Push To The Limit versus Ojo Ngoyo

Push to the limit, suatu istilah dalam bahasa Inggris yang sering digunakan untuk memotivasi seseorang atau kelompok agar mampu mengerahkan segenap daya upaya dalam mencapai target yang telah disepakati. Istilah ini kerap hadir dalam rapat atau pertemuan dengan rekan kerja di perusahaan atau organisasi.

Ojo ngoyo adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti “jangan memaksakan diri”. Istilah ini biasanya dilontarkan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda. Bukan untuk mematahkan semangat (walau terkadang itu yang terjadi) namun untuk mengingatkan agar bersikap proporsional dalam mencapai tujuan. Istilah ini kerap hadir dari mbah (bahasa Jawa artinya Nenek) dan ibuku tercinta jika mereka melihat diriku sudah mulai sering tidur larut karena mengerjakan sesuatu yang aku senangi.

Push to the limit & Ojo ngoyo dua istilah yang sangat berbeda. Berbeda dari segi apapun, dari tempat asalnya, artinya dan tujuan dari istilah tersebut, semua berbeda.

Push to the limit & Ojo ngoyo dua istilah berbeda yang kudapati di tempat yang berbeda pula.

Istilah mana yang lebih baik? Jawabnya tergantung pada situasi dan kondisi serta siapa yang mengatakan dan motivasi orang yang mengatakannya.

Kedua istilah tersebut jika diucapkan pada waktu dan tempat yang tidak tepat maka hasilnya menurut saya akan berantakan atau minimal akan merusak suasana.

Bayangkan jika dalam suatu pertandingan sepakbola sang pelatih berbicara pada teamnya seperti ini,”Sudahlah kalian ojo ngoyo!”. Apa yang akan terjadi?. Team mungkin aja menang mungkin kalah, namun kemungkinan terbesarnya team kaget, mental atau semangat biasa-biasa aja, jika team lawan memiliki kemampuan yang sama dengan semangat tinggi kemungkinan “team ojo ngoyo” akan kalah.

Bayangkan jika saya sudah terkantuk-kantuk, mata sudah “lima watt”, badan lemes, bener-bener butuh istirahat namun ibuku tercinta ngomong kaya’ gini,”Ayo Rie, push to the limit!”. Apa yang akan terjadi?. Kemungkinan besar yang terjadi adalah besoknya aku masuk rumah sakit, hasil gak maksimal dan bingung kenapa ibuku memberikan motivasi dengan bahasa inggris.

Kesimpulannya..??? Ya sudah seperti itu. Sepertinya perumpamaan di atas sudah jelas banget kan. Ya gak..?!

…………………………………………………………..

“Sepertinya asik nih memadukan sesuatu yang benar-benar berbeda, hasilnya bisa unik nih!”, gumamku kalo lagi iseng. “Nah, sepertinya bakalan asik juga nih memadukan “Push to the limit dan Ojo ngoyo”, siapa tahu jadi bahasa baru (English – Jawa), bisa jadi bahasa LishWa, atau EngJa atau EngWa…. ehhmmm lucu juga.. Tapi..??? gak tucu ah… gak keren sama sekali”, gumamku dalam hati.

Mau tahu yang kerennya? Yang keren itu kalau kita merasa keren, dan saya merasa keren di kala saya mampu mendinginkan isi kepala, menjaga suasana hati tetap damai dan tenang pada saat mengerahkan segenap kemampuan saya dalam mencapai sesuatu yang positif. Bahasa singkatnya adalah saya merasa keren di kala “Ojo ngoyo” pada saat “Push to the limit”.

Bahasa saya berantakan ya? Ngebingungin ya? Sama dong…. saya juga bingung dengan bahasa saya sendiri. Ya sudah lah…. yang penting keep Ojo ngoyo when you push your self to the limit.

“See you at the vertical limit my friends”