Sering kali mendengar atau membaca kalimat “Kehidupan yang normal”. Apa yang terbayangkan jika mendengar kalimat tersebut ?. Sebagian dari kita akan membayangkan kehidupan yang “lurus” tanpa adanya masalah yang “njlimet” (bahasa Jawa yang artinya kurang lebih seperti istilah benang kusut). Terbayang “lurus”nya proses hidup ; lahir – ada orang tua yang mendampingi – sekolah – bermain – jadi dewasa – bekerja atau usaha – berkeluarga – punya anak, dan seterusnya tanpa mengalami banyak tangis dan nestapa. Walaupun ada masalah namun bukanlah masalah besar. Kehidupan normal sering diartikan hidup tanpa masalah berarti. Demikian (menurut penulis) yang ada di benak kebanyakan orang. Bahkan diri saya pun kerap “terjebak” dengan paradigma tersebut. Terkadang saya berkata, “Duuh gua lagi banyak masalah yang bikin kepala gua mau pecah, ingin rasanya ngejalanin hidup yang normal seperti orang lain”. Dengan berkata seperti itu saya telah menghakimi diri saya sendiri, tanpa saya sadari paradigma seperti itu membawa saya pada proses pelemahan mental dan merendahkan kadar kebijaksanaan diri.

Kadar kebijaksanaan…???

Maaf nih bukannya menggurui, sudah tahu belum arti bijaksana? Yang dimaksud bijaksana adalah ketepatan dalam memilih kemungkinan yang utama dari beberapa kemungkinan, juga mengharuskan penguasaan atau keahlian dalam melaksanakannya. Dari definisi bijaksana tersebut maka sangat wajar jika tingkat kebijkasanaan tiap orang berbeda-beda, bergantung pada seberapa banyak ia memiliki alternatif positif dan ketepatan dalam memilih alternatif yang paling efektif dalam hidupnya. Demikian kurang lebihnya.

Kembali ke pembicaraan “hidup normal”.

Menurut pendapat saya saat ini, yang namanya hidup normal tidak sama untuk semua orang. Saya mendefinisikan hidup normal sebagai kehidupan yang positif. Apapun yang kita alami; senang, susah, tawa, tangis dan berbagai macam perasaan lainnya jika kita mampu meningkatkan kualitas diri, mampu mengambil hikmah dari tiap kejadian yang kita alami maka kita telah menjalani kehidupan yang positif, kita telah hidup normal. Dengan definisi tersebut orang yang kehidupannya “normal” menurut pandangan orang banyak belum tentu menjalani hidup yang normal jika orang tersebut tidak mampu meningkatkan kualitas maupun kebijaksanaan dirinya. Dan orang yang nampak menjalani kehidupan “tidak normal” dalam pandangan umum (karena banyak mengalami “perubahan-perubahan iklim” yang ekstrim dalam hidupnya) belum tentu tidak menjalani kehidupan normal jika ia mampu memperbaiki kualitas dan kebijaksanaan dirinya.

Nah jika definisi POSITIF kehidupan normal tersebut kita sepakati maka mulai sekarang mari bersama-sama berkata, “Hidup saya normal”. Dengan pernyataan tersebut, dengan sikap jiwa yang positif kita menstimulus diri kita untuk senantiasa tenang dan

siap dalam menghadapi berbagai macam “iklim kehidupan”. Dengan ketenangan dan kesiapan jiwa maka secara psikologis proses pencarian berbagai alternatif penyelesain masalah akan berjalan baik, semoga kita dapat tepat menentukan pilihan dari

berbagai alternatif yang ada. Jika sudah demikian maka kita akan senantiasa berproses untuk menjadi manusia yang bijaksana dan jika sudah jadi manusia yang bijaksana tidak perlu sesumbar, ”Woiii gue nih manusia bijaksana yang patut jadi panutan dan pimpinan kalian”. Karena menurut saya yang namanya manusia bijaksana itu tidak berbicara sekalipun orang lain sudah tahu. Lagi pula semakin kita bijak, semakin tenang dan “pendiam” diri kita.

Demikian. Jadi bagaimana..??? Sependapatkah Anda dengan saya?. Jika tidak sependapat yaaaa maafin saja, namanya juga manusia.