Jadilah dirimu sendiri.

Saya ingin jadi diri saya sendiri.

Kalimat-kalimat ini bisa benar bisa juga salah tergantung pada kondisi atau kualitas diri seseorang pada saat mengatakan kalimat tersebut.

Memangnya diri kita sendiri seperti apa sih?

Memangnya kita sudah benar-benar mengenal diri kita?.

Kajian tentang pertanyaan ini saja sudah sangat “rumit” untuk dijelaskan, apalagi menjawabnya dengan jawaban yang tepat. Diperlukan seseorang yang benar-benar “ahli” untuk menjelaskannya secara tuntas. Dalam hal ini saya “menyerah”, saya sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskannya secara tuntas dan tepat. Jika demikian “rumit”nya pengenalan terhadap diri kita mengapa ada sebagian orang yang begitu lugas mengatakan “Saya ingin jadi diri saya sendiri” atau “Jadilah dirimu sendiri” seolah orang tersebut sudah benar-benar mengenal dirinya yang sesungguhnya dan mengenal orang lain dengan sangat baik.

Terkadang kalimat-kalimat tersebut digunakan untuk menjustifikasi ketidakmampuan seseorang dalam memperbaiki dirinya berdasarkan standard ideal yang sesuai dengan keyakinannya. Terkadang kalimat tersebut terlontar dengan nuansa egoisme yang demikian kental. “Inilah saya, saya tidak perduli dengan komentar orang lain, saya ingin jadi diri saya sendiri!”, demikian kurang lebih kalimat yang terlontar tatkala seseorang tengah di”serang” kepribadiannya. Kalimat “Jadilah dirimu sendiri” bahkan hampir menjadi kalimat wajib di kalangan beberapa kelompok orang untuk memotivasi orang lain agar dapat menonjolkan “keunikan” masing-masing individu.

Ijinkan saya bertanya sedikit kepada orang yang telah berani mengatakan, “Saya ingin jadi diri saya sendiri!”.

Benarkah dirimu yang sekarang ini adalah “dirimu” sendiri? Tidak terpengaruh oleh karakter seseorang yang gak jelas kualitasnya?

Benarkah “dirimu” saat ini telah membawamu pada kedamaian hati?

Benarkah “dirimu” saat ini telah berjalan sesuai dengan standard yang dapat membawamu pada kebahagiaan abadi?

Benarkah “dirimu” saat ini telah sesuai dengan bisikan hati nuranimu?

Benarkah keberadaan “dirimu” saat ini telah memberikan kontribusi positif kepada kerabat dekat dan lingkungan di mana kamu tinggal?

Benarkah keberadaan dirimu tidak mengganggu keberadaan orang lain?

Menurut pendapat saya saat ini, lebih baik kita mempelajari sejarah manusia-manusia mulia yang sudah jelas kontribusinya bagi masyarakat bahkan bagi peradaban manusia.

Ada kalimat yang pernah terucap dari orang bijak, “Kenalilah dirimu maka kau akan mengenal Tuhanmu” Jika kau mengenal dirimu maka kau akan lebih dekat dengan Tuhanmu. Inilah indikator yang paling tepat – menurut saya – dalam hal menjadi diri sendiri.

Jadilah dirimu sendiri, inilah saya, saya ingin jadi diri saya sendiri dan ungkapan lainnya yang sejenis adalah ungkapan yang benar jika yang mengucapkannya dapat menjadi semakin dekat dan “mesra” dengan Tuhannya. Benar jika keadaan dirinya tengah berproses menuju ideal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Tuhannya. Salah jika ungkapan tersebut terucap dari seseorang yang tidak merasakan damai dalam hatinya, salah jika terucap dari seseorang yang tidak semakin dekat dengan Tuhannya bahkan tidak berproses untuk menjadi ideal seorang manusia sesuai dengan yang Tuhan kehendaki.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

Ya Alloh, ampuni aku atas ketidakmampuanku dalam mengenal diriku.

Ya Alloh, ampuni aku atas ketidakmampuanku mengenal keagunganMu,

Ya Alloh, ampuni aku atas ketidakmampuanku dalam mengendalikan segenap potensi yang telah Engkau anugerahkan ke arah yang Engkau ridhoi.