Sewaktu masih sekolah atau kuliah berkumpul dengan teman-teman yang mempunyai visi dan misi yang sama biasanya terlahir satu bahkan beberapa ide kreatif, dan biasanya ide yang lahir secara spontan mempunyai tingkat orisinalitas yang tinggi. Namun tatkala masing-masing memasuki dunia kerja atau usaha, dan frekuensi pertemuan semakin berkurang, ide kreatif jarang muncul bahkan tidak muncul sama sekali. Masing-masing orang telah sibuk dengan kegiatan atau rutinitas masing-masing, dan yang paling mengenaskan pada sebagian besar orang “idealisme masa muda” hilang entah kemana ditelan oleh rutinitas sehari-hari. Hari-hari dalam hidup sepertinya sudah tertata secara permanen, bagi yang bekerja ; bangun pagi – kerja – pulang – istirahat – tidur dan seterusnya, demikian kurang lebih siklusnya. Kalaupun libur, biasanya diisi dengan istirahat di rumah atau jika waktu benar-benar senggang dan ada uang lebih pergi ke Mal atau rekreasi bersama keluarga. “Idealisme masa muda” benar-benar hilang kalaupun masih ada, optimisme untuk mewujudkannya hanya ada pada level 3 (skala 1-10).

Mengapa bisa terjadi ??? Entahlah.???

Saat inipun saya mengalami hal seperti itu. Sepertinya butuh keberanian ekstra untuk menyelaraskan “idealisme masa muda” dengan rutinitas “wajib” kita sehari-hari. Idealnya sih dua kubu tersebut dapat berjalan beriringan. Namun kalau ternyata sangat bertentangan dan tidak bisa diselaraskan maka kita akan dihadapkan pada dua pilihan. Hidup dengan rutinitas (yang pada sebagian orang) permanen dan itu-itu saja atau hidup dalam mewujudkan “idealisme masa muda” yang penuh tantangan dan warna.

Mana yang lebih baik..???

Jawaban untuk pertanyaan ini berbeda-beda bagi tiap orang, tergantung pada skala prioritas dalam hidup masing-masing individu. Dalam hal ini tidak ada keputusan yang salah atau benar, yang ada adalah sejauh mana keputusan kita dapat menghasilkan manfaat yang maksimal bagi diri kita, orang terdekat kita dan lingkungan sekitar.

Sungguh betapa bahagia seseorang yang mampu hidup dalam mewujudkan “idealisme masa muda” dan dapat memberikan hasil yang maksimal dan perubahan positif dalam prosesnya. Namun sungguh merugi orang yang hidup dalam mewujudkan “idealisme masa muda” yang negatif, idealisme yang tidak mampu mengantarkan diri pada perbaikan kualitas diri yang positif. Dan lebih rugi lagi seseorang yang sebenarnya mempunyai potensi besar yang dapat memberikan kontribusi positif yang berlimpah bagi dirinya, keluarga, kerabat dekat dan lingkungannya namun enggan bahkan takut untuk mengembangkan potensinya.

Maaf, tulisan ini hanya ingin mengingatkan agar saya dan pembaca tidak “membunuh” potensi kita dalam melahirkan ide-ide kreatif yang positif. Lahirkan dan wujudkan ide kreatif kita, syukur-syukur jika dapat menghasilkan sesuatu yang lebih untuk keluarga.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

Dedicated to :

1. my bands ; Al Farabi, Alma, Bizinks. Where are you guys..???

2. Generasi Bumi Foundation.I miss our spirit…..!!!