jiwa” penghuninya. Memang ada sebagian orang yang percaya faktor fisik rumah (temperatur, rancang bangunan, posisi, dll) sangat berpengaruh pada “jiwa” rumah. Namun saya berpendapat faktor manusianyalah yang paling menentukan keadaan “jiwa” dari sebuah rumah, memang faktor fisik rumah mempunyai pengaruh namun bukanlah faktor yang utama.

Menurut pendapat saya saat ini, idealnya sebuah rumah merupakan tempat tinggal. Antara rumah dan tempat tinggal menurut yang ada di kepala saya mempunyai makna yang sangat jauh berbeda. Rumah adalah fisik bangunan sedangkan tempat tinggal adalah tempat di mana kita dapat merasakan kedamaian bersama orang-orang yang kita cintai, tidak masalah bentuknya seperti apa, yang penting damai hadir dalam setiap kebersamaan.

Apa saja sih yang mampu mendamaikan kita?. Jawabannya sangat normatif : segala sesuatu yang dapat meningkatkan kualitas takwa dan “kemesraan” kita kepada Alloh As Salam. 

Idealnya sih rumah bagus dengan design yang baik, sirkulasi udara menyejukkan, dan faktor-faktor kenyamanan fisik lainnya, terasa nyaman dan mampu menimbulkan kedamaian bagi yang menempatinya. Namun jika ada keterbatasan dalam bentuk fisik rumah sebaiknya gak jadi musingin kepala, berusaha saja semaksimal mungkin dalam memperbaiki kualitas diri penghuninya, jalin komunikasi yang baik antara penghuni rumah. Dengan demikian kedamaian senantiasa menyertai di setiap kebersamaan walau genteng rumah bocor sekalipun.

“Bayiti Jannati” adalah kalimat dalam bahasa Arab. Kalimat tersebut adalah sabda Rasulullah saww yang artinya “Rumahku Surgaku”. Singkat namun sarat akan makna. Jika rumah kita saat ini tak indah seperti istana namun jika kita mampu senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita, insya Alloh istana yang sesungguhnya telah tersedia untuk kita di hari nanti.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca. Tulisan ini sebenarnya merupakan harapan dan hasrat saya yang ingin memberikan nuansa kedamaian untuk orang-orang yang disayanginya di setiap kehadiran saya.

Amin.

 

“Home sweet home”