“Waahhh sulit deh ngadepin orang yang sudah benar-benar gak suka sama kita, sebaik apapun yang kita lakukan tetap aja gak baik di mata dia”, demikian kalimat yang kerap terlontar dari beberapa orang yang merasa telah tidak disukai oleh pihak lain. Dengan kata lain pihak yang merasa tidak disukai menilai pihak yang tidak suka pada dirinya telah bertindak subjektif tidak objektif. Terkesan bahwa pihak yang “tidak objektif” telah bertindak salah dan pihak yang tidak disukai sebagai pihak yang benar dan telah di“aniaya” oleh pihak yang tidak objektif. Biasanya juga kita akan “menghibur” teman kita yang merasa tidak disukai dengan kalimat,”Sabar aja, nanti juga dia kena batunya”. Jika kesan tersebut yang timbul, benarkah kesan tersebut?. Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Tergantung pada kualitas diri masing-masing pihak yang “bertikai” dan standard (tolak ukur) yang digunakan oleh masing-masing pihak.

Dalam tiap interaksi antara dua pihak atau lebih terkadang rasa suka atau tidak suka kerap hadir mewarnai suatu hubungan. Rasa suka ini bisa mengenai apa saja, entah pada suatu subjek, objek, “urusan”, bahkan sesuatu yang ada pada diri pihak-pihak yang berinteraksi, bisa mengenai urusan-urusan yang “sepele” ataupun urusan-urusan besar.

Menurut pendapat saya saat ini, sikap suka atau tidak suka terhadap sesuatu tidak bisa dipungkiri bernuansa subjektif. Ada sebagian orang “dewasa” yang berusaha bahkan merasa dirinya telah objektif namun tetap saja sangat sulit sekali bahkan hampir tidak mungkin menjadi orang yang benar-benar 100% objektif dalam menilai sesuatu.

Sikap suka atau tidak suka bersifat sangat relatif, sikap-sikap ini sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, diantaranya faktor keyakinan, faktor ke”dewasa”an, faktor geografis, lingkungan sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan wawasan serta faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi pembentukan karakter maupun paradigma seseorang terhadap segala sesuatu yang berada di dalam dan di luar dirinya.

Karena demikian relatifnya “nilai” suka atau tidak suka ini maka sepertinya kita memerlukan standard (tolak ukur) yang valid dan tepat guna sebelum mengambil sikap suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Tanpa adanya standard ini rasanya kita akan hidup didunia yang kurang nyaman untuk didiami.

Pertanyaannya sekarang adalah, apa dasar kita selama ini dalam menyukai atau tidak menyukai sesuatu? Jika sudah memiliki standard, apakah standard yang kita gunakan sudah tepat?

Apakah dalam menilai sesuatu atau seseorang kita sudah terbebas dari egoisme pribadi?. Kalau saya sih saat ini belum benar-benar menguasai standard yang tepat, saya tengah dalam proses mempelajari standard yang saya yakini dan tengah menghilangkan sifat egois dalam diri. Sebisa mungkin tidak menilai sesuatu sebelum menganalisanya dengan data-data yang lengkap. Standard yang tengah saya pelajari tentunya sesuai dengan keyakinan saya, yaitu Al Quran dan sunah Rasulullah saw beserta keluarganya yang mulia. Menurut saya, standard tersebut adalah standard terbaik yang pernah ada di muka bumi, hanya saja terkadang saya “sok” mencari literatur yang dianggap “modern”.

Sependapat dengan saya? Maaf dalam hal yang satu ini saya tidak meminta maaf kepada pembaca jika pembaca tidak sependapat dengan saya.

Demikian, semoga bermanfaat.

“Nobody is perfect in our millenium”