“Sekali… dua kali… tiga kali… gua diemin lu masih gitu-gitu aja, gak berubah sama sekali, mau lu apa sih? Gimana sih lu jadi orang?”, kalimat ini biasanya terlontar dari orang-orang yang kesabarannya hampir atau bahkan telah habis dalam menghadapi orang yang telah mengecewakannya. Kerap terjadi hal seperti itu, kalau mau gampang dan tidak mau pusing. “Just take it or leave it”. Tetap pertahankan hubungan atau tinggalkan. Itu pilihan dangkal yang biasanya disertai dengan emosi yang masih bersarang di dalam hati. Jika hubungan akhirnya putus dikarenakan satu pihak atau lebih telah mengecewakan pihak lainnya maka semuanya berada pada posisi yang kalah. Mungkin saja itu pilihan yang tepat untuk sementara waktu. Tapi, bijakkah keputusan itu? Efektifkah keputusan itu untuk hasil atau maslahat jangka panjang?

Ada baiknya sebelum kita “menghakimi” orang lain yang telah mengecewakan kita ada proses analisa yang bertujuan untuk mengetahui kenapa orang tersebut telah mengecewakan kita. Jika ada kecewa kemungkinan terbesar adalah adanya problem. Menurut teori, problem adalah (adanya) perbedaan antara das sollen (yang seharusnya) dan das sein (yang nyata). Jika kita kaji teori problem ini maka kemungkinan ada perbedaan persepsi tentang das solllen dan das sein di antara pihak yang “mengecewakan” dan pihak yang “dikecewakan”. Jika ini yang terjadi maka perlu pembicaraan panjang antara ke dua belah pihak agar mempunyai persepsi yang sama tentang das sollen dan das sein pada peristiwa “mengecewakan” yang terjadi.

Proses tersebut sebaiknya disertai dengan nil amarah, keinginan untuk memberikan yang terbaik dan tentunya sabar dan mau mendengar, bukan saja mendengar dengan telinga tapi dengan hati. Akan lebih baik lagi jika suasana direkayasa sedemikian rupa hingga masing-masing pihak merasa nyaman. Lucu juga jika diiiringi dengan musik atau secangkir kopi atau teh (minuman favorit masing-masing pihak, asal jangan minuman keras!!!). Jika sudah nyaman, baru deh dibicarakan semuanya, dan yang perlu diingat jauhkan bensin atau zat-zat mudah terbakar lainnya, khawatir akan terbakar jika terkena “panas”nya emosi yang mungkin timbul. (Hehehe gak lucu ya..?). Demikian. Kesimpulannya jangan melakukan “pembicaraan panas” di pom bensin. Kenapa? Ya sulitlah…. kan banyak kendaraan yang mau isi bahan bakar.

Nah sekarang mari kita kaji kemungkinan-kemungkinan penyebab sesuatu yang mengecewakan terjadi dan solusi bijaknya (Bijak menurut saya jika tidak sependapat dengan pembaca maafkan saya, dan harap maklum jika solusi yang dihadirkan kurang tepat).

Kemungkinan Pertama.

Kemungkinan pertama adalah adanya satu pihak atau lebih yang tidak amanah, walau masing-masing pihak mempunyai persepsi yang sama tentang das sollen & das sein namun jika ada pihak yang tidak amanah maka akan ada pihak yang dikecewakan. Jika ini yang terjadi maka diperlukan proses penyadaran terhadap pihak yang tidak amanah dan kesabaran dari pihak yang dikecewakan. Pihak yang dikecewakan sebaiknya mau menganalisa atau setidaknya mendengar mengapa terjadi penyimpangan terhadap suatu amanah. Tentunya akan sangat lebih baik jika dilakukan tanpa amarah.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan orang tidak amanah. Mungkin ada situasi dan kondisi mendesak yang membuat seseorang tidak amanah. Mungkin keterbatasan kemampuan dan wawasan hingga orang tidak amanah. Mungkin di dalam hatinya sebenarnya tidak berniat untuk tidak amanah namun keadaan yang tidak kondusif membuat dia bersikap tidak amanah.

Mungkin……. Mungkin……… Mungkin…….

Pokoknya banyak deh kemungkinannya, karena itu pihak yang dikecewakan sebaiknya mendengar dengan hati dan menganalisanya dengan baik, setelah itu baru deh mengambil sikap, dan pihak yang tidak amanah pun sebaiknya jujur dalam mengungkapkan kondisi sebenarnya, dan ucapkan maaf sebagai janji untuk tidak mengulanginya lagi di waktu yang akan datang.

Sekali lagi, rekayasa suasana sebaiknya dilakukan agar hasilnya relatif lebih baik dan maksimal.

Kemungkinan Kedua

Masing-masing pihak merasa benar sehingga adu mulut terjadi dengan serunya, ke dua belah pihak telah mengecewakan dan dikecewakan bersamaan. Bahkan dalam “sinetron” hingga melibatkan mahluk lain seperti gelas, piring, asbak, kursi, meja yang beterbangan, lebih hebat lagi kalo di film kartun; mobil, kereta api, rumah bahkan apa saja bisa terbang. Jika ini yang terjadi (masing-masing pihak merasa benar) sepertinya selain perlu adanya “rekayasa suasana”, rehat sesaat, pihak yang bertikai perlu menghadirkan pihak ketiga yang dianggap lebih bijak untuk melerai mereka. Karena tanpa pihak ketiga “pertandingan” akan berjalan alot. Walau bisa saja masalah selesai namun akan terjadi adu debat yang luar biasa rame karena masing-masing pihak akan mengeluarkan argumentasi disertai referensi yang saling menguatkan. Walaah pkoknya rame deh.

Peran pihak ketiga ini bukan memutuskan siapa yang salah atau siapa yang benar, pihak ketiga hanya mengarahkan agar segenap pihak mampu menempatkan segala sesuatunya secara proporsional.

Kemungkinan Ketiga

Tidak ada pihak yang tidak amanah. Pihak yang dianggap telah mengecewakan tidak merasa bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang membuat pihak lain kecewa, bahkan ia merasa telah melakukan segalanya dengan maksimal. Namun demikian pihak lain merasa telah dikecewakan. Jika ini yang terjadi, kemungkinan penyebabnya adalah pihak yang merasa dikecewakan mempunyai standard nilai yang lebih tinggi terhadap suatu “urusan” dibandingkan dengan pihak yang dianggap telah mengecewakan.

Bisa juga pihak yang dianggap mengecewakan benar-benar “oneng” terhadap suatu urusan walaupun sebenarnya standard nilai pihak yang dikecewakan biasa-biasa aja, ya standard lah…. Dalam kasus ini kita bisa belajar atau amati dari “sinetron komedi” yang tengah marak di stasiun televisi tanah air. Jika ini yang terjadi sekali lagi perlu adanya proses pembelajaran dari pihak yang relatif lebih “pintar”. Jika pihak yang lebih pintar marah-marah maka secara otomatis ia menjadi orang yang tidak bijak bahkan bisa jadi “oneng” juga. Gak percaya? Liat aja Bajuri suaminya Oneng, Bajuri akan terlihat “oneng” jika dia tidak bisa ngadepin ke”oneng”an Si Oneng. Oya ada lagi, Sasya… sekretaris Pak Taka? Temen kerjanya Gusti dan Pak Hendra? No Comment…. sepertinya tidak akan pernah ada deh sosok Sasya dalam dunia nyata…. Sasya… Sasya…. Kok bisa sih kaya’ gitu ?

Di mana posisi kita jika ada suatu masalah?. Kita bisa saja ”berperan” sebagai pihak yang mengecewakan pada suatu waktu dan pada waktu yang lain menjadi pihak yang dikecewakan. Posisi-posisi tersebut mungkin pernah dan bahkan akan kita alami. Yang terpenting dalam setiap posisi yang kita alami, sikap bijak, sabar dan mau mendengar serta keinginan untuk menjadi yang lebih baik perlu dijadikan prioritas sikap dalam keseharian kita.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca dan jika ada kemungkinan-kemungkinan lain harap tulisan ini disempurnakan hingga kebijaksanaan tercipta di antara kita.

“a wisdom is a process. Keep believe my friends”