Brongges adalah istilah dari nenek saya yang menggambarkan suatu kondisi di mana seseorang tidak memiliki uang sama sekali. Istilah tersebut selalu terucap dari nenek saya jika beliau melihat gelagat saya (kala masih sekolah) yang mau minta uang kepada beliau karena kehabisan uang jatah dari orang tua. Karena istilah tersebut terdengar lucu di telinga saya maka’nya saya sering tertawa jika mendengar nenek saya mengucapkan kata “Brongges” di hadapan saya yang tengah kehabisan duit dan ingin meminta kepada beliau. Namun demikian beliau tidak pernah marah dan tetap memberikan saya uang secukupnya.

Peristiwa itu sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun yang lalu namun masih saja terbayang dengan sangat jelas. Setelah sekian lama berlalu nenek telah tiada. Suatu saat saya mengalami “pailit’ kehabisan “duit”, bener-bener kepepet deh, banyak pengeluaran yang wajib namun pendapatan sedikit sekali “tidak cukup”. Dalam keadaan seperti itu, datang seorang teman ngajak jalan, saya berkata kepada dia,”Wah sori gua gak bisa….. Gua lagi BRONGGES !!!”. Teman saya heran dan bertanya, “Brongges..??? Apaan tuh.???”. Saya tertawa senang melihat teman saya kebingungan.

Lalu saya ceritakan “sejarah” kata Brongges dan diapun tertawa ngakak. Semenjak itu, istilah tersebut jadi ngetrend di kalangan teman-teman dekat saya di rumah.

Luar biasa ya nenek saya… walaupun sekarang beliau telah tiada namun beliau tetap dapat menghibur di kala saya pailit kehabisan duit.

Jadi…??? Brongges..??? No Problemo. Tetap yakinkan diri bahwa rejeki itu senantiasa “ngikutin” kebutuhan kita asal jangan membutuhkan sesuatu yang sebenarnya kita tidak butuh. Bahasa kerennya….. Proporsional dalam menyikapi keinginan. Skala prioritas dalam “belanja” pemenuhan kebutuhan sebaiknya dilakukan dengan bijak, bukan karena rasa ingin memiliki.

Demikian, mohon maaf jika terkesan menggurui. Saya hanya ingin berbagi cerita.

Terima kasih nenek ku sayang………