Apa yang paling Anda impikan dalam hidup ini?

Apakah saat ini Anda tengah dalam proses mewujudkan mimpi?

Sudahkah Anda “mendiskusikan” mimpi-mimpi Anda dengan pasangan hidup, kerabat terdekat bahkan dengan diri Anda sendiri?

Sudahkah Anda menyesusaikan mimpi Anda dengan segenap yang ada pada diri Anda?

Yakinkah Anda jika mimpi Anda terwujud dapat membawa Anda pada kebahagiaan yang sebenarnya?

Yakinkah Anda bahwa mimpi-mimpi Anda akan bermanfaat secara nyata (materiil dan spirituil) terhadap Anda dan orang-orang yang Anda cintai dan lingkungan sekitar Anda?

Jika jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah positif (Ya / sudah), maka Anda wajib menularkan mimpi-mimpi Anda kepada saya. Namun jika jawaban dari pertanyaannya di atas masih banyak yang negatif (Tidak / belum) maka mari kita bersama-sama belajar dalam bermimpi.

Apa..!!!??? Belajar dalam bermimpi???

Iya !!! Dalam segala hal yang dapat meningkatkan kualitas hidup, kita sebaiknya belajar, bahkan dalam bermimpipun akan lebih baik jika kita belajar.

Mengapa ???. Karena “mimpi” sangat berpengaruh terhadap keseharian sikap dan kegiatan seseorang dalam hidupnya. Mimpi seperti apa yang baik untuk kita?. Menurut saya sih mimpi yang proporsional. Proporsional? Iya dong, mesti proporsional, kalau terlalu tinggi gimana bisa nyampe dan kalau terlalu

rendah, malas amat sih jadi orang !!!. Proporsional? Iya… kita mesti menyesesuaikan dengan kemampuan maksimal yang bisa kita lakukan, sesuaikan dengan potensi maksimal yang ada pada kita dan ingat jangan “diada-adain”, seadanya saja. Jujur dalam menilai kemampuan dan potensi kita.

Aaaahhhh…. waktu kecil kan kita disuruh menggantungkan cita-cita setinggi langit!!!. Benar, tapi perlu juga diingat bahwa langit itu berlapis-lapis, ada tujuh lapis langit! Lapisan langit pertama saja sudah tinggi banget apalagi yang ke tujuh. Jika potensi dan kemampuan kita mampu menggantungkan mimpi sampai

langit ke tujuh ya lakukan, namun jika hanya sampai langit pertama ya gak masalah, toh tetap langit, dari dulu sampe kapanpun yang namanya langit itu tinggiiiiiiiii bangeeeettt…

Ingat juga, selain langit ada juga bumi yang menurut sumber terpercaya mempunyai tujuh lapisan juga. Jangan sampai tertipu dengan “nilai sebenarnya” dari sebuah mimpi. Bisa jadi mimpi yang menurut kita tinggi menyentuh langit ternyata sebenarnya tidak tinggi bahkan sangat rendah terperosok sampai ke dasar

bumi.

Mimpi seperti apa sih yang tinggi menyentuh langit? Mimpi yang menyentuh langit adalah mimpi yang dapat membawa kita terbang, terbebas dari ikatan gravitasi, mimpi yang membuat kita “ringan” hingga dapat terbang melayang menyentuh langit, mimpi yang tidak membebani kita. (Bukankah rasa bahagia sering digambarkan seperti terbang melayang oleh para sastrawan). Mimpi yang tinggi adalah mimpi yang akan

membawa Anda pada kebahagiaan hakiki.

Kebahagiaan hakiki? Waahhh nyerah deh… kalau mengenai definisi kebahagiaan hakiki saya kebingungan sendiri menjawabnya, selain kemampuan yang terbatas wilayah ini lebih layak dibahas oleh alim ulama yang mumpuni, alim ulama yang tawadhu, dan yang sudah jelas bukti nyata keimanan dan keilmuannya. Kalau saya hanya menjelaskan sebatas yang saya tahu dan saya tidak “memaksa” Anda untuk sepaham dengan

saya dalam hal ini. Saya ingin simple dalam hidup, karena itu pemikiran saya pun simple dalam hal ini. Menurut yang saya yakini tentang ini adalah berdasarkan sabda Rasulullah saww, yaitu “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”. Dan sabda Rasulullah saww yang berbunyi,”Yang paling baik di antara kamu adalah yang paling bertakwa”.

Dari penjelasan-penjelasan saya (yang kadang gak jelas) di atas saya menyimpulkan bahwa mimpi yang t

inggi (menyentuh langit berapapun) adalah mimpi yang berorientasi pada kemaslahatan diri sendiri, keluarga, kerabat dekat, dan orang lain serta lingkungan sekitar kita yang diwarnai dengan nilai-nilai takwa. Semakin banyak orang yang tersentuh dengan kemaslahatan mimpi kita maka itu berarti mimpi kita

semakin tinggi.

Jadi…. mimpi menjadi orang kaya raya, punya emas tiga gunung, uang udah gak bisa dihitung lagi karena banyaknya seperti “Paman Gober(Pamannya Donald Bebek)” boleh dong? Boleh banget, asal dalam memperoleh kekayaan tersebut dilakukan dengan sikap ihsan dan setelah kita memperolehnya kita mau berbagi dengan sesama.

Jadi…. mimpi menjadi orang tenar sampai dikenal oleh orang seplanet bumi bahkan seluruh galaksi bimasakti boleh dong? Boleh banget asal ketenaran kita adalah ketenaran dalam kebaikan dan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk bisa menjadi orang yang lebih baik dan lebih bertakwa.

Jadi… mimpi menjadi penguasa pun boleh dong? Boleh banget, asal proses kita menduduki kekuasaan dilakukan dengan tingkat kebijaksanaan yang mulia dan jika telah jadi penguasa kita dapat menggunakan

kekuasaan kita untuk menghantarkan orang lain pada kualitas hidup (lahir dan batin) yang lebih baik.

Lalu… jika ternyata saat ini mimpi kita tidak seperti itu gimana dong?. Tenang aja… selagi masih ada waktu walaupun tinggal sedetik kita dapat melakukan langkah yang paling awal, yaitu niatkan diri untuk bermimpi yang tinggi. Selanjutnya buat perencanaan yang efektif dalam mewujudkannya. Libatkan orang-orang terdekat kita, tentunya komunikasikan terlebih dahulu dengan komunikasi yang arif dan bijaksana.

Kenapa sih repot-repot punya mimpi yang tinggi? Yeeeeee gimana sih…. memangnya gak tahu apa bahwa setiap yang hidup pasti akan menemui mati.

Ingat !!!. Titik akhir dari semua mimpi adalah mati.

Jika saat ini kita tidak mempunyai mimpi yang tinggi….. maka bermimpilah….

Demikian mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

Teman …. Selamat bermimpi, ajak aku, libatkan aku dalam mimpi indahmu hingga nanti kita bertemu di akhir mimpi kita.