Cerita di bawah ini adalah fiktif !!!

Ba’da Ashar di sebuah masjid yang teduh terlihat seorang anak muda yang menggunakan kaos oblong warna hitam yang sudah tidak lagi berwarna hitam (mendekati abu-abu karena lusuh) dan bercelana jeans yang hampir robek pada bagian lututnya, ia tengah asyik merokok, wajahnya teduh dan masih basah oleh air wudhu. Sepertinya ia baru saja selesai sholat. Paras wajahnya enak dilihat, ada jenggot dan cambang yang sengaja dibiarkan tumbuh liar.

Di tengah keasyikannya menghisap rokok ia dihampiri oleh pemuda (sebaya dengan dia) yang berpenampilan sangat rapih, berkemeja, bercelana berbahan halus, yaaa seperti orang kantoran lah, jenggot pemuda “rapih” ini tidak selebat jenggot pemuda lusuh tadi.

Sesaat diam, pemuda “rapih” ini tiba-tiba berkata pada pemuda “lusuh”. “Maaf mas, kalo di masjid tidak boleh merokok!”, pemuda rapih menegur dengan intonasi medium (gak nyampe bentak-bentak sih). “Oh maaf mas tadi habis sholat mulut saya asem banget pengen ngerokok”, jawab pemuda lusuh sambil mematikan rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu pemuda rapih kembali menasehati,”Mas lain kali kalo sholat kita sebaiknya mengenakan pakaian yang rapih dan bersih, masa’ sih menghadap Alloh pake pakaian kaya’ gini. Bukannya nasehatin nih mas, merokok itu gak baik buat kesehatan dan makruh hukumnya bahkan ada yang berpendapat haram”. “Iya mas, terima kasih atas nasehatnya”, jawab pemuda lusuh dengan sopan. “Seperti saya nih mas dari dulu gak pernah ngerokok, lagian uangnya kan bisa ditabung daripada buat beli rokok”, tambahan nasehat keluar dari mulut pemuda rapih. Sang pemuda lusuh hanya senyum dan sesekali menjawab “Iya mas” mendengar nasehat dari pemuda rapih. Di mata pemuda rapih ini, pemuda lusuh yang ia nasehati adalah sosok pemuda yang tidak ideal sama sekali jauh dari ideal yang ada di benaknya.

Sesaat diam, mereka tetap duduk berdekatan, ekspresi pemuda lusuh tenang-tenang saja sedangkan ekspresi pemuda rapih masih bersemangat untuk menasehati bahkan terkesan menghakimi pemuda lusuh.

Hening sesaat……. “Ngomong-ngomong nama mas siapa?” Nama saya Inal mas”, si pemuda lusuh berkata memecah keheningan sembari menyodorkan tangan untuk bersalaman kepada pemuda rapih. “Oh… nama saya Bukhari, ayah saya menamakan saya dengan Bukhari karena beliau kagum dengan seorang ulama ahli hadits yang bernama Imam Bukhari. Ngomong-ngomong nama kamu kok gak umum ya…. Inal??? Artinya apa ya?”, pemuda rapih menjawab pertanyaan singkat pemuda lusuh dengan jawaban yang sangat panjang disertai pertanyaan. “Gak tahu mas Inal artinya apa?”, jawab pemuda lusuh santai. “Lagi pula Inal itu nama panggilan saya aja kok”, si pemuda lusuh menambahkan jawabannya.

Belum sempat Si Inal menyebutkan nama lengkapnya Si Bukhari ini kembali menasehati Inal,”Begini Nal, nama seseorang itu sangat penting artinya dalam hidup seseorang. Jadi kalo nama kita gak bagus dan gak punya makna kita boleh kok menggantinya dengan nama yang baik dan mempunyai makna. Kita jangan terjebak dengan istilah “barat” apa artinya sebuah nama…. Nama kita harus mencerminkan aqidah kita.!!!”. Si Inal mendengarkan dengan serius sesekali menganggukkan kepala. Raut wajah Bukhari pun serius, ia bergumam dalam hati, “Hebat juga nasehat gue. Si Inal aja dalam waktu singkat sudah mulai mendengarkan nasehat-nasehat gue. Memang Si Inal ini bener-bener “berantakan” banget orangnya”

Hening sesaat………. Tiba-tiba datang seorang pemuda rapih lain yang usianya nampak lebih tua dari mereka berdua. “Asalamualaikum, pakabar Nal, pakabar Bukhari”, pemuda dewasa ini mengucapkan salam, ternyata dia kenal dengan Inal dan Bukhari. “Wa’alaikum salam”, jawab Inal dan bukhari serempak. “Kabar saya baik Bang Zul, Bang Zul sendiri gimana? Semoga Alloh senantiasa memberikan kebaikan dan hikmah kepada Bang Zul”, jawab Si Inal sembari menanyakan dan berdoa untuk Bang Zul. Sementara Bukhari hanya menjawab dengan singkat pertanyaan Bang Zul, “Alhamdulillah saya baik baik aja Bang”.

“Waahhh berkah sekali hari ini, ternyata kamu teman Inal juga ya Bukhari?”, tanya Bang Zul kepada Bukhari. “Iya Bang, saya baru aja kenal sama Inal”, jawab Bukhari. “Syukur deh. Oh ya Bukhari boleh gak abang kasih saran?”, tanya Bang Zul. “Boleh banget”, jawab Bukhari. “Kamu mesti bersyukur bisa kenal dengan Inal, karena banyak pelajaran tentang kebulatan tekad dan prestasi dalam mengubah menuju yang lebih baik yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Si Inal ini”, kalimat tersebut diucapkan Bang Zul dengan pelan namun pasti. “Nal gak apa apa kan kalo Abang menceritakan sedikit tentang kamu kepada Bukhari?” Bang Zul meminta ijin kepada Inal. “Duuhhhh… gimana ya Bang… Saya jadi gak enak nih Bang”, jawab Inal sepertinya ragu-ragu.

“Begini Bukhari, dulu Si Inal ini bengaaaaaaaal banget, jarang ada di rumah, sering mengembara ke daerah-daerah yang jauh, suka minum miras dan ngisap ganja. Tapi walaupun gitu dia gak pernah sombong dan baik hati sama semua orang. Bang Zul kenal dia dari kecil. Alhamdulillah setelah dia beranjak dewasa dia berubah. Dia telah bertekad untuk menjadi anak yang shaleh, awalnya memang dia berat sekali meninggalkan kebiasaan buruknya namun dengan kebulatan tekad ia mampu melepaskan diri dari miras dan ganja. Sekarang Abang dan Inal tengah membangun proyek sosial untuk memberikan pendidikan keahlian seperti kursus komputer, bahasa asing, dan iqra bagi anak-anak yang kurang mampu. Sekarang dia lagi mengadakan penelitian sosial tentang anak-anak “tongkrongan”, jadi untuk lebih menyelami dan lebih diterima oleh anak-anak tongkrongan dia berpenampilan seperti ini. Ya gak terlalu sulit lah buat Si Inal, kan dulunya dia juga anak tongkrongan. …… Udahan dulu ya ceritanya, nanti Abang sambung lagi, Abang mau sholat dulu nih, tadi rada macet di jalan jadi gak bisa sholat tepat waktu deh”, Bang Zul menutup pembicaraannya sambil berjalan menuju tempat wudhu. “Oh ya Nal, Bukhari, kalian sudah sholat?” tanya Bang Zul. Si Inal hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Bang Zul. Bukhari tersentak kaget. “Be…be… belum Bang”, jawab Bukhari dengan gugup. “Ya sudah, ayo kita sholat berjamaah!”, ajak Bang Zul kepada Bukhari.

“Bang maaf saya gak bisa nunggu Abang, saya mau langsung jalan”, Si Inal berkata kepada Bang Zul.”Ya udah gak apa apa Nal”, jawab Bang Zul. “Oh ya Mas Bukhari, nama lengkap saya Zayn Al Abidin Duta Pratama Aryadara…. Asalamualaikum”, Si Inal memberi tahu nama lengkapnya kepada Bukhari karena tadi ia tidak diberi kesempatan untuk memberitahukannya sembari mengucapkan salam. “Wa’alaikum salam”, jawab Bang Zul dan Bukhari serempak. Si Inal melangkah dengan tenang keluar masjid sementara Bang Zul berwudhu, Si Bukhari masih terpana melihat Si Inal yang melangkah keluar masjid.

Demikian cerita fiktif ini saya akhiri. Nyambung gak sih dengan judulnya, SAMA tapi BEDA..???

Begini, maksud dari cerita ini sebenarnya mengungkapkan fenomena yang kerap terjadi. Satu orang yang SAMA mungkin mempunyai nilai yang BEDA, tergantung pada siapa yang menilainya dan sejauh mana pengenalan orang yang menilai terhadap orang yang dinilainya.

Menurut pendapat saya saat ini, ada baiknya sebelum kita menilai orang lain lebih baik kita mau mengenalnya lebih dulu secara mendalam. Tidak perlu waktu lama sih untuk mengenal orang lain secara mendalam, yang penting menurut saya adalah ketulusan dalam berkomunikasi, dengan komunikasi yang tulus Insya Alloh kita akan dapat mengenal orang dengan baik. Lebih banyak mendengar dari pada berbicara adalah salah satu kiat yang patut dipertimbangkan.

Demikian, mohon maaf jika kurang berkenan dan tidak sependapat dengan pembaca.

Dedicated to : “teman dewasaku”.

Thanks for all wise story that you ever gave to me.