Suatu hari kedatangan dua orang teman, biasalah ngobrol, ngopi, dengerin musik. Dua orang teman, salah satunya sudah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak. Tiba-tiba gak tahu kenapa teman saya (yang sudah menikah) mengajukan pertanyaan yang ia tulis di sobekan kertas kecil, bunyinya,”Bagaimana caranya agar cinta saat pacaran sama dengan cinta sesudah menikah?”. Membaca tulisan itu saya kaget aja, kok tiba-tiba nanya hal kaya’ gitu. “Nih lu baca tulisan ini!”, jawabku sambil memberikan sebuah tulisan yang pernah saya buat. Dia membacanya, lumayan serius, lalu dia berkata,”Bukan, bukan ini maksudnya”. “Ooooo ya udah kalo gitu”, jawabku singkat. Pembicaraan kembali pada hal-hal ringan, karena saat itu sedang nonton NBA All Star ya udah obrolan gak jauh dari bola basket. Sore hari tiba…. Mereka pulang.

Malam hari, lagi nyantai di kamar dengerin musik tanpa sengaja nemuin kertas kecil yang bertuliskan pertanyaan teman saya tadi siang. Kepikiran juga jadinya… Terlanjur, akhirnya mikir juga deh…….. Ehhmmm bagaimana ya caranya agar kadar rasa cinta senantiasa stabil bersemayam di dalam hati???

…………………………………………………………………………………..

Selain tuntunan yang bersifat normatif dan kesamaan visi & misi dalam menjalin hubungan, sepertinya seorang laki-laki mesti pandai berimprovisasi dalam menjaga kehangatan cinta agar senantiasa indah dan mendamaikan sebuah keluarga yang tengah dibangun. Tentunya improvisasi yang menghasilkan harmoni indah bersandar pada tuntunan keyakinan. Singkatnya improvisasi yang positif. Setiap orang mempunyai improvisasi yang berbeda-beda.

“I’ll be your daddy, your brother, your lover and your little boy” adalah salah satu judul lagu group musik rock favorit saya, MR BIG. Terlepas siapa dan bagaimana karakter personil MR BIG saya telah terinspirasi oleh judul lagunya untuk menjawab pertanyaan teman saya.

“Bagaimana caranya agar rasa cinta pada saat awal hubungan sama dengan rasa cinta setelah menikah”.

Menurut saya seorang lelaki sebaiknya mampu memerankan “peran” yang tepat dalam setiap situasi dan kondisi yang berbeda. Tidak bijak jika hanya satu pola sikap atau peran yang ia “mainkan”. Sikapnya pada pasangan yang ia cintai akan lebih baik jika disesuaikan dengan kondisi psikologis atau sikap sang istri.

Misalkan jika istri sedang datang ngambeknya, timbul sifat kekanak-kanakannya dan berbuat kesalahan maka sang suami lebih baik bersikap bijaksana layaknya seorang AYAH yang tengah menghadapi anak wanitanya yang perlu di”dewasa”kan, menasehatinya dengan “nuansa kebapakan” yang bijak, mengarahkan tanpa terkesan menggurui.

Jika sang istri sedang punya masalah dengan keluarga atau kerabat terdekatnya kenapa tidak suami berperan seperti seorang KAKAK atau ADIK tempat ia curhat dan meminta dukungan dalam menghadapi masalah, bersikap seperti kakak yang siap membantu dan mendukungnya.

Jika sang istri sedang timbul manjanya, timbul “narsis”nya (narsis positif lho) ya sudah jadilah seorang KEKASIH yang mampu memanjakannya dan memujinya, menyenangkan hatinya, melambungkan angannya hingga menyentuh awan.

Jika sang istri sedang timbul “wibawa”nya, lagi “jaim” pokoknya lagi “sok dewasa dan sok berkuasa” ya sudah suami tidak perlu merasa tersaingi, biarkan saja, kenapa gak suami bersikap seperti ANAK KECIL yang nakal, yang sedang ngeledekin ibunya, udah gitu nanti istri kan marah tuh…. Jika sudah marah ya sudah minta maaf deh kalau perlu pake “nangis bo’ongan”, minta maafnya jangan formal-formal banget, ya kaya’ anak kecil minta maaf, pake bahasa-bahasa lucu nantikan istri ketawa tuh… kalo udah ketawa selanjutnya terserah deh….

Maaf jika solusinya kurang tepat, maklum aja ini kan hanya salah satu alternatif bentuk improvisasi. Lagi pula yang namanya improvisasi beda-beda dikit bahkan beda sama sekali gak apa-apa yang penting tujuannya yaitu menciptakan harmoni indah. Intinya sih jangan memainkan peran yang itu itu aja, gak lucu kan kalau istri lagi ada masalah sikap kita seperti orang yang baru jatuh cinta, merayu, muji-muji dengan pujian “basi” yang gak bisa menyelesaikan masalah. Gak lucu juga jika istri membuat kesalahan kita biarkan, malah sikap kita seperti orang yang baru jatuh cinta dengan cinta buta, bukannya menasehati malah memuji dan bersikap mesra, jika peran itu yang dimainkan kapan istri dapat memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Demikian, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika tulisan ini tidak tepat guna dan pembaca tidak sependapat dengan saya. Maaf, maaf, maafkan aku teman, hanya sebatas ini yang bisa aku berikan untuk menjawab pertanyaanmu. Ajari aku agar dapat menjadi lelaki yang baik.

Dedicated to : my drumer at Alma.