Bahkan Mimpi Kita pun Sebaiknya Sama

5 Komentar

Kesamaan visi dan misi pada dua orang atau lebih relatif akan lebih melanggengkan suatu hubungan.

Malah terkadang hubungan akan berjalan saling mengisi walau di antara mereka tidak ada komitmen apapun.

Sebaliknya walaupun suatu hubungan telah terjalin dengan adanya komitmen namun jika ada perbedaan visi dan misi hidup, hubungan tersebut dalam jangka panjang relatif lebih rawan akan kerenggangan bahkan perpisahan.

Demikian hasil pengamatan saya sementara ini.

Dalam bahasa puitis biasanya visi dan misi diwakilkan oleh kata “mimpi”. Kali ini saya membatasi pembahasan pada mimpi dua orang (satu pasangan) laki-laki dan perempuan yang tengah menjalin hubungan, yang serius tentunya.

Banyak ragam motivasi seseorang dalam menjalin hubungan serius dengan orang lain. Motivasi ini sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor lingkungan sosial, geografis, wawasan, kebutuhan hidup, tingkat kedewasaan dan faktor-faktor lainnya.

Menurut pendapat saya saat ini suatu hubungan akan berjalan dengan relatif lebih baik jika dilandasi dengan persamaan mimpi, berkomitmen untuk menjalin hidup bersama mewujudkan mimpi. Mimpi seperti apa? Tentunnya mimpi yang berlandaskan pada nilai-nilai mulia yang diajarkan oleh agama yang kita yakini. Mengapa mimpi yang seperti itu? Karena menurut pendapat saya mimpi yang tidak berlandaskan pada nilai-nilai mulia suatu saat akan menemukan kehampaan. Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Iya, karena jiwa kita pada dasarnya condong bahkan sangat membutuhkan nilai-nilai mulia yang substansial, jika mimpi kita tidak berorientasi pada hal tersebut jiwa kita akan tetap “dahaga”, kebutuhannya belum bahkan tidak terpenuhi. Karena itu kita senantiasa dianjurkan untuk senantiasa belajar, bahkan kewajiban belajar ini dilukiskan sebagai proses yang tiada akhir, dari buaian sampai ke liang lahat.

Bagaimana dengan pasangan yang sudah terlanjur berkomitmen namun mempunyai mimpi yang tidak berorientasi pada nilai-nilai mulia substansial? Jawabnya, ya segera ubah mimpinya, banyak belajar, banyak bertanya pada orang yang mumpuni dan bertekad untuk menjalani hidup berdasarkan nilai-nilai mulia substansial.

Bagaimana dengan karakter masing-masing? Bagaimana dengan hobi atau kebiasaan hidup masing-masing? Apakah mesti sama juga? Oooo kalau hal-hal tersebut di atas tidak perlu sama persis. Beda-beda tipis bahkan beda banget juga tidak apa apa, yang penting mimpinya sama.

Kalau dalam agama ada istilah furu’iyah atau cabang, di mana pada wilayah ini orang boleh beda, namun dalam hal-hal yang sifatnya mendasar tidak boleh beda. Untuk lebih jelasnya tanya sama pak ustadz ya, dalam hal ini saya tidak begitu menguasai secara detail.

Perbedaan-perbedaan dalam “wilayah” yang bukan “wilayah utama” akan membuat hidup jadi lebih berwarna, ada proses saling mengisi kekurangan masing-masing. Jika kita mampu mensinergikan perbedaan tersebut, proses mewujudkan mimpi akan terjadi relatif lebih cepat dan tidak menjemukan. Konflik kecil, mara-marahan sebentar, ngambek-ngambekan sesaat sepertinya akan menjadi bumbu yang membuat hidup makin sedap dinikmati. Asal jangan kebanyakan bumbu nanti makanan jadi tidak enak disantap malah jadi bikin enek. Demikian kurang lebihnya, maaf jika kurang berkenan dan tidak sependapat dengan pembaca.

Inspiring Person…

Tinggalkan komentar

Pada kondisi mental yang sangat “sehat” hati kita akan condong pada sesuatu yang mendamaikan secara substansial, hati kita akan condong pada nilai-nilai mulia, hati kita akan mencintai orang-orang suci, hati kita akan mengagumi orang-orang mulia yang kita teladani. Menurut “para ahli” bahwa hal tersebut adalah fitrah (kebutuhan dasar) manusia.

Dalam hidup, sadar atau tidak kita mempunyai idola (insipring people) yang telah mempengaruhi cara pandang kita terhadap hidup dan kehidupan. “Inspiring People” memang tidak selamanya orang-orang besar dalam sejarah. Yang jelas inspiring people setidaknya mempunyai jalan hidup, sikap, pemikiran ataupun kelebihan lainnya yang dianggap positif oleh orang yang mengaguminya.

Karena itu di masyarakat ada banyak ragam “idola” yang berkembang. Menurut analisa saya jika seseorang mengagumi orang-orang suci (mulia) dan menjadikannya panutan dalam hidup, sikap mereka akan relatif lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang mengagumi “tokoh-tokoh yang gak jelas”. Betapa besar peran “idola” dalam mempengaruhi karakter seseorang, karena itu saya mengingatkan diri saya sendiri untuk senantiasa “menyehatkan” kondisi mental dan hati hingga senantiasa condong pada karakter-karakter dan nilai-nilai mulia. Bagi seorang muslim, Rasulullah saww, beserta keluarganya yang mulia, serta sahabat-sahabat Rasulullah yang ikhlas dan mencintai Rasulullah dengan segenap jiwa raga mereka, serta para manusia-manusia mulia yang mengikuti jejaknya adalah sosok-sosok yang wajib menjadi inspirasi segenap muslim.

Bagaimana dengan sosok manusia lainnya? Boleh-boleh saja dijadikan inspirasi asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemuliaan. Demikian mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

rumah ..?? tempat tinggal..?????

1 Komentar

“Alhamdulillah… akhirnya nyampe juga di rumah, uuhhh senangnya”, kalimat tersebut kadang terlontar jika kita begitu lelah dari bepergian atau pulang dari bekerja. Namun terkadang jika keadaan rumah sedang tidak “kondusif” , berlama-lama di kantor, mampir ke rumah teman atau ke masjid atau mampir ke tempat lain adalah alternatif-alternatif yang jadi pilihan sebagai tempat menghilangkan penat. Mana yang sering kita alami?. Masing-masing orang akan mempunyai jawaban yang berbeda bahkan ada juga yang tidak memperdulikannya.

Secara fisik, bangunan yang terdiri dari beberapa bagian dengan fungsi yang berbeda di mana sebuah keluarga atau kelompok menetap di dalamnya di sebut rumah, termasuk yang tidak ditempati oleh siapapun dikarenakan beberapa hal.

Setiap rumah memiliki “jiwa”. Jiwanya pun berbeda-beda tergantung siapa dan bagaimana “kualitas jiwa” penghuninya. Memang ada sebagian orang yang percaya faktor fisik rumah (temperatur, rancang bangunan, posisi, dll) sangat berpengaruh pada “jiwa” rumah. Namun saya berpendapat faktor manusianyalah yang paling menentukan keadaan “jiwa” dari sebuah rumah, memang faktor fisik rumah mempunyai pengaruh namun bukanlah faktor yang utama.

Menurut pendapat saya saat ini, idealnya sebuah rumah merupakan tempat tinggal. Antara rumah dan tempat tinggal menurut yang ada di kepala saya mempunyai makna yang sangat jauh berbeda. Rumah adalah fisik bangunan sedangkan tempat tinggal adalah tempat di mana kita dapat merasakan kedamaian bersama orang-orang yang kita cintai, tidak masalah bentuknya seperti apa, yang penting damai hadir dalam setiap kebersamaan.

Apa saja sih yang mampu mendamaikan kita?. Jawabannya sangat normatif : segala sesuatu yang dapat meningkatkan kualitas takwa dan “kemesraan” kita kepada Alloh As Salam. 

Idealnya sih rumah bagus dengan design yang baik, sirkulasi udara menyejukkan, dan faktor-faktor kenyamanan fisik lainnya, terasa nyaman dan mampu menimbulkan kedamaian bagi yang menempatinya. Namun jika ada keterbatasan dalam bentuk fisik rumah sebaiknya gak jadi musingin kepala, berusaha saja semaksimal mungkin dalam memperbaiki kualitas diri penghuninya, jalin komunikasi yang baik antara penghuni rumah. Dengan demikian kedamaian senantiasa menyertai di setiap kebersamaan walau genteng rumah bocor sekalipun.

“Bayiti Jannati” adalah kalimat dalam bahasa Arab. Kalimat tersebut adalah sabda Rasulullah saww yang artinya “Rumahku Surgaku”. Singkat namun sarat akan makna. Jika rumah kita saat ini tak indah seperti istana namun jika kita mampu senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita, insya Alloh istana yang sesungguhnya telah tersedia untuk kita di hari nanti.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca. Tulisan ini sebenarnya merupakan harapan dan hasrat saya yang ingin memberikan nuansa kedamaian untuk orang-orang yang disayanginya di setiap kehadiran saya.

Amin.

 

“Home sweet home”

 

ini puisi.???

Tinggalkan komentar

Malam Memang Gelap.

Malam memang gelap,

dari dulu sampe kapanpun

yang namanya malam itu gelap

Aku gak akan bisa mendatangkan terangnya matahari

hingga aku harus menunggu

Sang mentari menampakkan diri

Nah… itu yang namanya pagi…..

Lama memang nunggu pagi datang

tapi, memang itu yang bisa kulakukan

aahhh, selagi nunggu pagi datang

aku duduk sendiri, bersihin diri

agar ada sedikit terang di hati.

Yaaa, walau malam memang gelap

Tapi setidaknya aku tidak kalap

Karena ada sedikit terang di hati

Semua itu terjadi karena aku memang belum mati

Setelah kupikir, manusia itu harus punya arti

Jadi, gak sia-sia tatkala ketemu mati

Lagi pula buat apa hidup tanpa arti

Walau gelap malam kan selalu ada

Toh habis malam itu ada pagi

Jadi…… nikmatin aja sang malam dengan perbaikan diri.

Arti sebuah rasa peduli…

1 Komentar

Bayangkan suatu hari Anda tengah merasa sendiri menghadapi sebuah masalah yang lumayan mengusik kedamaian hati Anda. Bayangkan pada saat itu tidak ada satu orang pun yang menanyakan keadaan Anda apalagi menawarkan solusi dari permasalahan yang tengah Anda hadapi. Tiba-tiba Anda menerima “sms” dari seorang teman lama yang tidak Anda duga sama sekali, isi “sms” tersebut menanyakan keadaan Anda dan memberikan informasi yang dapat menyelesaikan permasalahan Anda. Perasaan apa yang akan timbul dalam hati Anda? Haru? Senang? Atau malah kesal?. Jika kejadian tersebut terjadi pada saya kemungkinan besar saya akan merasakan keharuan dan kebahagiaan walaupun belum tentu informasi tersebut dapat menyelesaikan masalah namun kepedulian yang telah diberikan teman kepada kita setidaknya memberikan setitik rasa bahagia seolah tidak lagi sendiri dalam menghadapi masalah.

Betapa besar arti sebuah rasa peduli kepada seorang teman. Setidaknya hal tersebut menunjukkan bahwa diri kita masih tersimpan dalam hatinya. Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kita memiliki jadwal untuk menjaga tali silaturahmi walaupun hanya sekedar lewat “sms”, e-mail ataupun media komunikasi lainnya.

Sepertinya akan lebih baik jika kita mempunyai budget khusus untuk menjaga dan menjalin tali silaturahmi, menumbuhkan rasa peduli di antara kerabat. Dengan itu semua diharapkan dunia akan terasa lebih nyaman di singgahi, kedamaian dan kebersamaan setidaknya mampu berlama-lama bersemayam dalam hati.

Sungguh teman, rasa peduli kita kepada teman mempunyai arti yang besar, walau hanya sekedar “sms”…. ya walau hanya sekedar lewat “sms”…

Dedicated to : Neng Alya…… Nice touch sister !

Tidak hanya satu peran..!!!

1 Komentar

Suatu hari kedatangan dua orang teman, biasalah ngobrol, ngopi, dengerin musik. Dua orang teman, salah satunya sudah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak. Tiba-tiba gak tahu kenapa teman saya (yang sudah menikah) mengajukan pertanyaan yang ia tulis di sobekan kertas kecil, bunyinya,”Bagaimana caranya agar cinta saat pacaran sama dengan cinta sesudah menikah?”. Membaca tulisan itu saya kaget aja, kok tiba-tiba nanya hal kaya’ gitu. “Nih lu baca tulisan ini!”, jawabku sambil memberikan sebuah tulisan yang pernah saya buat. Dia membacanya, lumayan serius, lalu dia berkata,”Bukan, bukan ini maksudnya”. “Ooooo ya udah kalo gitu”, jawabku singkat. Pembicaraan kembali pada hal-hal ringan, karena saat itu sedang nonton NBA All Star ya udah obrolan gak jauh dari bola basket. Sore hari tiba…. Mereka pulang.

Malam hari, lagi nyantai di kamar dengerin musik tanpa sengaja nemuin kertas kecil yang bertuliskan pertanyaan teman saya tadi siang. Kepikiran juga jadinya… Terlanjur, akhirnya mikir juga deh…….. Ehhmmm bagaimana ya caranya agar kadar rasa cinta senantiasa stabil bersemayam di dalam hati???

…………………………………………………………………………………..

Selain tuntunan yang bersifat normatif dan kesamaan visi & misi dalam menjalin hubungan, sepertinya seorang laki-laki mesti pandai berimprovisasi dalam menjaga kehangatan cinta agar senantiasa indah dan mendamaikan sebuah keluarga yang tengah dibangun. Tentunya improvisasi yang menghasilkan harmoni indah bersandar pada tuntunan keyakinan. Singkatnya improvisasi yang positif. Setiap orang mempunyai improvisasi yang berbeda-beda.

“I’ll be your daddy, your brother, your lover and your little boy” adalah salah satu judul lagu group musik rock favorit saya, MR BIG. Terlepas siapa dan bagaimana karakter personil MR BIG saya telah terinspirasi oleh judul lagunya untuk menjawab pertanyaan teman saya.

“Bagaimana caranya agar rasa cinta pada saat awal hubungan sama dengan rasa cinta setelah menikah”.

Menurut saya seorang lelaki sebaiknya mampu memerankan “peran” yang tepat dalam setiap situasi dan kondisi yang berbeda. Tidak bijak jika hanya satu pola sikap atau peran yang ia “mainkan”. Sikapnya pada pasangan yang ia cintai akan lebih baik jika disesuaikan dengan kondisi psikologis atau sikap sang istri.

Misalkan jika istri sedang datang ngambeknya, timbul sifat kekanak-kanakannya dan berbuat kesalahan maka sang suami lebih baik bersikap bijaksana layaknya seorang AYAH yang tengah menghadapi anak wanitanya yang perlu di”dewasa”kan, menasehatinya dengan “nuansa kebapakan” yang bijak, mengarahkan tanpa terkesan menggurui.

Jika sang istri sedang punya masalah dengan keluarga atau kerabat terdekatnya kenapa tidak suami berperan seperti seorang KAKAK atau ADIK tempat ia curhat dan meminta dukungan dalam menghadapi masalah, bersikap seperti kakak yang siap membantu dan mendukungnya.

Jika sang istri sedang timbul manjanya, timbul “narsis”nya (narsis positif lho) ya sudah jadilah seorang KEKASIH yang mampu memanjakannya dan memujinya, menyenangkan hatinya, melambungkan angannya hingga menyentuh awan.

Jika sang istri sedang timbul “wibawa”nya, lagi “jaim” pokoknya lagi “sok dewasa dan sok berkuasa” ya sudah suami tidak perlu merasa tersaingi, biarkan saja, kenapa gak suami bersikap seperti ANAK KECIL yang nakal, yang sedang ngeledekin ibunya, udah gitu nanti istri kan marah tuh…. Jika sudah marah ya sudah minta maaf deh kalau perlu pake “nangis bo’ongan”, minta maafnya jangan formal-formal banget, ya kaya’ anak kecil minta maaf, pake bahasa-bahasa lucu nantikan istri ketawa tuh… kalo udah ketawa selanjutnya terserah deh….

Maaf jika solusinya kurang tepat, maklum aja ini kan hanya salah satu alternatif bentuk improvisasi. Lagi pula yang namanya improvisasi beda-beda dikit bahkan beda sama sekali gak apa-apa yang penting tujuannya yaitu menciptakan harmoni indah. Intinya sih jangan memainkan peran yang itu itu aja, gak lucu kan kalau istri lagi ada masalah sikap kita seperti orang yang baru jatuh cinta, merayu, muji-muji dengan pujian “basi” yang gak bisa menyelesaikan masalah. Gak lucu juga jika istri membuat kesalahan kita biarkan, malah sikap kita seperti orang yang baru jatuh cinta dengan cinta buta, bukannya menasehati malah memuji dan bersikap mesra, jika peran itu yang dimainkan kapan istri dapat memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Demikian, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika tulisan ini tidak tepat guna dan pembaca tidak sependapat dengan saya. Maaf, maaf, maafkan aku teman, hanya sebatas ini yang bisa aku berikan untuk menjawab pertanyaanmu. Ajari aku agar dapat menjadi lelaki yang baik.

Dedicated to : my drumer at Alma.

Problem..??? No Problemo..??

Tinggalkan komentar

“Sekali… dua kali… tiga kali… gua diemin lu masih gitu-gitu aja, gak berubah sama sekali, mau lu apa sih? Gimana sih lu jadi orang?”, kalimat ini biasanya terlontar dari orang-orang yang kesabarannya hampir atau bahkan telah habis dalam menghadapi orang yang telah mengecewakannya. Kerap terjadi hal seperti itu, kalau mau gampang dan tidak mau pusing. “Just take it or leave it”. Tetap pertahankan hubungan atau tinggalkan. Itu pilihan dangkal yang biasanya disertai dengan emosi yang masih bersarang di dalam hati. Jika hubungan akhirnya putus dikarenakan satu pihak atau lebih telah mengecewakan pihak lainnya maka semuanya berada pada posisi yang kalah. Mungkin saja itu pilihan yang tepat untuk sementara waktu. Tapi, bijakkah keputusan itu? Efektifkah keputusan itu untuk hasil atau maslahat jangka panjang?

Ada baiknya sebelum kita “menghakimi” orang lain yang telah mengecewakan kita ada proses analisa yang bertujuan untuk mengetahui kenapa orang tersebut telah mengecewakan kita. Jika ada kecewa kemungkinan terbesar adalah adanya problem. Menurut teori, problem adalah (adanya) perbedaan antara das sollen (yang seharusnya) dan das sein (yang nyata). Jika kita kaji teori problem ini maka kemungkinan ada perbedaan persepsi tentang das solllen dan das sein di antara pihak yang “mengecewakan” dan pihak yang “dikecewakan”. Jika ini yang terjadi maka perlu pembicaraan panjang antara ke dua belah pihak agar mempunyai persepsi yang sama tentang das sollen dan das sein pada peristiwa “mengecewakan” yang terjadi.

Proses tersebut sebaiknya disertai dengan nil amarah, keinginan untuk memberikan yang terbaik dan tentunya sabar dan mau mendengar, bukan saja mendengar dengan telinga tapi dengan hati. Akan lebih baik lagi jika suasana direkayasa sedemikian rupa hingga masing-masing pihak merasa nyaman. Lucu juga jika diiiringi dengan musik atau secangkir kopi atau teh (minuman favorit masing-masing pihak, asal jangan minuman keras!!!). Jika sudah nyaman, baru deh dibicarakan semuanya, dan yang perlu diingat jauhkan bensin atau zat-zat mudah terbakar lainnya, khawatir akan terbakar jika terkena “panas”nya emosi yang mungkin timbul. (Hehehe gak lucu ya..?). Demikian. Kesimpulannya jangan melakukan “pembicaraan panas” di pom bensin. Kenapa? Ya sulitlah…. kan banyak kendaraan yang mau isi bahan bakar.

Nah sekarang mari kita kaji kemungkinan-kemungkinan penyebab sesuatu yang mengecewakan terjadi dan solusi bijaknya (Bijak menurut saya jika tidak sependapat dengan pembaca maafkan saya, dan harap maklum jika solusi yang dihadirkan kurang tepat).

Kemungkinan Pertama.

Kemungkinan pertama adalah adanya satu pihak atau lebih yang tidak amanah, walau masing-masing pihak mempunyai persepsi yang sama tentang das sollen & das sein namun jika ada pihak yang tidak amanah maka akan ada pihak yang dikecewakan. Jika ini yang terjadi maka diperlukan proses penyadaran terhadap pihak yang tidak amanah dan kesabaran dari pihak yang dikecewakan. Pihak yang dikecewakan sebaiknya mau menganalisa atau setidaknya mendengar mengapa terjadi penyimpangan terhadap suatu amanah. Tentunya akan sangat lebih baik jika dilakukan tanpa amarah.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan orang tidak amanah. Mungkin ada situasi dan kondisi mendesak yang membuat seseorang tidak amanah. Mungkin keterbatasan kemampuan dan wawasan hingga orang tidak amanah. Mungkin di dalam hatinya sebenarnya tidak berniat untuk tidak amanah namun keadaan yang tidak kondusif membuat dia bersikap tidak amanah.

Mungkin……. Mungkin……… Mungkin…….

Pokoknya banyak deh kemungkinannya, karena itu pihak yang dikecewakan sebaiknya mendengar dengan hati dan menganalisanya dengan baik, setelah itu baru deh mengambil sikap, dan pihak yang tidak amanah pun sebaiknya jujur dalam mengungkapkan kondisi sebenarnya, dan ucapkan maaf sebagai janji untuk tidak mengulanginya lagi di waktu yang akan datang.

Sekali lagi, rekayasa suasana sebaiknya dilakukan agar hasilnya relatif lebih baik dan maksimal.

Kemungkinan Kedua

Masing-masing pihak merasa benar sehingga adu mulut terjadi dengan serunya, ke dua belah pihak telah mengecewakan dan dikecewakan bersamaan. Bahkan dalam “sinetron” hingga melibatkan mahluk lain seperti gelas, piring, asbak, kursi, meja yang beterbangan, lebih hebat lagi kalo di film kartun; mobil, kereta api, rumah bahkan apa saja bisa terbang. Jika ini yang terjadi (masing-masing pihak merasa benar) sepertinya selain perlu adanya “rekayasa suasana”, rehat sesaat, pihak yang bertikai perlu menghadirkan pihak ketiga yang dianggap lebih bijak untuk melerai mereka. Karena tanpa pihak ketiga “pertandingan” akan berjalan alot. Walau bisa saja masalah selesai namun akan terjadi adu debat yang luar biasa rame karena masing-masing pihak akan mengeluarkan argumentasi disertai referensi yang saling menguatkan. Walaah pkoknya rame deh.

Peran pihak ketiga ini bukan memutuskan siapa yang salah atau siapa yang benar, pihak ketiga hanya mengarahkan agar segenap pihak mampu menempatkan segala sesuatunya secara proporsional.

Kemungkinan Ketiga

Tidak ada pihak yang tidak amanah. Pihak yang dianggap telah mengecewakan tidak merasa bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang membuat pihak lain kecewa, bahkan ia merasa telah melakukan segalanya dengan maksimal. Namun demikian pihak lain merasa telah dikecewakan. Jika ini yang terjadi, kemungkinan penyebabnya adalah pihak yang merasa dikecewakan mempunyai standard nilai yang lebih tinggi terhadap suatu “urusan” dibandingkan dengan pihak yang dianggap telah mengecewakan.

Bisa juga pihak yang dianggap mengecewakan benar-benar “oneng” terhadap suatu urusan walaupun sebenarnya standard nilai pihak yang dikecewakan biasa-biasa aja, ya standard lah…. Dalam kasus ini kita bisa belajar atau amati dari “sinetron komedi” yang tengah marak di stasiun televisi tanah air. Jika ini yang terjadi sekali lagi perlu adanya proses pembelajaran dari pihak yang relatif lebih “pintar”. Jika pihak yang lebih pintar marah-marah maka secara otomatis ia menjadi orang yang tidak bijak bahkan bisa jadi “oneng” juga. Gak percaya? Liat aja Bajuri suaminya Oneng, Bajuri akan terlihat “oneng” jika dia tidak bisa ngadepin ke”oneng”an Si Oneng. Oya ada lagi, Sasya… sekretaris Pak Taka? Temen kerjanya Gusti dan Pak Hendra? No Comment…. sepertinya tidak akan pernah ada deh sosok Sasya dalam dunia nyata…. Sasya… Sasya…. Kok bisa sih kaya’ gitu ?

Di mana posisi kita jika ada suatu masalah?. Kita bisa saja ”berperan” sebagai pihak yang mengecewakan pada suatu waktu dan pada waktu yang lain menjadi pihak yang dikecewakan. Posisi-posisi tersebut mungkin pernah dan bahkan akan kita alami. Yang terpenting dalam setiap posisi yang kita alami, sikap bijak, sabar dan mau mendengar serta keinginan untuk menjadi yang lebih baik perlu dijadikan prioritas sikap dalam keseharian kita.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca dan jika ada kemungkinan-kemungkinan lain harap tulisan ini disempurnakan hingga kebijaksanaan tercipta di antara kita.

“a wisdom is a process. Keep believe my friends”

Older Entries

%d blogger menyukai ini: